Arus Modal Asing Keluar dari Pasar SBN dan SRBI: Analisis Terkini
- account_circle radarekonomi
- calendar_month 9 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar

Pasar keuangan Indonesia kembali mengalami arus keluar modal asing pada awal November 2025. Data yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa investor asing melakukan penjualan bersih sebesar Rp4,58 triliun dalam periode 3-6 November 2025. Ini menjadi perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya, di mana tercatat aliran masuk sebesar Rp1,0 triliun. Arus keluar ini terutama terjadi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sementara pasar saham masih menjadi satu-satunya penopang dengan net buy sebesar Rp2,54 triliun.
Penyebab Arus Keluar Modal Asing
Salah satu faktor utama yang mendorong arus keluar modal asing adalah penguatan dolar AS. Setelah rilis data tenaga kerja yang tetap solid, dolar AS kembali memperkuat nilai tukarnya. Hal ini membuat investor global lebih memilih instrumen aman seperti obligasi pemerintah AS, yang imbal hasilnya semakin menarik.
Selain itu, spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) belum akan menurunkan suku bunga di pertemuan Desember mendatang juga memberi tekanan pada arus modal asing. Kenaikan imbal hasil US Treasury turut mendorong investor melakukan rotasi portofolio dari aset berisiko ke aset aman. Hal ini mencerminkan ketidakpastian di pasar global, terutama di tengah situasi politik di Amerika Serikat.
Tekanan di Pasar SBN dan SRBI

Tekanan terbesar terhadap pasar keuangan Indonesia berasal dari pasar SBN dan SRBI. Dalam periode 3-6 November 2025, investor asing melakukan jual neto sebesar Rp4,42 triliun di pasar SBN dan Rp2,69 triliun di pasar SRBI. Kondisi ini berbeda dengan posisi sebelumnya, di mana terdapat pembelian bersih di pasar SBN dan SRBI.
Meskipun terdapat sedikit aliran masuk pada akhir Oktober, secara kumulatif selama tahun 2025, arus modal asing masih berada di zona negatif. Total penjualan asing di pasar saham mencapai Rp39,13 triliun, diikuti dengan Rp0,91 triliun di pasar SBN, serta Rp137,71 triliun di instrumen SRBI. Angka ini menunjukkan bahwa investor asing cenderung menjauhi aset berisiko dan lebih memilih instrumen yang dinilai lebih stabil.
Indikator Risiko Investasi

Kenaikan premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun menjadi indikator lain yang menunjukkan meningkatnya persepsi risiko terhadap surat utang Indonesia. Pada 6 November 2025, CDS naik ke level 75,49 basis poin (bps), meningkat dari 73,03 bps pada 31 Oktober 2025. CDS sendiri merupakan instrumen derivatif yang mencerminkan biaya perlindungan terhadap risiko gagal bayar suatu negara. Semakin tinggi nilai CDS, semakin besar pula premi risiko yang harus dibayar oleh investor.
Meskipun kenaikan CDS menunjukkan peningkatan risiko, nilai tersebut masih relatif aman. Investor global tetap melihat Indonesia sebagai negara yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi, meski dengan beberapa tantangan di luar negeri.
Tantangan Eksternal dan Internal
Tantangan eksternal yang muncul dari kebijakan Presiden AS Donald Trump juga turut memengaruhi arus modal asing. Kebijakan unilateralisme yang diambil oleh pemerintahan Trump menimbulkan ketidakpastian di pasar global. Hal ini berdampak pada aliran investasi yang terhambat, termasuk di Indonesia. Selain itu, perubahan kebijakan perdagangan dan defisit APBN yang cukup besar turut memengaruhi sentimen investor.
Di sisi internal, kebijakan pemerintah yang dinilai kontradiktif dengan pertumbuhan ekonomi domestik juga menjadi faktor penurunan minat investor. Misalnya, pengurangan anggaran belanja pemerintah yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto menunjukkan ketidakjelasan dalam kebijakan fiskal. Hal ini memengaruhi kinerja sektor-sektor strategis, seperti perbankan BUMN, yang sering menjadi incaran investor asing.
Kebijakan BI dan Proyeksi Masa Depan
Dalam situasi ini, Bank Indonesia (BI) diharapkan dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Salah satunya adalah menurunkan suku bunga, yang saat ini berada di level 5,75 persen. Namun, penurunan suku bunga tidak mudah dilakukan karena kebutuhan pemerintah untuk membayar bunga utang dari penerbitan SBN yang bisa mencapai sebesar Rp800 triliun.
Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto menilai, BI kemungkinan akan lebih kaku dalam mengambil kebijakan pelonggaran moneter. Meskipun ada kebijakan pelonggaran, penurunan suku bunga diperkirakan akan terbatas pada tahun 2025.
Kesimpulan
Arus modal asing yang keluar dari pasar SBN dan SRBI mencerminkan ketidakpastian di pasar keuangan Indonesia. Faktor-faktor seperti penguatan dolar AS, spekulasi The Fed, serta gejolak politik di AS menjadi penyebab utama. Meskipun demikian, investor masih melihat potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Untuk menjaga stabilitas pasar, kebijakan BI dan pemerintah perlu lebih proaktif dalam menghadapi tantangan eksternal dan internal. Dengan langkah-langkah yang tepat, Indonesia dapat tetap menjadi tujuan investasi yang menarik bagi investor global.
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar