Bank Indonesia Reduces BI-Rate to 4.75% on October 22, 2025: What You Need to Know
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Sab, 15 Nov 2025
- visibility 317
- comment 0 komentar
Pada hari Rabu, 22 Oktober 2025, Bank Indonesia (BI) mengumumkan keputusan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 4,75 persen. Ini merupakan langkah terbaru dalam rangkaian penurunan suku bunga yang telah dilakukan sejak tahun lalu. Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung pada tanggal 21 dan 22 Oktober 2025. Penurunan ini juga diikuti oleh pengurangan suku bunga deposit facility menjadi 3,75 persen dan suku bunga lending facility tetap pada 5,5 persen.
Keputusan ini diambil sebagai bagian dari upaya Bank Indonesia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sambil menjaga inflasi dalam kisaran target 2,5% ±1% untuk periode 2025–2026. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa langkah tersebut bertujuan untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah serta mendorong perekonomian yang lebih sehat.
Langkah Kebijakan Moneter yang Tepat

Penurunan suku bunga BI Rate kali ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang yang dijalankan oleh Bank Indonesia. Sejak September 2024, BI telah melakukan enam kali pemangkasan suku bunga, dengan total penurunan sebesar 150 basis point (bps). Dalam beberapa bulan terakhir, BI juga telah melakukan penyesuaian terhadap suku bunga lainnya, seperti deposit facility dan lending facility, untuk menciptakan lingkungan moneter yang lebih longgar.
Dengan penurunan suku bunga ini, BI berharap dapat mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga pinjaman, sehingga mendorong permintaan kredit dan meningkatkan konsumsi rumah tangga serta investasi. Hal ini sangat penting, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang masih terasa.
Pertumbuhan Ekonomi yang Menjanjikan
Meski ada tekanan eksternal, Indonesia berhasil menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat. Pada kuartal kedua tahun 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1% secara tahunan, yang merupakan tingkat pertumbuhan tercepat dalam dua tahun terakhir. Namun, terdapat indikasi perlambatan pada kuartal ketiga. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah baru-baru ini meluncurkan paket stimulus senilai hampir USD 1 miliar, termasuk bantuan makanan dan proyek infrastruktur yang bertujuan untuk menciptakan lapangan kerja.
Stabilitas Inflasi dan Nilai Tukar Rupiah

Salah satu faktor utama yang diperhatikan oleh Bank Indonesia adalah stabilnya tingkat inflasi. Dengan target inflasi sebesar 2,5% ±1%, BI terus memantau perkembangan harga barang dan jasa di pasar. Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi prioritas, terutama dalam situasi ketidakpastian global yang masih tinggi.
Gubernur Perry Warjiyo menegaskan bahwa BI akan terus memantau perkembangan ekonomi dan inflasi, serta mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah dalam setiap keputusan kebijakan moneter. “BI akan terus mengevaluasi keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan,” katanya.
Masa Depan Kebijakan Moneter

Meskipun BI telah membuat keputusan untuk menurunkan suku bunga, pihaknya tetap waspada terhadap potensi risiko yang muncul. Misalnya, adanya isu tentang independensi BI yang sempat menjadi sorotan akibat beberapa kebijakan pemerintah yang dianggap mengganggu kemandirian bank sentral. Selain itu, parlemen sedang membahas amandemen undang-undang yang bisa memperluas mandat BI untuk secara eksplisit mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun, BI tetap menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah, sambil tetap mendukung pertumbuhan ekonomi. “Kami akan terus mengevaluasi ruang penurunan suku bunga BI Rate, sesuai dengan kondisi ekonomi yang berkembang,” tambah Warjiyo.
Apa yang Harus Anda Ketahui?
Bagi masyarakat umum, penurunan suku bunga BI Rate memiliki dampak langsung terhadap biaya pinjaman, baik untuk kredit konsumsi maupun bisnis. Jika perbankan merespons dengan menurunkan suku bunga kredit, maka biaya pinjaman akan lebih rendah, sehingga mendorong permintaan kredit dan aktivitas ekonomi.
Selain itu, penurunan suku bunga juga bisa berdampak pada investasi, terutama pada sektor properti dan saham. Investor cenderung mencari aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi dalam lingkungan suku bunga rendah.
FAQ
Apa itu BI Rate?
BI Rate adalah suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia untuk mengatur kebijakan moneter. Suku bunga ini memengaruhi biaya pinjaman dan tabungan di seluruh sistem keuangan.
Mengapa BI menurunkan suku bunga?
BI menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan menurunkan biaya pinjaman, meningkatkan daya beli masyarakat, dan mendorong investasi.
Bagaimana dampak penurunan BI Rate bagi masyarakat?
Penurunan BI Rate biasanya mengurangi biaya pinjaman, sehingga mendorong pengeluaran dan investasi. Namun, suku bunga tabungan juga bisa turun, sehingga mengurangi keuntungan dari tabungan.
Apakah penurunan BI Rate akan terus berlanjut?
Tergantung pada kondisi ekonomi dan inflasi. Jika pertumbuhan ekonomi dan inflasi tetap stabil, BI kemungkinan akan terus mengevaluasi ruang penurunan suku bunga.
Apa saja faktor yang dipertimbangkan BI dalam menentukan suku bunga?
Faktor utama yang dipertimbangkan adalah stabilitas inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, dan prospek pertumbuhan ekonomi.
Tag:
BankIndonesia #BIrate #EkonomiIndonesia #Inflasi #NilaiTukarRupiah #Moneter #PertumbuhanEkonomi #SukuBunga #KebijakanMoneter #PerekonomianIndonesia
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar