Breaking News
light_mode
Beranda » Makroekonomi » Pengertian dan Penerapan Kebijakan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin

Pengertian dan Penerapan Kebijakan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Jum, 30 Jan 2026
  • visibility 334
  • comment 0 komentar

Di tengah perjalanan sejarah Indonesia, masa demokrasi terpimpin (1959-1965) menjadi salah satu periode yang penuh tantangan, khususnya dalam bidang ekonomi. Dalam masa ini, pemerintahan dipegang oleh Presiden Soekarno dengan otoritas yang sangat besar, dan kebijakan ekonomi yang diterapkan mencerminkan prinsip “ekonomi terpimpin” yang menempatkan negara sebagai pengendali utama aktivitas ekonomi.

Latar Belakang Kebijakan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin

Sanering mata uang Indonesia masa demokrasi terpimpin

Masa demokrasi terpimpin berlangsung setelah Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, yang membatalkan sistem pemerintahan liberal dan mengembalikan UUD 1945. Dalam konteks ekonomi, pemerintah mengambil alih peran besar dalam mengatur perekonomian nasional. Tujuan utamanya adalah untuk membangun perekonomian yang mandiri dan bebas dari pengaruh asing, serta menciptakan kesenjangan ekonomi yang lebih merata.

Kebijakan ekonomi pada masa ini didasarkan pada prinsip “ekonomi terpimpin”, di mana pemerintah bertindak sebagai pengarah utama. Hal ini melibatkan pembentukan lembaga-lembaga seperti Dewan Perancang Nasional (Deparnas) yang bertugas menyusun rencana pembangunan nasional. Selain itu, pemerintah juga mengimplementasikan kebijakan devaluasi mata uang (sanering), pembatasan pengeluaran pemerintah, dan penurunan inflasi.

Penerapan Kebijakan Ekonomi

Proyek mercusuar di masa demokrasi terpimpin

Salah satu kebijakan penting yang dilakukan adalah Deklarasi Ekonomi pada 28 Maret 1963. Deklarasi ini bertujuan untuk membebaskan perekonomian dari imperialisme dan menciptakan kondisi ekonomi sosialis yang terpimpin. Di samping itu, pemerintah juga menerapkan Dana Revolusi untuk mendanai proyek-proyek besar seperti Asian Games IV dan Ganefo, yang bertujuan meningkatkan citra Indonesia di dunia internasional.

Namun, kebijakan ini juga membawa konsekuensi buruk. Inflasi yang tinggi, defisit anggaran, dan penurunan daya beli masyarakat menjadi masalah serius. Misalnya, inflasi mencapai 592% pada tahun 1965, sedangkan pendapatan per kapita turun drastis antara 1962-1963.

Tantangan Ekonomi Masa Demokrasi Terpimpin

Kondisi ekonomi Indonesia pada masa demokrasi terpimpin

Tantangan ekonomi pada masa ini tidak hanya berasal dari kebijakan pemerintah sendiri, tetapi juga dari situasi politik yang tidak stabil. Pemberontakan di berbagai daerah, konfrontasi dengan Malaysia, dan keluarnya Indonesia dari PBB pada 1965 semakin memperparah kondisi ekonomi. Ekspor dan investasi merosot tajam, cadangan devisa habis, dan bantuan asing berhenti karena penolakan terhadap IMF.

Selain itu, pemerintah menghabiskan dana besar untuk proyek mercusuar, seperti pembangunan Stadion Senayan dan Monumen Nasional, yang justru memperburuk defisit anggaran. Kebijakan ini tidak hanya menguras keuangan negara, tetapi juga tidak memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas.

Kesimpulan

Kebijakan ekonomi masa demokrasi terpimpin mencerminkan upaya pemerintah untuk membangun sistem ekonomi yang mandiri dan terpimpin. Meskipun memiliki tujuan baik, implementasinya menghadapi banyak tantangan, termasuk inflasi tinggi, defisit anggaran, dan ketidakstabilan politik. Pengalaman masa ini menjadi pelajaran penting dalam sejarah ekonomi Indonesia, bahwa kebijakan ekonomi harus seimbang antara kontrol pemerintah dan partisipasi masyarakat serta swasta.

Masa demokrasi terpimpin, meski gagal secara ekonomi, tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju sistem perekonomian yang lebih stabil dan berkelanjutan.

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mitra Dagang Utama Indonesia Tetap Tiongkok, AS, dan India: Analisis Terkini

    • calendar_month Rab, 5 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 416
    • 0Komentar

    Dalam dinamika perdagangan global yang terus berkembang, Indonesia tetap mempertahankan posisi sebagai negara dengan mitra dagang utama yang signifikan, yaitu Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India. Ketiga negara ini tidak hanya menjadi pasar utama bagi produk Indonesia, tetapi juga berperan penting dalam investasi, teknologi, dan kerja sama ekonomi jangka panjang. Meskipun terdapat tantangan dan kritik […]

  • PMK 72/2025: Aturan PPh Pasal 21 DTP untuk Sektor Pariwisata dan Padat Karya

    PMK 72/2025: Aturan PPh Pasal 21 DTP untuk Sektor Pariwisata dan Padat Karya

    • calendar_month Sen, 3 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 342
    • 0Komentar

    Pemerintah Indonesia kembali memberikan kebijakan yang menarik bagi para pekerja dan pengusaha di berbagai sektor. Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 72 Tahun 2025, insentif Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (PPh Pasal 21 DTP) diperluas ke sektor pariwisata. Ini menjadi langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat. Apa Itu PPh […]

  • Keuntungan Investasi Emas Antam yang Perlu Anda Ketahui

    Keuntungan Investasi Emas Antam yang Perlu Anda Ketahui

    • calendar_month Ming, 11 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Investasi emas Antam telah menjadi pilihan utama bagi banyak masyarakat Indonesia, terutama karena stabilitasnya dan potensi keuntungan jangka panjang. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara rinci mengenai keuntungan investasi emas Antam yang bisa Anda manfaatkan untuk meningkatkan portofolio keuangan Anda. Pertama-tama, perlu diketahui bahwa harga emas Antam terus mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. […]

  • Peredaran Obat Keras Daftar G Di Wilayah Hukum Polres Tangerang Selatan Diduga Masih Marak Dan Bebas

    Peredaran Obat Keras Daftar G Di Wilayah Hukum Polres Tangerang Selatan Diduga Masih Marak Dan Bebas

    • calendar_month Ming, 5 Jul 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 103
    • 0Komentar

    RadarEkonomi.com, Tangerang Selatan -Dugaan peredaran obat keras golongan daftar G kembali menjadi sorotan di wilayah Tangerang Selatan. Meski masyarakat dapat menyampaikan pengaduan melalui layanan darurat 110, masih adanya dugaan aktivitas tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas penanganan dan penegakan hukum oleh aparat. Yudi, Ketua LBH Satri sekaligus Pimpinan Redaksi Garudasiber, mengatakan pihaknya telah mendokumentasikan serta melaporkan […]

  • Wilayah yang Umumnya Menyimpan Kegiatan Industri Seperti Pabrik

    Wilayah yang Umumnya Menyimpan Kegiatan Industri Seperti Pabrik

    • calendar_month Ming, 18 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Industri merupakan tulang punggung perekonomian suatu negara. Dalam konteks Indonesia, kegiatan industri seperti pabrik banyak terdapat di wilayah-wilayah tertentu yang memiliki faktor-faktor pendukung yang memadai. Pemilihan lokasi pabrik bukan hanya sekadar pertimbangan geografis, tetapi juga melibatkan berbagai aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Wilayah yang menyimpan kegiatan industri seperti pabrik biasanya dipilih karena kemudahan akses terhadap […]

  • Perekonomian Triwulan III 2025 Dinyatakan Resilien: Analisis dan Implikasi

    Perekonomian Triwulan III 2025 Dinyatakan Resilien: Analisis dan Implikasi

    • calendar_month Sab, 1 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 354
    • 0Komentar

    Perekonomian Indonesia kembali menunjukkan tanda-tanda kekuatan di tengah tantangan global. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun 2025 mencapai 5,04% secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional berhasil menjaga momentum pertumbuhan meskipun menghadapi berbagai tekanan eksternal seperti inflasi global dan ketidakpastian pasar keuangan. […]

expand_less