Defisit Transaksi Berjalan Diprediksi Tetap Terkendali Hingga Akhir Tahun
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Kam, 13 Nov 2025
- visibility 259
- comment 0 komentar

Indonesia terus menunjukkan ketahanan ekonomi yang baik meskipun menghadapi tantangan global. Salah satu indikator utama yang menjadi perhatian adalah defisit transaksi berjalan (current account deficit/ CAD). Dalam laporan Bank Indonesia (BI) pada triwulan I 2024, defisit transaksi berjalan mencatatkan angka sebesar US$ 2,2 miliar atau 0,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu US$ 1,1 miliar atau 0,3% PDB. Namun, BI memprediksi bahwa defisit tersebut akan tetap terkendali hingga akhir tahun.
Dari segi cadangan devisa, posisi Indonesia tetap stabil dengan total cadangan mencapai US$ 140,4 miliar pada akhir Maret 2024. Angka ini setara dengan pembiayaan selama 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Selain itu, cadangan devisa ini juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki modal yang cukup untuk menghadapi tekanan eksternal.
Secara umum, defisit transaksi berjalan diproyeksikan berada dalam kisaran rendah, yaitu antara 0,1% hingga 0,9% dari PDB. Prediksi ini didasarkan pada beberapa faktor, seperti surplus neraca perdagangan nonmigas, peningkatan penerimaan devisa dari jasa pariwisata, serta pengurangan biaya pembayaran bunga utang. BI juga memperkirakan bahwa aliran masuk modal asing akan kembali meningkat seiring meredanya ketidakpastian pasar keuangan global.

Meski defisit transaksi berjalan sedikit meningkat, Indonesia masih memiliki kemampuan untuk menjaga keseimbangan ekonomi secara keseluruhan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekspor nonmigas yang tetap positif, meskipun mengalami perlambatan akibat kondisi ekonomi global. Sementara itu, kinerja neraca jasa membaik karena peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Indonesia. Ini menjadi indikasi bahwa sektor pariwisata mulai pulih dari dampak pandemi.
Di sisi lain, defisit neraca pendapatan primer sedikit meningkat karena masih tingginya suku bunga global. Meski demikian, BI tetap optimistis bahwa tren ini akan berubah seiring dengan penurunan suku bunga The Fed dan penurunan biaya pembayaran bunga utang. Selain itu, peningkatan remiten dari tenaga kerja Indonesia di luar negeri juga diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi keseimbangan ekonomi.

Prediksi dari Maybank Indonesia juga menunjukkan bahwa defisit transaksi berjalan akan sedikit menurun pada tahun 2025. Global Markets Economist at Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto memperkirakan bahwa CAD pada akhir 2025 akan berkurang menjadi 0,59% dari PDB. Penurunan ini dipengaruhi oleh surplus neraca dagang yang melebar, penurunan biaya pembayaran bunga utang, serta kenaikan remiten dari tenaga kerja Indonesia di luar negeri.
Selain itu, Maybank Indonesia juga memproyeksikan bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada akhir 2025 akan mencatat surplus sebesar US$ 8,4 miliar. Surplus ini disumbangkan oleh surplus neraca perdagangan, aliran investasi langsung, serta pendapatan sekunder. Proyeksi ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu menjaga keseimbangan ekonomi meskipun menghadapi tantangan global.

Ketahanan ekonomi Indonesia tidak hanya terlihat dari defisit transaksi berjalan, tetapi juga dari stabilitas nilai tukar rupiah. Myrdal Gunarto memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah pada akhir tahun akan berada di kisaran Rp 16.356 per dolar AS. Prediksi ini didasarkan pada proyeksi penurunan CAD dan kembalinya aliran masuk modal asing ke Indonesia.
Bank Indonesia juga terus memantau dinamika perekonomian global dan melakukan respons bauran kebijakan yang didukung sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas terkait. Tujuannya adalah untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal Indonesia. BI menyatakan bahwa NPI 2024 diprakirakan terjaga dengan transaksi berjalan dalam kisaran defisit rendah sebesar 0,1% sampai dengan 0,9% dari PDB.

Sejarah telah membuktikan bahwa Indonesia mampu menjaga defisit transaksi berjalan tetap terkendali. Pada tahun 2020, misalnya, defisit transaksi berjalan diproyeksikan berada di bawah 2% dari PDB. Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis karena ada indikator yang menunjukkan rendahnya angka defisit, seperti kenaikan ekspor dan penurunan impor. Selain itu, rendahnya defisit neraca jasa juga menjadi faktor pendukung.
Namun, pandemi COVID-19 memberikan tantangan besar bagi sektor pariwisata, yang merupakan salah satu sumber devisa utama. Meski demikian, Indonesia berhasil mengimbangi dengan penurunan pariwisata yang keluar negri. Selain itu, rendahnya pendapatan primer, termasuk pembayaran bunga surat berharga negara (SBN), juga menjadi faktor penyebab rendahnya CAD.
Dengan semua faktor tersebut, Indonesia tetap percaya diri bahwa defisit transaksi berjalan akan tetap terkendali hingga akhir tahun. Prediksi ini didukung oleh stabilitas cadangan devisa, pertumbuhan ekspor nonmigas, dan peningkatan penerimaan devisa dari jasa pariwisata. Selain itu, aliran masuk modal asing dan penurunan biaya pembayaran bunga utang juga menjadi faktor pendukung.
FAQ
-
Apa yang dimaksud dengan defisit transaksi berjalan?
Defisit transaksi berjalan mengacu pada situasi di mana suatu negara mengimpor lebih banyak barang dan jasa daripada yang diekspor. Hal ini biasanya diukur sebagai persentase dari Produk Domestik Bruto (PDB). -
Bagaimana defisit transaksi berjalan memengaruhi ekonomi Indonesia?
Defisit transaksi berjalan bisa memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah dan ketersediaan cadangan devisa. Namun, jika defisit tetap terkendali, maka dampaknya tidak terlalu signifikan terhadap perekonomian nasional. -
Apa faktor yang memengaruhi defisit transaksi berjalan Indonesia?
Faktor-faktor yang memengaruhi defisit transaksi berjalan meliputi kinerja ekspor dan impor, kinerja neraca jasa, serta biaya pembayaran bunga utang. Selain itu, aliran masuk modal asing juga berkontribusi pada keseimbangan ekonomi. -
Bagaimana prediksi defisit transaksi berjalan Indonesia pada tahun 2025?
Menurut prediksi dari Maybank Indonesia, defisit transaksi berjalan pada akhir 2025 akan berkurang menjadi 0,59% dari PDB. Hal ini dipengaruhi oleh surplus neraca dagang, penurunan biaya pembayaran bunga utang, serta kenaikan remiten dari tenaga kerja Indonesia di luar negeri. -
Apakah defisit transaksi berjalan Indonesia akan terkendali hingga akhir tahun?
Ya, Bank Indonesia memprediksi bahwa defisit transaksi berjalan akan tetap terkendali hingga akhir tahun. Prediksi ini didasarkan pada stabilitas cadangan devisa, pertumbuhan ekspor nonmigas, dan peningkatan penerimaan devisa dari jasa pariwisata.
Tagging:
DefisitTransaksiBerjalan #EkonomiIndonesia #BankIndonesia #NeracaPembayaran #CadanganDevisa #CurrentAccountDeficit #NilaiTukarRupiah #EksporNonMigas #JasaPariwisata #InvestasiAsing
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar