Likuiditas Bank yang Cukup untuk Menghadapi Kebutuhan Akhir Tahun
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Kam, 6 Nov 2025
- visibility 329
- comment 0 komentar

Pada akhir tahun, kebutuhan masyarakat akan dana cair meningkat secara signifikan. Mulai dari pembelian hadiah liburan hingga pengeluaran rutin lainnya, kondisi ini sering kali menimbulkan tekanan pada sektor perbankan. Namun, berdasarkan data terkini, likuiditas bank di Indonesia dinilai cukup memadai untuk menghadapi situasi tersebut. Hal ini menjadi kabar baik bagi masyarakat dan pelaku bisnis, khususnya dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Peran Likuiditas dalam Stabilitas Perbankan
Likuiditas adalah kemampuan suatu bank untuk memenuhi permintaan pencairan dana dari nasabahnya tanpa mengganggu operasional intinya. Dalam konteks perbankan, likuiditas sangat penting karena merupakan indikator utama kesehatan keuangan sebuah lembaga keuangan. Jika likuiditas terjaga dengan baik, maka bank akan mampu memberikan layanan keuangan yang optimal kepada nasabah, termasuk dalam menghadapi lonjakan permintaan di akhir tahun.
Menurut laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per November 2024, rata-rata Loan to Deposit Ratio (LDR) industri perbankan mencapai 87,34%. Angka ini mendekati ambang batas atas Giro Wajib Minimum (GWM) BI, yaitu 92%. Meskipun demikian, banyak bank besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) masih berada dalam zona aman dengan LDR masing-masing sebesar 80,6% dan 88,26%.
Langkah Strategis BCA dalam Menjaga Likuiditas
![]()
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berhasil menjaga posisi LDR-nya di bawah ambang batas GWM BI. Pada tahun 2024, BCA mencatatkan LDR sebesar 78,4%, yang sedikit di atas batas bawah GWM BI sebesar 78%. Ini menunjukkan bahwa bank swasta terbesar di Indonesia ini telah mengambil langkah-langkah strategis dalam mengelola likuiditas.
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, menyatakan bahwa LDR rendah tidak selalu berarti bank kurang produktif. Justru, hal ini menunjukkan bahwa bank memiliki cadangan likuiditas yang cukup untuk menghadapi permintaan mendadak dari nasabah atau situasi krisis. “Artinya bagi bank-bank yang [LDR] di atas 90%, ya likuiditasnya memang harus terus diperhatikan, harus dijaga, karena likuiditas is king,” ujarnya.
Peran Surat Berharga Negara dalam Menjaga Likuiditas
Salah satu strategi yang digunakan oleh BCA adalah menempatkan dana yang berlebih dalam instrumen pemerintah seperti Surat Berharga Negara Ritel (SBN) atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hal ini tidak hanya membantu negara dalam pembiayaan APBN, tetapi juga memberikan keuntungan bagi bank dalam bentuk bunga yang relatif stabil.
Jahja menegaskan bahwa partisipasi BCA dalam SBN bukanlah tindakan yang tidak produktif. “Jadi artinya kalau kita partisipasi di situ, bukan kita nggak mau kerja. Artinya kita tahu government juga memerlukan funding. Ya apalagi kalau kita lihat portfolio daripada government bond itu dulunya 38% dari asing. Sekarang hanya 14%. Artinya apa? Perbankan lokal harus siap membantu dan support perkembangan atau kebutuhan APBN kita,” jelasnya.
Tantangan dalam Pengelolaan Biaya Pendanaan

Meski likuiditas dijaga dengan baik, BCA dan bank lainnya masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan biaya pendanaan. Salah satu faktor utamanya adalah tingginya suku bunga surat berharga negara (SBN), yang membuat nasabah lebih memilih menempatkan dana mereka di instrumen pemerintah dibanding deposito bank.
“Nah, kalau itu gap-nya [suku bunga acuan dan suku bunga SBN] masih cukup besar, maka bank juga nggak berani serta-merta menurunkan suku bunga untuk depositonya. Apalagi, apalagi ya, bank-bank yang memang membutuhkan likuiditas pasti nggak akan berani menurunkan time deposit-nya karena risikonya nasabahnya akan pindah ke government bond atau ke bank lain,” ungkap Jahja.
Perkembangan Likuiditas di Bank Lain

Selain BCA, beberapa bank besar lainnya juga telah melakukan upaya serupa dalam menjaga likuiditas. Misalnya, PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan LDR sebesar 92,5% per Februari 2025. Meskipun angka ini mendekati ambang batas GWM BI, manajemen Bank Mandiri menyatakan bahwa mereka fokus pada peningkatan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) untuk menjaga keseimbangan antara kredit dan simpanan.
Sementara itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) juga mencatatkan peningkatan pertumbuhan dana murah (CASA) sebesar 9% di kuartal kedua 2025. Hal ini membantu menjaga rasio likuiditas yang sehat dan menurunkan tekanan terhadap biaya pendanaan.
Kesimpulan
Dengan kondisi likuiditas yang cukup memadai, bank-bank di Indonesia mampu menghadapi kebutuhan akhir tahun tanpa mengganggu stabilitas keuangan. Terlebih lagi, beberapa bank besar seperti BCA dan BRI telah mengambil langkah-langkah strategis dalam menjaga keseimbangan antara kredit dan simpanan. Meskipun masih ada tantangan dalam pengelolaan biaya pendanaan, kebijakan yang diambil oleh bank-bank ini menunjukkan komitmen untuk menjaga kepercayaan nasabah dan menjaga kesehatan sistem perbankan nasional.
Dengan peningkatan pertumbuhan dana pihak ketiga dan pengelolaan likuiditas yang baik, Indonesia semakin siap menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.
Tag:
LikuiditasBank #PerbankanIndonesia #LDR #BiayaPendanaan #SuratBerhargaNegara #BankCentralAsia #BankMandiri #BankDanamon #LikuiditasAkhirTahun
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar