Breaking News
light_mode
Beranda » Makroekonomi » Inflasi Volatile Food Mencapai 6,44 Persen Akibat Gejolak Cuaca

Inflasi Volatile Food Mencapai 6,44 Persen Akibat Gejolak Cuaca

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
  • visibility 408
  • comment 0 komentar

Di tengah perubahan iklim yang semakin tidak terduga, inflasi volatile food atau inflasi pangan yang bergejolak kembali menjadi sorotan. Menurut data terbaru dari Bank Indonesia (BI), inflasi kelompok volatile food pada Oktober 2025 mencapai 6,44 persen secara tahunan (yoy). Angka ini sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 6,44 persen. Meski peningkatan ini tergolong kecil, dampaknya terasa signifikan bagi masyarakat luas, terutama konsumen rumah tangga.

Inflasi volatile food biasanya dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas seperti cabai merah, bawang merah, beras, telur ayam ras, dan daging ayam. Penyebab utama kenaikan harga tersebut adalah gangguan pasokan akibat gejolak cuaca. Curah hujan yang tinggi, banjir, atau kekeringan dapat menghambat produksi pertanian, sehingga menyebabkan keterbatasan pasokan dan naiknya harga.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa inflasi pangan yang meningkat beberapa waktu terakhir memerlukan koordinasi lebih lanjut antara BI dan pemerintah pusat serta daerah. “Kondisi ini memerlukan kerja sama yang lebih erat dalam pengendalian inflasi,” ujar Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.

Dampak Inflasi Pangan Terhadap Kehidupan Sehari-hari

Inflasi pangan yang tinggi memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Harga bahan pokok yang melonjak membuat daya beli masyarakat menurun, terutama bagi keluarga dengan pendapatan rendah. Kenaikan harga cabai merah, misalnya, bisa berdampak pada biaya hidup sehari-hari karena bahan ini sering digunakan dalam masakan sehari-hari.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Oktober 2025 dengan angka 6,59% yoy. Kenaikan harga cabai merah, beras, bawang merah, dan daging ayam ras menjadi faktor utama peningkatan inflasi tersebut. Selain itu, inflasi volatile food juga dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan akibat gangguan cuaca.

Penyebab Utama Inflasi Volatile Food

Beberapa faktor utama yang menyebabkan inflasi volatile food adalah:

  1. Gangguan Produksi Pertanian: Cuaca ekstrem seperti hujan deras, banjir, atau kekeringan dapat menghambat produksi tanaman pangan, terutama cabai merah dan bawang merah.
  2. Keterbatasan Pasokan: Keterbatasan pasokan dari petani akan memicu kenaikan harga di pasar.
  3. Biaya Distribusi yang Meningkat: Cuaca buruk juga bisa mengganggu transportasi, sehingga biaya distribusi meningkat dan berdampak pada harga jual.
  4. Ekspektasi Konsumen: Ketika harga bahan pokok mulai naik, konsumen cenderung membeli lebih banyak untuk mengantisipasi kenaikan selanjutnya, sehingga memperparah permintaan dan harga.

Upaya Pengendalian Inflasi

Bank Indonesia bersama pemerintah dan lembaga terkait telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan inflasi volatile food. Salah satu strategi utama adalah Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang bertujuan untuk menjaga stabilitas harga pangan melalui koordinasi antara pusat dan daerah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa inflasi volatile food pada Oktober 2025 mengalami penurunan sebesar 0,03% (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, secara tahunan inflasi volatile food tetap tinggi, yaitu 6,59% (yoy).

“Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali didukung oleh eratnya sinergi antara Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID melalui GNPIP di berbagai daerah,” kata Ramdan.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Pemerintah juga memainkan peran penting dalam mengendalikan inflasi volatile food. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:

  • Subsidi dan Bantuan Langsung Tunai (BLT): Untuk membantu masyarakat yang terdampak kenaikan harga pangan.
  • Penyediaan Cadangan Beras: Memastikan stok beras cukup untuk menghindari kenaikan harga yang terlalu tajam.
  • Perbaikan Infrastruktur Pertanian: Membangun sistem irigasi dan jalan yang memadai agar produksi pertanian tidak terganggu oleh cuaca ekstrem.
  • Sosialisasi dan Edukasi: Memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara mengelola keuangan dan memilih bahan pangan yang lebih murah.

Selain itu, masyarakat juga perlu lebih bijak dalam mengatur pengeluaran. Misalnya, mengganti bahan pangan yang mahal dengan alternatif yang lebih murah, seperti menggunakan bawang putih sebagai pengganti bawang merah, atau memilih bahan protein alternatif seperti tahu dan tempe.

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Meskipun inflasi volatile food masih tinggi, Bank Indonesia optimis bahwa inflasi secara keseluruhan akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5% ± 1% pada 2025 dan 2026. Hal ini didukung oleh stabilnya inflasi inti, ekspektasi inflasi yang terjaga, serta inflasi impor yang terkendali.

Namun, tantangan tetap ada. Perubahan iklim yang semakin tidak terduga akan terus memengaruhi produksi pertanian. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dan adaptasi dari sektor pertanian, termasuk penggunaan teknologi modern dan pola tanam yang lebih efisien.

FAQ (Frequently Asked Questions)

Apa itu inflasi volatile food?

Inflasi volatile food adalah inflasi yang disebabkan oleh perubahan harga komoditas pangan yang bergejolak, seperti cabai merah, bawang merah, beras, telur ayam, dan daging ayam.

Mengapa inflasi volatile food meningkat?

Inflasi volatile food meningkat akibat gangguan produksi pertanian akibat cuaca ekstrem, seperti banjir atau kekeringan, yang menyebabkan keterbatasan pasokan dan kenaikan harga.

Bagaimana Bank Indonesia mengendalikan inflasi volatile food?

Bank Indonesia bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga terkait melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Apakah inflasi volatile food akan terus meningkat?

Dengan koordinasi yang baik dan upaya pemerintah serta masyarakat, inflasi volatile food diprediksi akan tetap terkendali meskipun ada tantangan dari perubahan iklim.

Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghadapi inflasi pangan?

Masyarakat dapat mengatur pengeluaran dengan lebih bijak, memilih bahan pangan alternatif yang lebih murah, dan memanfaatkan subsidi atau bantuan pemerintah jika tersedia.


Tagging:

InflasiVolatileFood #CuacaEkstrem #StabilitasHargaPangan #BankIndonesia #PengendalianInflasi #GejolakCuaca #KenaikanHargaPangan #PanganStrategis #EkonomiIndonesia

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 2 Hal Penting yang Harus Diperhatikan dalam Prinsip Ekonomi

    2 Hal Penting yang Harus Diperhatikan dalam Prinsip Ekonomi

    • calendar_month Sen, 26 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 283
    • 0Komentar

    Prinsip ekonomi adalah dasar dari setiap keputusan finansial yang diambil, baik oleh individu maupun organisasi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali tidak menyadari bahwa setiap tindakan ekonomi yang kita lakukan didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. Untuk memahami lebih dalam, mari kita bahas dua hal penting yang harus diperhatikan dalam prinsip ekonomi. 1. Rasionalitas dalam Pengambilan Keputusan […]

  • Diduga Keluarga Tersangka Penganiayaan Berat Menyembunyikan DPO

    Diduga Keluarga Tersangka Penganiayaan Berat Menyembunyikan DPO

    • calendar_month Jum, 17 Jul 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Radarekonomi.com, Medan – Kasus penganiayaan berat yang dilakukan tersangka, LS yang kini ditetapkan sebagai DPO Polrestabes Medan terus bergulir. Publik berasumsi, DPO penganiayaan berat, LS diduga disembunyikan oleh pihak keluarga,”(17/07/26). Indikasi ini diyakini warga karena sampai sekarang, LS tak kunjung menyerahkan diri meski sudah berstatus DPO. “Bisa saja, LS yang kini berstatus sebagai buronan Polrestabes […]

  • Bisnis Minyak dan Gas Bumi Mencatat Realisasi Investasi yang Signifikan: Tren Terkini dan Analisis

    Bisnis Minyak dan Gas Bumi Mencatat Realisasi Investasi yang Signifikan: Tren Terkini dan Analisis

    • calendar_month Jum, 14 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 348
    • 0Komentar

    Dalam beberapa tahun terakhir, sektor bisnis minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia mengalami perubahan signifikan, khususnya dalam hal realisasi investasi. Meskipun sektor ini sering kali dianggap sebagai bagian dari energi tradisional, kenyataannya, industri migas tetap menjadi salah satu pilar utama dalam perekonomian nasional. Dengan adanya peningkatan realisasi investasi yang mencerminkan optimisme investor, sektor ini […]

  • Kepercayaan Bisnis di Sektor Manufaktur Menurun Akibat Kenaikan Biaya Input

    Kepercayaan Bisnis di Sektor Manufaktur Menurun Akibat Kenaikan Biaya Input

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 333
    • 0Komentar

    Sektor manufaktur Indonesia kembali menjadi sorotan setelah data terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan bisnis di sektor ini sedikit melemah. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kenaikan biaya input yang semakin menghimpit pelaku usaha. Meski ada indikasi perbaikan dari bulan sebelumnya, kondisi ini masih memicu kekhawatiran akan stabilitas ekonomi dan daya saing industri dalam […]

  • Cara Mencari PO Bus Pariwisata Terdekat untuk Perjalanan Liburan

    Cara Mencari PO Bus Pariwisata Terdekat untuk Perjalanan Liburan

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 332
    • 0Komentar

    Liburan adalah momen yang dinantikan oleh banyak orang, baik itu untuk bersenang-senang, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau sekadar melepas penat dari rutinitas. Namun, perjalanan yang nyaman dan aman sangat penting agar liburan berjalan lancar. Salah satu hal yang sering menjadi pertimbangan adalah memilih jasa PO bus pariwisata yang tepat. Dengan mencari PO bus pariwisata terdekat, […]

  • Mengapa Anak Dianggap Sebagai Investasi Akhirat dalam Perspektif Agama dan Kehidupan

    Mengapa Anak Dianggap Sebagai Investasi Akhirat dalam Perspektif Agama dan Kehidupan

    • calendar_month Rab, 31 Des 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Dalam dunia ekonomi, istilah “investasi” sering dikaitkan dengan bentuk-bentuk aset seperti saham, reksa dana, atau properti yang diharapkan memberikan keuntungan finansial di masa depan. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang agama dan kehidupan spiritual, investasi tidak hanya terbatas pada hal-hal material. Salah satu bentuk investasi yang paling berharga dan berdampak jangka panjang adalah anak […]

expand_less