Sektor Hilirisasi Kontribusikan 29,3 Persen dari Total Investasi Nasional pada Q1 2025
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Ming, 2 Nov 2025
- visibility 184
- comment 0 komentar

Di tengah tantangan ekonomi global yang terus berubah, sektor hilirisasi di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pada kuartal pertama tahun 2025, sektor ini memberikan kontribusi besar terhadap total investasi nasional, mencapai 29,3 persen atau senilai Rp136,3 triliun. Angka ini naik 79,82 persen secara year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Ini menjadi indikasi bahwa pemerintah dan pelaku bisnis telah berhasil memperkuat strategi hilirisasi sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi.
Investasi dalam sektor hilirisasi tidak hanya membawa dampak positif bagi perekonomian nasional, tetapi juga meningkatkan nilai tambah dari komoditas yang dimiliki Indonesia. Dengan fokus pada pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam secara lebih efisien, sektor ini mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan pendapatan daerah, serta menjaga keberlanjutan lingkungan. Hal ini semakin diperkuat dengan data yang dirilis oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, yang menyatakan bahwa realisasi investasi pada triwulan pertama 2025 mencapai Rp465,2 triliun atau 24,4 persen dari total target tahun ini sebesar Rp1.905,6 triliun.

Dari total investasi tersebut, sektor hilirisasi menjadi salah satu yang paling dinamis. Menurut Rosan, sektor mineral mendominasi kontribusi dengan total Rp97,60 triliun, di mana nikel menjadi penyumbang utama sebesar Rp47,82 triliun, disusul oleh tembaga sebesar Rp17,70 triliun dan bauksit sebesar Rp12,84 triliun. Selain itu, sektor perkebunan dan kehutanan juga memberikan kontribusi signifikan dengan total Rp31,13 triliun, terutama dari kelapa sawit dan kayu log masing-masing mencapai Rp15,26 triliun dan Rp11,79 triliun.
Rosan menegaskan bahwa peningkatan kontribusi sektor hilirisasi ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari strategi yang tepat dan komitmen pemerintah untuk mengembangkan industri berbasis sumber daya alam. “Kita lihat bauksit akan menjadi salah satu yang pertumbuhannya dalam hilirisasi akan meningkat cukup pesat ke depannya,” ujarnya dalam konferensi pers.

Selain itu, Rosan juga menyoroti pentingnya peningkatan nilai tambah dari komoditas strategis seperti kelapa sawit. “Kelapa sawit ini juga sudah berjalan lama dan kita akan coba lebih dorong pada produk turunannya sehingga value addednya itu bisa tercapture dan penciptaan lapangan pekerjaan yang lebih signifikan,” katanya.
Pengembangan hilirisasi di sektor kelautan pun mendapat perhatian khusus. Investasi di sektor perikanan dan kelautan tercatat Rp1,03 triliun yang mencakup komoditas seperti rumput laut, ikan nila, tuna, dan rajungan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi sektor kelautan masih sangat besar dan bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi negara.
Tidak hanya itu, sektor hilirisasi juga memberikan dampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Dalam triwulan pertama 2025, investasi tersebut berhasil menyerap 594.104 tenaga kerja, meningkat 8,5 persen dari tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa sektor hilirisasi tidak hanya berkontribusi pada perekonomian, tetapi juga menjadi motor penggerak utama dalam pengurangan angka pengangguran.

Dari segi wilayah, investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp235,9 triliun, sedikit lebih tinggi dibandingkan investasi di Pulau Jawa sebesar Rp229,3 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah berhasil meratakan distribusi investasi, sehingga daerah-daerah lain juga dapat merasakan manfaat dari pembangunan ekonomi.
Dalam konteks internasional, sektor hilirisasi juga menarik minat investor asing. Lima negara terbesar penyumbang investasi adalah Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Malaysia, dan Jepang. Menurut Rosan, Singapura masih menjadi investor terbesar Indonesia selama 10 tahun terakhir, dengan kontribusi sekitar 4,6 miliar dolar.
Selain itu, kehadiran Danantara, sovereign wealth fund Indonesia, juga memberikan dampak positif terhadap persepsi dunia luar terhadap Indonesia. “Mereka melihat kehadiran Danantara ini sangat-sangat tepat waktunya. Mereka juga menginginkan Danantara bagian dari banyak konsorsium mereka, banyak investasi mereka,” jelas Rosan.
Dengan pertumbuhan yang stabil dan kontribusi yang signifikan, sektor hilirisasi menjadi salah satu pilar utama dalam penguatan ekonomi Indonesia. Dengan strategi yang tepat dan kolaborasi yang baik antara pemerintah dan pelaku bisnis, sektor ini diharapkan mampu terus berkembang dan memberikan manfaat nyata bagi rakyat Indonesia.
FAQ:
-
Apa itu sektor hilirisasi?
Sektor hilirisasi merujuk pada proses pengolahan dan pemanfaatan sumber daya alam secara lebih lanjut untuk menciptakan nilai tambah. Contohnya, pengolahan nikel menjadi baterai atau pengolahan kelapa sawit menjadi minyak goreng. -
Bagaimana kontribusi sektor hilirisasi terhadap investasi nasional?
Pada kuartal pertama tahun 2025, sektor hilirisasi memberikan kontribusi sebesar 29,3 persen dari total investasi nasional, yaitu senilai Rp136,3 triliun. -
Apa manfaat dari pengembangan sektor hilirisasi?
Pengembangan sektor hilirisasi membantu meningkatkan nilai tambah dari komoditas lokal, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan daerah. -
Negara mana saja yang paling banyak menanamkan modal di sektor hilirisasi Indonesia?
Lima negara terbesar penyumbang investasi adalah Singapura, Hong Kong, Tiongkok, Malaysia, dan Jepang. -
Bagaimana dampak sektor hilirisasi terhadap penyerapan tenaga kerja?
Pada triwulan pertama 2025, investasi sektor hilirisasi berhasil menyerap 594.104 tenaga kerja, meningkat 8,5 persen dari tahun sebelumnya.
Tagging:
SektorHilirisasi #InvestasiNasional #EkonomiIndonesia #BKPM #RosanRoeslani #PengembanganEkonomi #PeningkatanInvestasi #NilaiTambahKomoditas #LapanganKerja #PertumbuhanEkonomi
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar