Apa Saja yang Tidak Termasuk dalam Kekuatan Ekonomi Digital Indonesia?
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Sen, 19 Jan 2026
- visibility 145
- comment 0 komentar

Ekonomi digital Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang pesat, menjadikannya sebagai salah satu kekuatan utama di kawasan Asia Tenggara. Dengan nilai penjualan atau Gross Merchandise Value (GMV) yang diperkirakan mencapai 90 miliar dollar AS pada tahun 2024, dan akan meningkat menjadi hampir 100 miliar dollar AS pada 2025, ekonomi digital Indonesia memperkuat posisinya sebagai pasar terbesar di kawasan.
Namun, meskipun pertumbuhan ekonomi digital sangat signifikan, tidak semua aspek atau sektor bisa dikategorikan sebagai bagian dari kekuatan ekonomi digital Indonesia. Berikut adalah beberapa hal yang tidak termasuk dalam kekuatan ekonomi digital Indonesia.
1. Sektor Pertanian Tradisional

Meskipun pertanian merupakan tulang punggung ekonomi nasional, sebagian besar sektor ini masih bergantung pada metode tradisional dan kurang memanfaatkan teknologi digital secara maksimal. Meski ada inisiatif seperti digitalisasi pertanian melalui aplikasi dan platform, sebagian besar aktivitas pertanian belum sepenuhnya terintegrasi dengan ekosistem digital.
2. Sektor Industri Manufaktur Konvensional

Sektor industri manufaktur yang beroperasi dengan metode konvensional, tanpa adanya integrasi dengan sistem digital seperti IoT, AI, atau data analytics, tidak dapat dikategorikan sebagai bagian dari kekuatan ekonomi digital. Meskipun ada upaya untuk mengadopsi industri 4.0, sebagian besar perusahaan manufaktur masih menggunakan model lama.
3. Transaksi Non-Digital
![]()
Transaksi yang dilakukan secara tunai atau melalui metode non-digital, seperti pembayaran langsung tanpa penggunaan aplikasi atau platform digital, tidak masuk dalam kategori kekuatan ekonomi digital. Meskipun tren digital payment semakin meningkat, masih banyak masyarakat yang lebih nyaman menggunakan uang tunai.
4. Layanan Jasa yang Tidak Terhubung dengan Platform Digital
Layanan jasa seperti jasa tukang, tukang cuci mobil, atau layanan kebersihan yang tidak terdaftar dalam platform digital juga tidak termasuk dalam kekuatan ekonomi digital. Meskipun layanan tersebut memiliki nilai ekonomi, mereka belum terintegrasikan dalam sistem digital yang terukur dan terpantau.
Penutup
Kekuatan ekonomi digital Indonesia terdiri dari sektor-sektor yang telah mengadopsi teknologi digital secara penuh, seperti e-commerce, layanan keuangan digital, media online, dan transportasi daring. Namun, ada beberapa aspek yang belum sepenuhnya terlibat dalam ekosistem digital, seperti sektor pertanian tradisional, industri manufaktur konvensional, transaksi non-digital, dan layanan jasa yang tidak terhubung dengan platform digital. Dengan terus meningkatkan adopsi teknologi dan transformasi digital, Indonesia berpotensi menjadi pemimpin ekonomi digital di kawasan.
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar