Breaking News
light_mode
Beranda » Investasi » BI Berupaya Jaga Yield SBN Tetap Menarik Bagi Investor Asing: Analisis Terkini

BI Berupaya Jaga Yield SBN Tetap Menarik Bagi Investor Asing: Analisis Terkini

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Sab, 21 Feb 2026
  • visibility 56
  • comment 0 komentar

Di tengah dinamika perekonomian nasional yang terus bergerak, Bank Indonesia (BI) kembali memperkuat langkah-langkahnya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Salah satu fokus utama BI adalah menjaga agar yield Surat Berharga Negara (SBN) tetap menarik bagi investor asing. Langkah ini penting karena SBN menjadi salah satu instrumen utama dalam mendukung kebijakan moneter dan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Pada tahun ini, BI telah merencanakan pembelian SBN di pasar sekunder senilai lebih dari Rp150 triliun. Tidak hanya itu, BI juga akan membeli SBN untuk pendanaan program 3 juta rumah. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari strategi triple intervention, yaitu intervensi di pasar spot, pasar Non-Deliverable Forward (NDF), serta pasar SBN sekunder. Dengan demikian, BI berupaya menjaga likuiditas perbankan dan mendorong penyaluran kredit yang optimal.

BI membeli SBN untuk stabilisasi pasar keuangan

Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, R. Tri Wahyono, menjelaskan bahwa BI melakukan pembelian SBN secara hati-hati dan terukur. “Kami melihat kondisi pasar saat pembelian SBN agar tidak mendistorsi harga yang ada di market,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pembelian SBN bukanlah tindakan yang mengurangi independensi BI, melainkan upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Terkait dengan yield SBN, BI juga telah melakukan penyesuaian suku bunga acuan seiring dengan kebijakan pelonggaran moneter. Saat ini, BI rate telah diturunkan menjadi 5,25%. Sebagai respons, yield SBN dengan tenor 10 tahun turun ke kisaran 6,5%, sedangkan yield SBN bertenor pendek seperti 1 tahun berada di kisaran 5,5% hingga 5,6%.

Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, menyatakan bahwa penurunan yield ini menunjukkan bahwa pelonggaran kebijakan moneter mulai tersalurkan ke pasar keuangan. “Proses ini akan terus berlangsung dan kami bekerja sama dengan Kementerian Keuangan untuk memastikan penurunan suku bunga terjadi di pasar keuangan,” tambahnya.

Yield SBN dan BI rate dalam grafik

Namun, meski yield SBN masih relatif tinggi dibandingkan BI rate, BI tetap berupaya menjaga daya tariknya bagi investor asing. Pasalnya, ketertarikan investor asing terhadap SBN sangat penting dalam memperkuat posisi rupiah dan menjaga keseimbangan pasar keuangan. BI memastikan bahwa pembelian SBN dilakukan secara transparan dan tidak mengganggu mekanisme pasar.

Menurut Wijayanto Samirin, ekonom Universitas Paramadina, kebijakan BI yang terus-menerus membeli SBN bisa berdampak pada persepsi pasar. “Investor akan mempertanyakan independensi BI dan kualitas kebijakannya,” katanya. Namun, BI tetap berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas sistem keuangan dan kepercayaan investor.

Investor asing memantau pasar SBN

Selain itu, BI juga menjalankan operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi penurunan suku bunga. Hal ini mencakup penyesuaian struktur suku bunga instrumen moneter dan swap valas, menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan melalui lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pembelian SBN di pasar sekunder, serta memperkuat peran dealer utama untuk meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan transaksi repo antarpelaku pasar.

Dalam rangka menjaga kinerja pasar uang, BI juga terus memperkuat transmisi penurunan suku bunga. Dengan demikian, BI tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Secara keseluruhan, BI terus berupaya menjaga yield SBN agar tetap menarik bagi investor asing. Dengan langkah-langkah yang terukur dan transparan, BI berharap dapat memperkuat posisi rupiah dan menjaga keseimbangan pasar keuangan. Dengan begitu, Indonesia dapat tetap menjadi tujuan investasi yang menarik bagi para pemain global.

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kripto Kembali ‘Bull Run’ di Awal 2026, Apakah Aman untuk Dana Mudik?

    Kripto Kembali ‘Bull Run’ di Awal 2026, Apakah Aman untuk Dana Mudik?

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Di tengah dinamika pasar keuangan global yang terus berubah, aset kripto kembali menunjukkan tren positif pada awal tahun 2026. Fenomena ini mengundang perhatian luas dari masyarakat, termasuk para pemilik dana mudik yang sedang mencari alternatif investasi yang bisa memberikan imbal hasil tinggi. Namun, apakah kripto benar-benar aman untuk digunakan sebagai dana mudik? Pertanyaan ini menjadi […]

  • Likuiditas Bank yang Cukup untuk Menghadapi Kebutuhan Akhir Tahun

    Likuiditas Bank yang Cukup untuk Menghadapi Kebutuhan Akhir Tahun

    • calendar_month Kam, 6 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Pada akhir tahun, kebutuhan masyarakat akan dana cair meningkat secara signifikan. Mulai dari pembelian hadiah liburan hingga pengeluaran rutin lainnya, kondisi ini sering kali menimbulkan tekanan pada sektor perbankan. Namun, berdasarkan data terkini, likuiditas bank di Indonesia dinilai cukup memadai untuk menghadapi situasi tersebut. Hal ini menjadi kabar baik bagi masyarakat dan pelaku bisnis, khususnya […]

  • Kepercayaan Bisnis di Sektor Manufaktur Menurun Akibat Kenaikan Biaya Input

    Kepercayaan Bisnis di Sektor Manufaktur Menurun Akibat Kenaikan Biaya Input

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Sektor manufaktur Indonesia kembali menjadi sorotan setelah data terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan bisnis di sektor ini sedikit melemah. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kenaikan biaya input yang semakin menghimpit pelaku usaha. Meski ada indikasi perbaikan dari bulan sebelumnya, kondisi ini masih memicu kekhawatiran akan stabilitas ekonomi dan daya saing industri dalam […]

  • Lonjakan Signifikan Fintech Dipicu oleh Adopsi Platform Digital yang Pesat

    Lonjakan Signifikan Fintech Dipicu oleh Adopsi Platform Digital yang Pesat

    • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Dalam era digital yang semakin berkembang, sektor finansial di Indonesia mengalami transformasi besar-besaran. Fenomena fintech dan pembayaran digital telah menjadi tulang punggung dalam mempercepat adopsi teknologi keuangan yang lebih efisien dan inklusif. Dengan peningkatan pesat dalam penggunaan platform digital, sektor ini tidak hanya mengubah cara masyarakat bertransaksi, tetapi juga memberikan akses yang lebih luas terhadap […]

  • Industri Meminta Kepastian Kebijakan Energi dan Logistik untuk Meningkatkan Efisiensi

    Industri Meminta Kepastian Kebijakan Energi dan Logistik untuk Meningkatkan Efisiensi

    • calendar_month Sel, 11 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Industri Meminta Kepastian Kebijakan Energi dan Logistik untuk Meningkatkan Efisiensi Dalam dunia bisnis yang dinamis, kepastian kebijakan menjadi salah satu faktor kunci yang memengaruhi efisiensi operasional dan pertumbuhan perusahaan. Di Indonesia, sektor industri terus menghadapi tantangan dalam menjalankan aktivitasnya karena ketidakjelasan regulasi energi dan logistik. Tuntutan dari pelaku usaha terhadap kebijakan yang lebih stabil dan […]

  • Kebijakan PPh 21 DTP: Strategi Mengatasi Kenaikan Biaya Hidup di Sektor Pariwisata

    Kebijakan PPh 21 DTP: Strategi Mengatasi Kenaikan Biaya Hidup di Sektor Pariwisata

    • calendar_month Sel, 11 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Pemerintah Indonesia kembali mengambil langkah strategis dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks, khususnya di sektor pariwisata. Salah satu kebijakan yang dianggap penting adalah perluasan pemberian insentif pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) ke sektor pariwisata melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 72 Tahun 2025. Kebijakan ini dirancang untuk meredam dampak kenaikan biaya […]

expand_less