Breaking News
light_mode
Beranda » Umum » PMK 72/2025: Aturan PPh Pasal 21 DTP untuk Sektor Pariwisata dan Padat Karya

PMK 72/2025: Aturan PPh Pasal 21 DTP untuk Sektor Pariwisata dan Padat Karya

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Sen, 3 Nov 2025
  • visibility 276
  • comment 0 komentar

Pemerintah Indonesia kembali memberikan kebijakan yang menarik bagi para pekerja dan pengusaha di berbagai sektor. Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 72 Tahun 2025, insentif Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (PPh Pasal 21 DTP) diperluas ke sektor pariwisata. Ini menjadi langkah strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Apa Itu PPh Pasal 21 DTP?

Secara sederhana, PPh Pasal 21 DTP adalah kebijakan pemerintah yang menanggung pembayaran pajak penghasilan pegawai. Artinya, pegawai yang memenuhi kriteria tertentu tidak perlu lagi membayar PPh Pasal 21 dari gajinya karena negara yang akan membayarnya. Hasil akhirnya? Gaji pegawai yang diterima menjadi utuh tanpa potongan pajak. Jika sebelumnya seorang karyawan dengan gaji Rp10 juta per bulan harus membayar pajak sekitar Rp226.250 setiap bulannya, kini dia bisa menerima gaji penuh Rp10 juta tanpa potongan pajak itu. Uang yang biasanya diambil negara malah dibayarkan langsung oleh pemerintah kepada pemberi kerja untuk diberikan kepada pegawai dalam bentuk tunai.

Sektor-Sektor Penerima Insentif

Berdasarkan PMK 72/2025, insentif PPh Pasal 21 DTP kini berlaku untuk lima bidang industri utama:

Sektor Padat Karya (Berlaku Januari-Desember 2025)

Industri Alas Kaki – termasuk sepatu olahraga, sepatu teknik, dan alas kaki untuk keperluan sehari-hari

Industri Tekstil dan Pakaian Jadi – mencakup persiapan serat, pemintalan benang, pertenunan, konveksi, batik, dan rajutan

Industri Furnitur – dari kayu, rotan, bambu, plastik, dan logam

Industri Kulit dan Barang dari Kulit – pengawetan kulit, penyamakan, serta produk jadi dari kulit seperti tas, dompet, dan aksesori

Sektor Pariwisata (Berlaku Oktober-Desember 2025)

Pemerintah mengidentifikasi sebanyak 77 Kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) di sektor pariwisata. Beberapa di antaranya mencakup:

Akomodasi : Hotel bintang, hotel melati, pondok wisata, vila, apartemen hotel, youth hostel, bumi perkemahan, dan persinggahan karavan

Transportasi Wisata : Angkutan darat wisata, angkutan laut dalam negeri untuk wisata, dan angkutan laut luar negeri untuk wisata

Makanan dan Minuman : Restoran, rumah/warung makan, kedai makanan, jasa boga untuk event tertentu, bar, kelab malam, diskotek, rumah minum, dan kafe

Hiburan dan Rekreasi : Spa, karaoke, tempat pijat, dan venue penyelenggaraan acara MICE (meetings, incentives, conventions, dan exhibitions)

Kawasan Pariwisata: Penyelenggaraan dan pengurusan kawasan wisata

Angkutan darat wisata dengan kode KLU 49425, hotel bintang 55110, restoran 56101, bar 56301, kafe 56303, dan kawasan pariwisata 68120 adalah beberapa contoh KLU yang tercantum dalam lampiran PMK 72/2025.

Kriteria dan Syarat Penerima Insentif

Untuk memanfaatkan insentif ini, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi, baik oleh pemberi kerja maupun pegawai.

Syarat Pemberi Kerja

Perusahaan yang ingin memberikan insentif ini kepada karyawannya harus memenuhi dua persyaratan utama:

Melakukan Kegiatan Usaha di Sektor yang Ditentukan – Pemberi kerja harus bergerak di salah satu dari lima sektor industri yang disebutkan di atas.

Memiliki Kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) yang Tepat – Lebih penting lagi, KLU utama perusahaan harus tercantum dalam Lampiran A PMK 72/2025 dan tercatat dalam basis data administrasi perpajakan Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

Syarat Pegawai Tetap Tertentu

Pegawai tetap yang ingin mendapat insentif ini harus memenuhi tiga kriteria:

Memiliki NPWP dan/atau NIK yang telah didaftarkan dan terintegrasi dengan sistem administrasi DJP

Menerima Penghasilan Bruto Maksimal Rp10 Juta per Bulan – Penghasilan yang dimaksud adalah penghasilan tetap dan teratur, mencakup gaji pokok, tunjangan tetap, dan natura yang bersifat rutin. Bonus, THR, insentif lembur, dan tunjangan insidental lainnya TIDAK menggugurkan hak atas insentif ini.

Tidak Menerima Insentif PPh Pasal 21 DTP Lainnya – Pegawai tidak boleh menerima insentif PPh 21 DTP dari regulasi lain berdasarkan peraturan perpajakan yang berbeda.

Syarat Pegawai Tidak Tetap Tertentu

Pegawai tidak tetap (seperti pegawai kontrak harian atau mingguan) juga bisa mendapat insentif ini, asalkan memenuhi kriteria:

Memiliki NPWP dan/atau NIK yang terintegrasi dengan sistem DJP

Penghasilan Bruto per Hari atau per Periode Pembayaran Tidak Lebih dari Rp500.000 per Hari atau Rp10 Juta per Bulan

Tidak Menerima Insentif PPh Pasal 21 DTP Lainnya

Jangka Waktu Pemberian Insentif

Jangka waktu insentif berbeda-beda tergantung sektor:

Untuk Sektor Padat Karya (Alas Kaki, Tekstil, Furnitur, Kulit)

Mulai : Masa Pajak Januari 2025

Berakhir : Masa Pajak Desember 2025

Durasi: Sepanjang tahun 2025

Untuk Sektor Pariwisata

Mulai : Masa Pajak Oktober 2025

Berakhir : Masa Pajak Desember 2025

Durasi: Tiga bulan terakhir tahun 2025

Kenapa sektor pariwisata mendapat periode yang lebih pendek? Ini adalah bagian dari paket stimulus akhir tahun pemerintah untuk meringankan beban pajak para pekerja sekaligus mendorong daya beli menjelang akhir tahun dan liburan.

Mekanisme Pemberian Insentif

Lantas, bagaimana praktiknya? Berikut adalah mekanisme pemberian insentif PPh Pasal 21 DTP:

Pembayaran Tunai oleh Pemberi Kerja

Pemerintah menetapkan bahwa insentif PPh Pasal 21 DTP harus dibayarkan secara tunai oleh pemberi kerja pada saat pembayaran penghasilan kepada pegawai. Tidak boleh dipotong dari gaji pegawai.

Contoh: Jika gaji pegawai Rp9 juta per bulan dan pajak yang seharusnya dipotong adalah Rp200.000, pemberi kerja membayarkan kepada pegawai gaji penuh Rp9 juta (tidak dipotong). Kemudian, pemberi kerja menyerahkan tambahan uang tunai sejumlah Rp200.000 sebagai insentif PPh 21 DTP yang ditanggung pemerintah.

Tidak Dihitung sebagai Penghasilan Kena Pajak

Uang insentif PPh Pasal 21 DTP yang diterima pegawai tidak dihitung sebagai penghasilan yang dikenakan pajak lagi untuk pegawai bersangkutan. Jadi, tidak ada perpajakan berlapis.

Pembuatan Bukti Potong

Atas pemberian insentif ini, pemberi kerja wajib membuat bukti pemotongan (bukti potong) sesuai dengan ketentuan perpajakan yang berlaku. Bukti potong dibuat melalui aplikasi e-Bupot yang terintegrasi dengan sistem administrasi DJP dan harus ditandatangani dengan tanda tangan elektronik.

Bukti potong ini berfungsi sebagai dokumentasi bahwa PPh Pasal 21 atas penghasilan pegawai telah ditanggung pemerintah dan menjadi bagian dari pelaporan pajak.

Keuntungan bagi Pegawai dan Pengusaha

Insentif ini membawa manfaat yang nyata untuk kedua belah pihak:

Bagi Pegawai

Gaji Lebih Besar : Menerima gaji penuh tanpa potongan pajak

Daya Beli Meningkat : Uang lebih untuk kebutuhan sehari-hari

Masa Sulit : Membantu menghadapi tekanan ekonomi global

Fleksibilitas Bonus: Bonus dan THR tetap bisa diterima tanpa menggugurkan hak

Bagi Pengusaha

Stabilitas Tenaga Kerja : Karyawan lebih betah karena gaji lebih besar

Produktivitas : Karyawan yang sejahtera cenderung lebih produktif

Sektor Pariwisata: Khususnya membantu pemulihan ekonomi pasca pandemi

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Q: Apakah sektor retail dan perdagangan bisa mendapat insentif ini?

A: Tidak. Hingga saat ini, insentif ini hanya berlaku untuk lima sektor yang ditentukan: alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit, dan pariwisata. Sektor lain seperti retail, perdagangan, atau manufaktur lainnya belum termasuk.

Q: Berapa maksimal insentif yang bisa diterima pegawai dalam setahun?

A: Tidak ada batasan maksimal insentif per pegawai. Besarnya insentif ditentukan berdasarkan perhitungan PPh Pasal 21 yang terutang dari gaji pegawai.

Q: Bagaimana jika pegawai berganti pekerjaan di tengah tahun?

A: Insentif diberikan berdasarkan waktu bekerja di perusahaan penerima insentif. Jika pegawai berpindah ke perusahaan yang juga penerima insentif, dia tetap berhak mendapat insentif di perusahaan baru sesuai periode yang ditentukan.

Q: Apakah pegawai kontrak bisa mendapat insentif?

A: Ya, pegawai tidak tetap (kontrak) bisa mendapat insentif asalkan memenuhi kriteria yang ditentukan, termasuk batas penghasilan Rp500.000 per hari atau Rp10 juta per bulan.

Q: Bagaimana dengan pegawai yang tidak punya NPWP?

A: Pegawai harus memiliki NPWP atau NIK yang terintegrasi dengan sistem DJP untuk bisa menerima insentif. Pegawai yang belum memiliki NPWP sebaiknya segera mendaftarkan diri.

Kesimpulan

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 72 Tahun 2025 tentang insentif PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah merupakan wujud komitmen pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat sambil mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan memperluas insentif ini ke sektor pariwisata, pemerintah mengakui pentingnya peran sektor ini dalam pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi.

Bagi para pekerja di sektor yang ditentukan, insentif ini adalah kesempatan emas untuk meningkatkan penghasilan bersih. Bagi pengusaha, ini adalah momen untuk menjaga dan memotivasi tenaga kerja mereka.

Namun, untuk bisa memanfaatkan insentif ini sepenuhnya, pastikan semua persyaratan terpenuhi-dari kode KLU yang benar di DJP, NPWP pegawai yang aktif, hingga prosedur administratif yang tepat. Perhatian terhadap detail akan membuat perbedaan dalam kelancaran pelaksanaan insentif ini.

Semoga artikel ini bermanfaat dan memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang insentif PPh Pasal 21 DTP berdasarkan PMK 72 Tahun 2025. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, pastikan untuk menghubungi konsultan pajak atau kantor pajak terdekat.

Tags:

PMK722025 #PPhPasal21DTP #SektorPariwisata #SektorPadatKarya #InsentifPajak #PajakPenghasilan #PengusahaIndonesia #PekerjaIndonesia #EkonomiNasional #PemulihanEkonomi

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jumlah Pelaku Usaha UMKM Mencapai Sekitar 66 Juta Unit Usaha: Data Terbaru dan Analisis

    Jumlah Pelaku Usaha UMKM Mencapai Sekitar 66 Juta Unit Usaha: Data Terbaru dan Analisis

    • calendar_month Ming, 9 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Di tengah dinamika perekonomian yang terus berkembang, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia. Dengan jumlah mencapai sekitar 66 juta unit usaha, UMKM tidak hanya menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi ratusan juta masyarakat. Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai […]

  • Keterkaitan Antara OJK dan LPS dalam Industri Perbankan: Peran dan Fungsi Masing-Masing

    Keterkaitan Antara OJK dan LPS dalam Industri Perbankan: Peran dan Fungsi Masing-Masing

    • calendar_month Sab, 24 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 379
    • 0Komentar

    Dalam dunia perbankan, dua lembaga yang sering menjadi topik pembahasan adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Keduanya memiliki peran masing-masing dalam menjaga stabilitas sistem keuangan di Indonesia. Namun, bagaimana keterkaitan antara OJK dan LPS dalam industri perbankan? Mari kita eksplorasi lebih dalam. Peran dan Fungsi OJK Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan […]

  • Cara Mendapatkan No WA Pinjaman Uang Tanpa Jaminan yang Aman dan Terpercaya

    Cara Mendapatkan No WA Pinjaman Uang Tanpa Jaminan yang Aman dan Terpercaya

    • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Di tengah tantangan ekonomi yang semakin kompleks, banyak masyarakat membutuhkan dana darurat secara cepat. Salah satu solusi yang sering digunakan adalah pinjaman online (pinjol). Namun, tidak semua layanan pinjol bisa diandalkan. Banyak oknum ilegal menawarkan pinjaman melalui WhatsApp (WA) tanpa jaminan, yang berpotensi menipu dan merugikan pengguna. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara mendapatkan […]

  • Laporan Bankir Mengungkap Strategi Jaga Kualitas Kredit di Tengah Ekonomi yang Berubah-ubah

    Laporan Bankir Mengungkap Strategi Jaga Kualitas Kredit di Tengah Ekonomi yang Berubah-ubah

    • calendar_month Jum, 7 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 269
    • 0Komentar

    Di tengah situasi ekonomi yang terus bergerak dan penuh ketidakpastian, para pelaku bisnis dan lembaga keuangan menghadapi tantangan besar dalam menjaga kualitas kredit. Khususnya, perbankan harus mampu menyeimbangkan antara pertumbuhan portofolio kredit dengan pengelolaan risiko yang optimal. Dalam konteks ini, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi salah satu contoh yang menarik untuk diteliti, karena telah […]

  • Pelaku usaha berbagi pengalaman bisnis dan motivasi penghasilan di sebuah pertemuan komunitas

    Pelaku usaha berbagi pengalaman bisnis dan motivasi penghasilan di sebuah pertemuan komunitas

    • calendar_month Sen, 27 Apr 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 210
    • 0Komentar

    RadarEkonomi.com, Jakarta 27 April 2026 –Sebuah kegiatan pertemuan komunitas bisnis digelar dengan menghadirkan pemaparan pengalaman usaha, motivasi, serta peluang penghasilan bagi masyarakat. Acara ini diawali dengan sapaan dan ajakan kepada peserta untuk bergabung serta memahami konsep usaha yang ditawarkan. Dalam pemaparannya, narasumber menceritakan perjalanan usaha yang dimulai sejak masa krisis moneter 1998. Saat itu, banyak […]

  • PT SMI Bukukan Aset Rp115,6 Triliun Per September 2025 untuk Pembiayaan Infrastruktur

    PT SMI Bukukan Aset Rp115,6 Triliun Per September 2025 untuk Pembiayaan Infrastruktur

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa dipisahkan dari pengembangan infrastruktur yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, peran PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau SMI menjadi sangat penting sebagai salah satu lembaga yang bertugas memfasilitasi pendanaan infrastruktur di seluruh wilayah Nusantara. Baru-baru ini, SMI mencatatkan aset senilai Rp115,6 triliun pada September 2025, yang akan digunakan untuk mendukung proyek […]

expand_less