Pengertian dan Pelaksanaan Kebijakan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin di Indonesia
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Ming, 25 Jan 2026
- visibility 168
- comment 0 komentar

Di tengah perjalanan sejarah bangsa Indonesia, masa demokrasi terpimpin menjadi salah satu periode yang penuh dengan dinamika politik dan ekonomi. Masa ini berlangsung dari tahun 1959 hingga 1965, dipimpin oleh Presiden Soekarno. Salah satu aspek penting dalam masa ini adalah kebijakan ekonomi yang diterapkan untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi negara. Artikel ini akan membahas pengertian serta pelaksanaan kebijakan ekonomi pada masa demokrasi terpimpin.
Pengertian Kebijakan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin

Kebijakan ekonomi masa demokrasi terpimpin merujuk pada serangkaian tindakan dan strategi yang diambil oleh pemerintah untuk mengatur dan memandu perkembangan ekonomi negara. Pada masa ini, pemerintah memiliki peran sentral dalam menentukan arah pembangunan, mengendalikan inflasi, dan mengelola sumber daya nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan daya saing ekonomi, serta memastikan stabilitas keuangan negara.
Pelaksanaan Kebijakan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin
Pada masa demokrasi terpimpin, pemerintah melakukan beberapa langkah strategis dalam mengelola perekonomian. Berikut adalah beberapa kebijakan utama yang diterapkan:
1. Dewan Perancang Nasional (Deparnas)
Salah satu inisiatif penting adalah pembentukan Dewan Perancang Nasional (Deparnas) berdasarkan UU Nomor 80 tahun 1958. Tujuan Deparnas adalah untuk menyusun rencana pembangunan nasional dan mengevaluasi progresnya. Awalnya, Deparnas dipimpin oleh Muhammad Yamin, namun kemudian diubah menjadi Bappenas dan dipimpin langsung oleh Presiden Soekarno.
2. Sanering Mata Uang
Pemerintah juga menerapkan kebijakan sanering mata uang untuk menstabilkan nilai rupiah. Kebijakan ini melibatkan devaluasi nilai uang kertas, terutama untuk pecahan Rp1.000 dan Rp500. Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya beli masyarakat tanpa memberatkan lapisan bawah.
3. Menekan Inflasi
Inflasi yang tinggi menjadi tantangan besar pada masa ini. Untuk menekan laju inflasi, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 2 tahun 1959. Selain itu, pemerintah juga melakukan pembekuan simpanan di bank dan mengurangi anggaran belanja pemerintah.
4. Deklarasi Ekonomi (Dekon)
Presiden Soekarno menyampaikan Deklarasi Ekonomi atau Dekon pada tanggal 28 Maret 1963. Tujuan dari Dekon adalah untuk membebaskan perekonomian dari imperialisme asing dan menciptakan sistem ekonomi sosialis yang terpimpin. Kebijakan ini menjadi dasar bagi berbagai program pembangunan nasional.
5. Dana Revolusi
Pada tahun 1964, pemerintah menerbitkan Kepres Nomor 360 tahun 1964 dan Inpres Nomor 18 tahun 1964 untuk membentuk Dana Revolusi. Dana ini digunakan untuk mendanai proyek-proyek besar seperti Mercusuar dan lainnya. Namun, kebijakan ini juga menyebabkan peningkatan utang negara dan inflasi yang sangat tinggi.
Dampak dan Evaluasi
Meskipun kebijakan ekonomi pada masa demokrasi terpimpin memiliki tujuan positif, implementasinya tidak selalu berhasil. Beberapa kebijakan seperti Politik Mercusuar dan Dana Revolusi menyebabkan kesenjangan ekonomi dan inflasi yang parah. Namun, ada juga kebijakan yang berhasil mendorong pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Penutup
Kebijakan ekonomi masa demokrasi terpimpin merupakan bagian penting dari sejarah perekonomian Indonesia. Meskipun terdapat tantangan dan kritik, kebijakan ini memberikan dasar bagi pembangunan ekonomi yang lebih terarah. Dengan memahami pelaksanaan dan dampak kebijakan tersebut, kita dapat belajar dari masa lalu untuk menghadapi tantangan ekonomi di masa kini dan mendatang.
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar