Breaking News
light_mode
Beranda » Keuangan » Kondisi Iklim Global Mempengaruhi Fluktuasi Harga Pangan: Analisis Terkini

Kondisi Iklim Global Mempengaruhi Fluktuasi Harga Pangan: Analisis Terkini

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
  • visibility 275
  • comment 0 komentar

Dalam beberapa tahun terakhir, isu kenaikan harga pangan menjadi topik yang semakin mengemuka, terutama di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi iklim global menjadi faktor utama tekanan harga volatile food, atau harga pangan yang fluktuatif. Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi melibatkan berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem seperti gelombang panas, kekeringan, dan banjir telah berdampak signifikan pada produksi komoditas pangan. Contohnya, kenaikan harga kakao global sebesar 280% pada April 2024, disebabkan oleh gelombang panas di Ghana dan Pantai Gading. Sementara itu, harga selada di Australia meningkat 300% setelah banjir pada tahun 2022. Di Jepang, harga beras naik 48%, sedangkan di India, harga kentang melonjak 81% pada awal 2024. Semua peningkatan ini terjadi akibat peristiwa iklim yang tidak biasa.

Kondisi ini menunjukkan bahwa iklim bukan lagi sekadar faktor lingkungan, tetapi juga menjadi ancaman langsung bagi stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan. Dalam laporan yang dirilis oleh tim ilmuwan internasional, dinyatakan bahwa sampai emisi nol bersih dicapai, cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi, sehingga memperparah tekanan pada harga pangan. Hal ini membuat masyarakat, khususnya keluarga berpenghasilan rendah, semakin rentan terhadap kenaikan biaya hidup.

Di Indonesia, kenaikan harga beras mencapai 16% pada Februari 2024 akibat kekeringan parah di tahun sebelumnya. Yosi Amelia dari MADANI Berkelanjutan menyatakan bahwa dampak krisis iklim terhadap ketersediaan pangan semakin berat, terutama karena sistem pangan Indonesia sangat bergantung pada satu komoditas, yaitu beras. Sementara itu, Sartika Nur Shalati dari CERAH mengkhawatirkan bahwa kenaikan permukaan air laut dapat mengancam sawah di pesisir, yang berpotensi mengurangi produksi beras hingga satu juta ton per tahun.

Selain itu, penelitian yang dipublikasikan di Environmental Research Letters juga menunjukkan bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti El Niño pada 2023–2024 turut berkontribusi pada peningkatan intensitas cuaca yang tidak wajar. Dengan demikian, lonjakan harga pangan akibat cuaca ekstrem cenderung bersifat sementara, tetapi risiko jangka panjang tetap ada jika tidak ada langkah mitigasi yang tepat.

Kenaikan harga pangan akibat perubahan iklim di berbagai negara

Penting untuk memahami bahwa kenaikan harga pangan bukanlah masalah lokal saja, tetapi juga global. Di Inggris, misalnya, perubahan iklim menambah £361 (sekitar Rp7,9 juta) pada tagihan makanan rumah tangga rata-rata antara 2022 dan 2023. Di AS, kekeringan di California pada 2022 menyebabkan kerugian hingga US$2 miliar dalam hasil panen. Sementara itu, di China, suhu ekstrem pada Juni–September 2023 menyebabkan kenaikan harga sayuran hingga 40%.

Meskipun banyak negara telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, target Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius masih jauh dari realisasi. Oleh karena itu, perlu adanya kebijakan yang lebih tegas dan kolaborasi internasional untuk mengatasi krisis iklim yang secara langsung memengaruhi harga pangan.

Kenaikan harga beras di Indonesia akibat kekeringan

Di tengah situasi ini, masyarakat dan pelaku usaha harus adaptasi dengan perubahan yang terjadi. Banyak keluarga dan pengusaha mengambil langkah-langkah untuk mengurangi pengeluaran, seperti mengganti menu makanan, mengurangi konsumsi bahan pokok, atau bahkan mulai menanam sendiri tanaman untuk memenuhi kebutuhan pangan. Di Yogyakarta, contohnya, sebuah pesantren mulai mengembangkan lahan hidroponik untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan luar. Sementara itu, di Pontianak dan Padang, masyarakat mulai beralih ke menu yang lebih hemat, seperti sambal dan gulai, untuk mengatasi kenaikan harga bahan makanan.

Namun, solusi jangka panjang tetap memerlukan kebijakan pemerintah yang proaktif. Diperlukan regulasi yang bisa menekan inflasi harga pangan, serta investasi dalam teknologi pertanian yang ramah iklim. Selain itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi emisi karbon agar dampak perubahan iklim tidak semakin memburuk.

Masyarakat menghadapi kenaikan harga pangan di pasar tradisional

Kesimpulannya, kondisi iklim global memang menjadi faktor utama tekanan harga volatile food. Tidak hanya mengancam stabilitas ekonomi, tetapi juga mengganggu kehidupan sehari-hari masyarakat, terutama keluarga berpenghasilan rendah. Dengan semakin seringnya peristiwa iklim ekstrem, diperlukan aksi nyata dari pemerintah, masyarakat, dan pelaku bisnis untuk mengurangi risiko krisis pangan dan menjaga kesejahteraan masyarakat.

FAQ:

  1. Apa penyebab kenaikan harga pangan saat ini?

    Kenaikan harga pangan terutama disebabkan oleh perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem seperti gelombang panas, kekeringan, dan banjir. Fenomena-fenomena ini mengganggu produksi pertanian dan menurunkan pasokan komoditas pangan.

  2. Bagaimana dampak perubahan iklim terhadap masyarakat?

    Perubahan iklim memengaruhi ketersediaan dan harga pangan, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah. Biaya hidup meningkat, dan masyarakat terpaksa mengubah pola konsumsi untuk mengurangi pengeluaran.

  3. Apa solusi yang bisa diambil untuk mengatasi kenaikan harga pangan?

    Solusi jangka pendek termasuk adaptasi konsumsi, seperti mengurangi penggunaan bahan mahal. Solusi jangka panjang memerlukan kebijakan pemerintah yang proaktif, investasi dalam pertanian berkelanjutan, dan pengurangan emisi gas rumah kaca.

  4. Bagaimana perubahan iklim memengaruhi Indonesia?

    Di Indonesia, perubahan iklim menyebabkan kekeringan yang memengaruhi produksi beras, serta kenaikan permukaan air laut yang mengancam sawah di pesisir. Ini berpotensi menyebabkan krisis pangan yang berkepanjangan.

  5. Apa peran masyarakat dalam menghadapi kenaikan harga pangan?

    Masyarakat dapat beradaptasi dengan mengurangi konsumsi bahan mahal, beralih ke menu yang lebih hemat, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Tagging:

KondisiIklimGlobal #HargaPanganVolatile #PerubahanIklim #FluktuasiHarga #KrisisPangan #EkonomiIndonesia #PertanianBerkelanjutan

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelaku usaha berbagi pengalaman bisnis dan motivasi penghasilan di sebuah pertemuan komunitas

    Pelaku usaha berbagi pengalaman bisnis dan motivasi penghasilan di sebuah pertemuan komunitas

    • calendar_month Sen, 27 Apr 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 210
    • 0Komentar

    RadarEkonomi.com, Jakarta 27 April 2026 –Sebuah kegiatan pertemuan komunitas bisnis digelar dengan menghadirkan pemaparan pengalaman usaha, motivasi, serta peluang penghasilan bagi masyarakat. Acara ini diawali dengan sapaan dan ajakan kepada peserta untuk bergabung serta memahami konsep usaha yang ditawarkan. Dalam pemaparannya, narasumber menceritakan perjalanan usaha yang dimulai sejak masa krisis moneter 1998. Saat itu, banyak […]

  • Keputusan Pelonggaran BI-Rate Menjadi Sinyal Positif Bagi Pertumbuhan Kredit

    Keputusan Pelonggaran BI-Rate Menjadi Sinyal Positif Bagi Pertumbuhan Kredit

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 246
    • 0Komentar

    Dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, Bank Indonesia (BI) resmi memangkas suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu (16/7). Langkah ini diikuti dengan penurunan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,00%. Keputusan ini dinilai sebagai langkah strategis yang mampu […]

  • Profil dan Aktivitas PT Industri Asia Indoparts Terkini

    Profil dan Aktivitas PT Industri Asia Indoparts Terkini

    • calendar_month Jum, 28 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 297
    • 0Komentar

    PT Industri Asia Indoparts adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang industri otomotif, khususnya dalam penyediaan suku cadang kendaraan. Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan dalam referensi, nama ini sering dikaitkan dengan merek INDOPARTS yang dikenal sebagai penyedia suku cadang berkualitas dengan harga terjangkau. Dalam konteks bisnis Indonesia, perusahaan ini memiliki peran penting dalam memenuhi […]

  • Cek Pajak Bumi dan Bangunan Secara Online dan Offline

    Cek Pajak Bumi dan Bangunan Secara Online dan Offline

    • calendar_month Rab, 3 Des 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 277
    • 0Komentar

    Slug: cek-pajak-bumi-dan-bangunan-online-offline Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah salah satu bentuk pajak yang wajib dibayarkan oleh pemilik tanah atau bangunan di Indonesia. Dalam konteks ekonomi dan bisnis, pemahaman tentang cara cek pajak bumi dan bangunan sangat penting untuk menghindari keterlambatan pembayaran dan sanksi administratif. Artikel ini akan membahas secara lengkap bagaimana Anda bisa melakukan cek […]

  • Kawasan Industri yang Cocok Dibangun di Daerah: Faktor dan Pertimbangan Penting

    Kawasan Industri yang Cocok Dibangun di Daerah: Faktor dan Pertimbangan Penting

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 257
    • 0Komentar

    Di tengah dinamika perekonomian Indonesia, pembangunan kawasan industri di daerah menjadi salah satu strategi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan memperluas kesempatan kerja. Namun, pemilihan lokasi yang tepat untuk kawasan industri tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Ada sejumlah faktor dan pertimbangan penting yang perlu diperhatikan agar kawasan industri dapat beroperasi secara efisien dan berkelanjutan. […]

  • Industri Padat Karya dan Insentif PPh Pasal 21 yang Ditanggung Pemerintah

    Industri Padat Karya dan Insentif PPh Pasal 21 yang Ditanggung Pemerintah

    • calendar_month Sel, 11 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 262
    • 0Komentar

    Di tengah dinamika perekonomian nasional, pemerintah terus berupaya memberikan dukungan kepada sektor-sektor strategis yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Salah satu langkah penting yang diambil adalah pemberian insentif pajak bagi industri padat karya melalui pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 yang ditanggung pemerintah (DTP). Kebijakan ini diterbitkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 10 Tahun […]

expand_less