Ekspor Besi dan Baja Tetap Jadi Kontributor Utama Nonmigas di Indonesia
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Rab, 12 Nov 2025
- visibility 257
- comment 0 komentar

Indonesia terus menunjukkan kekuatan ekonominya melalui sektor industri nonmigas, khususnya ekspor besi dan baja. Sebagai salah satu komoditas utama yang mendukung perekonomian nasional, besi dan baja tidak hanya menjadi tulang punggung ekspor tetapi juga menjadi penggerak utama pertumbuhan industri pengolahan. Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi sektor ini terus meningkat, bahkan mencatatkan peningkatan signifikan secara tahunan.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2025, ekspor industri pengolahan nonmigas mencapai 72,55% dari total ekspor Indonesia, dengan nilai sebesar US$13,22 miliar. Di antara komoditas tersebut, besi dan baja menjadi salah satu penyumbang terbesar. Nilai ekspornya mencapai US$2,79 miliar, naik sebesar 18,74% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa sektor baja masih menjadi andalan dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Pemerintah telah menyadari pentingnya sektor ini, sehingga berbagai langkah strategis dilakukan untuk menjaga daya saing dan memperkuat ekosistem industri baja. Salah satunya adalah dengan memperketat pengawasan impor, karena impor baja yang tinggi dinilai mengganggu perkembangan industri dalam negeri. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan bahwa pemerintah akan memperkuat koordinasi antar kementerian dan membuka peluang investasi baru di sektor baja.
“Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Investasi, dan Kementerian Keuangan. Terutama Kemenkeu yang ada Bea Cukai di border, yang bisa melakukan pengawasan langsung terhadap barang masuk ke Indonesia,” ujarnya. Langkah ini mirip dengan cara pemerintah dalam menghadapi impor produk tekstil, yang diperkuat dengan pengawasan ketat di perbatasan.
Selain itu, pemerintah juga memberikan insentif bagi investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. “Jika industri baja ingin masuk ke pasar dalam negeri, mereka harus berinvestasi di Indonesia, bangun pabrik di Indonesia, sehingga mereka juga punya akses ke pasar domestik,” tambah Faisol. Strategi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan memperluas peluang ekspor.

Tidak hanya itu, pemerintah juga fokus pada hilirisasi dan substitusi impor. Dengan hilirisasi, industri baja dapat meningkatkan nilai tambah produk, sementara substitusi impor akan memperkuat kemandirian bahan baku dalam negeri. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, di mana industri logam dasar menjadi salah satu sektor prioritas.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri pengolahan nonmigas, termasuk besi dan baja, merupakan mesin utama ekspor nasional. “Kontribusi ini membuktikan bahwa industri pengolahan nonmigas adalah penyumbang devisa terbesar bagi perekonomian kita,” ujarnya. Data menunjukkan bahwa impor bahan baku untuk industri pengolahan nonmigas mencapai US$11,35 miliar pada Agustus 2025, atau sekitar 74,5% dari total impor nasional. Namun, angka ini justru menjadi indikasi positif karena sebagian besar impor digunakan untuk produksi, bukan konsumsi akhir.
Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dirilis Kementerian Perindustrian pada September 2025 mencapai 53,02 poin, masih berada di zona ekspansi. IKI ekspor mencapai 53,99 poin, menunjukkan bahwa permintaan luar negeri terhadap produk industri pengolahan tetap stabil. Hal ini memberikan keyakinan bahwa sektor baja dan industri lainnya masih memiliki potensi besar untuk berkembang.
Dalam kerangka RPJMN 2025–2029 dan Visi Indonesia Emas 2045, industri baja ditetapkan sebagai sektor prioritas. Kemenperin menggariskan lima kebijakan utama untuk memperkuat ekosistem industri baja, seperti memperkuat daya saing, memperluas akses pasar, serta meningkatkan kualitas produk. Dengan pendekatan ini, diharapkan sektor baja dapat menjadi penggerak utama ekonomi nasional dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Pertumbuhan sektor baja juga didukung oleh minat investor asing yang tinggi. Menurut Faisol Riza, hampir setiap hari perusahaan-perusahaan dari luar datang ke Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Investasi untuk menanyakan proses investasi di Indonesia. Beberapa negara seperti Eropa, China, dan Vietnam bahkan sudah menunjukkan ketertarikan untuk merelokasi pabriknya ke Indonesia.
Dengan segala upaya yang dilakukan, sektor baja Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Tidak hanya sebagai kontributor utama ekspor nonmigas, sektor ini juga menjadi tulang punggung industrialisasi nasional menuju 2045. Dengan dukungan pemerintah, investasi, dan kepercayaan dunia internasional, besi dan baja akan terus menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia.
FAQ
Apa saja komoditas utama yang menopang ekspor nonmigas Indonesia?
Komoditas utama yang menopang ekspor nonmigas Indonesia antara lain besi dan baja, mesin dan perlengkapan elektrik, produk kimia dan farmasi, serta produk makanan dan minuman olahan.
Bagaimana pemerintah menangani impor baja yang tinggi?
Pemerintah memperketat pengawasan impor baja dan mendorong investasi dari luar negeri untuk membangun pabrik di Indonesia, sehingga mengurangi ketergantungan pada impor.
Apa tujuan dari kebijakan hilirisasi dan substitusi impor?
Tujuan dari kebijakan hilirisasi adalah meningkatkan nilai tambah produk, sedangkan substitusi impor bertujuan untuk memperkuat kemandirian bahan baku dalam negeri.
Apakah industri baja menjadi sektor prioritas pemerintah?
Ya, industri baja ditetapkan sebagai sektor prioritas dalam RPJMN 2025–2029 dan Visi Indonesia Emas 2045.
Bagaimana kondisi ekspor nonmigas Indonesia saat ini?
Ekspor nonmigas Indonesia mencapai 72,55% dari total ekspor, dengan pertumbuhan yang stabil dan berkontribusi besar terhadap devisa negara.
Tags:
EksporBesiDanBaja #Nonmigas #EkonomiIndonesia #IndustriBaja #EksporNasional #PemerintahIndonesia #InvestasiLuarNegeri #Hilirisasi #SubstitusiImpor #IndustriManufaktur
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar