Neraca Jasa Diprediksi Membaik Berkat Pemulihan Sektor Pariwisata
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Rab, 5 Nov 2025
- visibility 195
- comment 0 komentar

Pemulihan sektor pariwisata di Indonesia kembali menjadi sorotan utama dalam perjalanan ekonomi nasional. Dengan berbagai kebijakan yang diterapkan dan upaya pemerintah untuk membangkitkan minat wisatawan, terdapat indikasi bahwa neraca jasa negara ini akan mengalami peningkatan signifikan. Meski sempat terpuruk akibat pandemi, kini sektor pariwisata mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, yang berpotensi mendorong kinerja neraca jasa.
Indonesia memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pariwisata telah menjadi salah satu sumber devisa terbesar. Namun, dampak pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan drastis pada jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik. Akibatnya, defisit neraca jasa semakin melebar. Namun, dengan adanya pelonggaran pembatasan sosial dan pembukaan kembali destinasi wisata secara bertahap, kondisi tersebut mulai berubah.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menjelaskan bahwa meskipun defisit neraca jasa masih terjadi, ada harapan bahwa trennya akan membaik. “Defisit neraca jasa pada kuartal III-2023 tercatat US$ 4,1 miliar, turun dari kuartal II-2023 yang mencapai US$ 4,7 miliar,” ujar David. Ia menilai, hal ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi sedang bergerak kembali, terutama dalam hal impor barang dan perjalanan wisata.
Namun, David juga memperingatkan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi bisa berdampak pada defisit neraca transaksi berjalan. “Jika defisit neraca jasa makin lebar, maka akan makin besar kemungkinan neraca transaksi berjalan mencetak defisit. Ini akan memengaruhi ketahanan eksternal,” tambahnya. Meski demikian, ia memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan pada 2023 akan berada di kisaran 0,2% hingga 0,3% PDB, lebih rendah dibandingkan rata-rata sebelum masa pandemi.
Peran sektor pariwisata dalam memperbaiki neraca jasa tidak bisa dipandang remeh. Sebelum pandemi, pariwisata telah menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar. Pada 2018, sektor ini menyumbang devisa sebesar USD 19,3 miliar dari kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 15,81 juta orang. Selain itu, jumlah kunjungan wisatawan nusantara mencapai 303,4 juta, dengan pertumbuhan sebesar 12,37%. Kondisi ini membantu mengurangi tekanan neraca pembayaran Indonesia yang mengalami defisit sebesar USD 7,1 miliar pada tahun tersebut.
Dengan adanya pemulihan sektor pariwisata, khususnya setelah pembatasan sosial diperlonggar, harapan untuk meningkatkan pendapatan dari sektor jasa semakin terbuka. Wisatawan domestik mulai kembali mengunjungi berbagai destinasi wisata, termasuk Bali, yang selama pandemi sempat mengalami penurunan tingkat okupansi hotel hingga 10 persen. Kini, tingkat okupansi kamar hotel di Bali meningkat menjadi 30-35 persen, meski masih jauh dari kondisi sebelum pandemi.
Chairman Bali Hotels Association, Jean Hélière, menyampaikan bahwa sejak pelonggaran pembatasan sosial, Bali banyak dikunjungi wisatawan domestik atau wisatawan Nusantara. Hal ini berdampak positif pada tingkat okupansi kamar hotel, meskipun masih jauh dari target sebelum pandemi. “Bali selalu menjadi rujukan pelaksanaan MICE yang tidak kalah menarik dengan negara lain seperti Singapura,” ujarnya.
Selain itu, adanya pengembangan wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) juga memberikan kontribusi positif bagi sektor pariwisata. Penyelenggaraan MICE oleh instansi pemerintahan membantu meningkatkan okupansi kamar hotel di Bali. Namun, Jean menekankan bahwa pemulihan sektor pariwisata membutuhkan waktu dan kepercayaan pasar, terutama dari wisatawan internasional.
Direktur Pembangunan Asia Tenggara di IHG Hotels and Resorts, Nathalia Wilson, menambahkan bahwa minat investasi di sektor pariwisata Indonesia tetap ada, meskipun tidak mudah untuk terealisasi dalam waktu singkat. “Menarik investasi masuk ke Bali bukan sekadar bergantung pada kuantitas kunjungan wisatawan serta tingkat okupansi kamar. Ada berbagai faktor lain yang memengaruhi, seperti tren gerakan hijau atau pembangunan berkelanjutan,” katanya.
Investasi di sektor pariwisata juga membutuhkan dukungan pemerintah. Chief Executive Officer Panorama Group, Budi Tirtawisata, menilai bahwa pemerintah harus mempercepat pemerataan infrastruktur dasar di lokasi destinasi pariwisata. “Pemerintah sedang ingin memajukan desa wisata. Pemerataan infrastruktur dasar menjadi krusial,” ujarnya.
Selain itu, Infrastructure and Tourism Director PwC Indonesia, Hendri Hendrawan, menekankan pentingnya diversifikasi produk wisata serta memanfaatkan tren wisata terkini yang bergerak menuju pariwisata berkelanjutan. “Berinvestasi di industri pariwisata juga perlu mencermati tren digitalisasi yang berlangsung sejak sebelum pandemi. Wisatawan generasi milenial kini punya porsi besar dan memprioritaskan penggunaan teknologi digital untuk mencari kebutuhan akomodasi,” tambahnya.
Dengan adanya upaya pemerintah dan sektor swasta dalam memperbaiki sektor pariwisata, harapan untuk pemulihan neraca jasa semakin kuat. Meskipun masih ada tantangan, seperti persaingan dengan negara lain dan kebutuhan investasi yang tinggi, momentum saat ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata Indonesia siap kembali berkontribusi besar bagi perekonomian nasional.
![]()



Tag:
NeracaJasa #PemulihanPariwisata #EkonomiIndonesia #WisataNusantara #PariwisataBali #InvestasiPariwisata #DestinasiWisata #MICE #EkonomiKreatif #PariwisataBerkelanjutan
FAQ:
1. Apa yang dimaksud dengan neraca jasa?
Neraca jasa adalah bagian dari neraca pembayaran suatu negara yang mencatat transaksi jasa antar negara, seperti jasa transportasi, perjalanan, dan layanan keuangan.
2. Bagaimana sektor pariwisata berkontribusi pada neraca jasa?
Sektor pariwisata berkontribusi melalui pendapatan dari kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik, termasuk jasa transportasi, akomodasi, dan layanan lainnya.
3. Mengapa pemulihan sektor pariwisata penting bagi ekonomi Indonesia?
Pemulihan sektor pariwisata dapat meningkatkan devisa negara, menciptakan lapangan kerja, dan mendukung pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
4. Apa tantangan dalam pemulihan sektor pariwisata?
Tantangan termasuk kepercayaan pasar, persaingan dengan negara lain, dan kebutuhan investasi yang tinggi.
5. Bagaimana pemerintah mendukung pemulihan sektor pariwisata?
Pemerintah memberikan insentif, mempercepat pemerataan infrastruktur, dan mendorong inovasi serta digitalisasi dalam sektor pariwisata.
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar