Cara Antisipasi Lonjakan Permintaan Komoditas Jelang Hari Besar Keagamaan
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Sen, 9 Mar 2026
- visibility 110
- comment 0 komentar
Pada setiap perayaan hari besar keagamaan, seperti Natal dan Tahun Baru, permintaan terhadap berbagai komoditas kebutuhan pokok cenderung meningkat. Hal ini menyebabkan kenaikan harga yang bisa memengaruhi daya beli masyarakat. Untuk menghadapi situasi ini, diperlukan strategi antisipasi yang tepat agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan memantau tren permintaan secara dini. Seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Tradisional Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri, sinyal kenaikan harga mulai terlihat sejak dua pekan lalu. “Biasanya, lonjakan akan signifikan setelah pertengahan Desember,” ujarnya. Dengan mengetahui pola permintaan, pemerintah dan pelaku usaha dapat menyiapkan pasokan yang cukup untuk menghindari kelangkaan dan kenaikan harga yang tidak terkendali.
Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan operasi pasar guna menjaga ketersediaan komoditas penting. Misalnya, Perum Bulog dapat lebih fokus pada stabilisasi harga melalui distribusi yang merata. Hal ini terutama penting untuk komoditas seperti beras, cabai, bawang, telur, dan daging yang sering menjadi sorotan saat musim liburan. Menurut Mansuri, harga beras premium masih berada pada level Rp 12.500 hingga Rp 12.700 per kilogram, sedangkan beras medium juga masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang mencapai Rp 10 ribu per kilogram.
Di sisi lain, faktor cuaca juga turut memengaruhi kenaikan harga. Seperti yang terjadi di Batam, kenaikan curah hujan menyebabkan petani kesulitan dalam memanen sayuran. Akibatnya, harga sayuran seperti bayam, kangkung, dan tomat melonjak tajam. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah perlu bekerja sama dengan petani dan pengusaha lokal agar pasokan tetap lancar meski kondisi alam tidak bersahabat.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat juga sangat penting. Masyarakat perlu diajak untuk memahami bahwa kenaikan harga hanya sementara dan biasanya kembali normal setelah perayaan selesai. Agung Hendriadi dari Kementerian Pertanian menyatakan bahwa kenaikan konsumsi hanya terjadi pada beberapa komoditas sehingga dampaknya tidak terlalu besar. “Harganya hanya berselang sehari sampai dua hari saja,” ujarnya.
Dalam rangka mengantisipasi lonjakan permintaan, pelaku bisnis juga perlu memperkuat rantai pasok dan mengatur stok secara efisien. Misalnya, para pedagang dapat memesan komoditas lebih awal agar tidak terkena kenaikan harga akibat ketidakstabilan pasokan. Selain itu, kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga keseimbangan harga dan ketersediaan komoditas.
Dengan persiapan yang matang dan kolaborasi yang baik, lonjakan permintaan komoditas menjelang hari besar keagamaan dapat diatasi tanpa mengganggu stabilitas ekonomi masyarakat. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat harus saling mendukung agar semua pihak dapat merayakan hari besar dengan tenang dan nyaman.
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar