Ekspor Besi dan Baja Tetap Jadi Kontributor Utama Nonmigas di Indonesia
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Kam, 13 Nov 2025
- visibility 153
- comment 0 komentar
Indonesia terus memperkuat sektor industri nonmigas, khususnya dalam bidang ekspor. Salah satu komoditas yang menjadi andalan adalah besi dan baja. Meski menghadapi tantangan dari impor yang masuk secara besar-besaran, sektor ini tetap menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Dalam beberapa tahun terakhir, besi dan baja telah menjadi salah satu kontributor utama dalam meningkatkan nilai ekspor negara.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada September 2020, ekspor nonmigas Indonesia mencapai 14,01 miliar dollar AS. Di antaranya, besi dan baja menjadi salah satu komoditas yang memberikan kontribusi positif. Naiknya nilai ekspor besi dan baja pada bulan tersebut mencapai 266 juta dollar AS, menunjukkan potensi besar sektor ini dalam mendukung perekonomian nasional.
Pemerintah Indonesia juga sadar akan pentingnya sektor baja dalam menjaga stabilitas ekonomi. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk menekan masuknya baja impor yang dinilai mengganggu industri dalam negeri. Salah satu strategi yang diterapkan adalah memperkuat koordinasi antar kementerian serta membuka peluang investasi baru di sektor baja.
“Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Investasi, dan Kementerian Keuangan, terutama Kemenkeu yang ada Bea Cukai di border, yang bisa melakukan pengawasan langsung terhadap barang masuk ke Indonesia,” ujar Faisol.
Strategi ini mirip dengan cara pemerintah dalam menghadapi impor produk tekstil. Penguatan pengawasan di perbatasan diharapkan dapat mengurangi jumlah impor baja yang tidak sesuai dengan standar dan berpotensi merusak pasar dalam negeri.
Selain itu, pemerintah juga menawarkan solusi jangka panjang dengan membuka peluang investasi bagi pelaku industri luar negeri. Faisol menyebutkan bahwa jika industri baja ingin masuk ke pasar dalam negeri, mereka harus berinvestasi di Indonesia dengan membangun pabrik di dalam negeri. Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor yang saat ini mencapai sekitar 11 juta ton per tahun.
“Investasi tentu solusi buat industri baja agar tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri yang memang besar, yang selama ini sebagian itu impor, kira-kira 11 juta ton impor, bisa dipenuhi lebih baik kalau mereka berinvestasi di dalam negeri. Sekaligus juga, selain impor, mereka bisa melakukan ekspansi ke pasar global melalui ekspor,” tambah Faisol.
Minat investor terhadap sektor baja Indonesia sejatinya cukup tinggi. Menurut Faisol, hampir setiap hari perusahaan-perusahaan dari luar datang ke tempatnya maupun Kementerian Investasi untuk menanyakan bagaimana proses investasi bisa dilakukan di Indonesia. Beberapa negara seperti Eropa, China, dan Vietnam bahkan sudah menunjukkan ketertarikan untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
“Ada beberapa negara dari Eropa, dari China, dari Vietnam, yang mau merelokasi pabriknya,” kata Faisol.
Namun, meskipun ada potensi besar, sektor baja Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah adanya praktik perdagangan curang, termasuk subsidi besar-besaran dari negara-negara seperti China. Hal ini membuat industri baja nasional sulit bersaing dengan produk impor murah yang dijual di bawah harga keekonomian.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah perlu memperkuat regulasi dan kebijakan yang mendukung industri dalam negeri. Selain itu, peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi pabrik juga sangat penting agar industri baja bisa lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung pada impor.
Dalam konteks yang lebih luas, krisis industri baja Inggris menjadi peringatan bagi Indonesia. Dengan populasi yang besar dan ambisi menjadi kekuatan industri baru pada 2045, Indonesia tidak bisa lepas dari kebutuhan akan baja dalam skala masif. Namun, saat ini, lebih dari 40 persen konsumsi baja domestik masih dipenuhi oleh impor, meskipun secara nominal kapasitas produksi dalam negeri telah mencukupi.
Artinya, kita tidak hanya menghadapi masalah kekurangan pasokan, tetapi juga masalah struktural berupa kelebihan kapasitas yang tidak produktif dan utilisasi pabrik yang sangat rendah. Oleh karena itu, upaya pemerintah untuk memperkuat sektor baja sangat penting agar Indonesia dapat memiliki fondasi industri yang tangguh dan mampu bersaing di pasar global.
FAQ
Apa manfaat ekspor besi dan baja bagi perekonomian Indonesia?
Ekspor besi dan baja memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan nilai ekspor nasional. Selain itu, sektor ini juga menciptakan lapangan kerja dan mendukung pembangunan infrastruktur serta industri lainnya.
Bagaimana pemerintah menghadapi impor baja yang masuk secara besar-besaran?
Pemerintah memperkuat koordinasi antar kementerian dan memperketat pengawasan di perbatasan. Selain itu, pemerintah juga membuka peluang investasi bagi industri baja asing agar mereka berinvestasi di dalam negeri.
Apa tantangan yang dihadapi industri baja Indonesia?
Salah satu tantangan utama adalah adanya praktik perdagangan curang, termasuk subsidi besar-besaran dari negara-negara seperti China. Selain itu, kapasitas produksi yang belum optimal dan utilisasi pabrik yang rendah juga menjadi kendala.
Bagaimana potensi ekspor besi dan baja di masa depan?
Potensi ekspor besi dan baja sangat besar, terutama dengan proyeksi kebutuhan baja Indonesia pada 2045 yang mencapai 100 juta ton per tahun. Dengan peningkatan kapasitas produksi dan dukungan pemerintah, sektor ini bisa menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Apa rekomendasi untuk meningkatkan daya saing industri baja Indonesia?
Rekomendasi utama adalah memperkuat regulasi dan kebijakan yang mendukung industri dalam negeri, meningkatkan kapasitas produksi, serta memastikan efisiensi pabrik. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat perlindungan pasar dari impor yang tidak sehat.
Tagging
EksporBesiDanBaja #NonMigas #IndustriBaja #EksporIndonesia #PerekonomianNasional #InvestasiBaja #ImporBaja #EksporNonMigas #EkonomiIndonesia
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar