Breaking News
light_mode
Beranda » Makroekonomi » Inflasi Volatile Food Mencapai 6,44 Persen Akibat Gejolak Cuaca

Inflasi Volatile Food Mencapai 6,44 Persen Akibat Gejolak Cuaca

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
  • visibility 219
  • comment 0 komentar

Di tengah perubahan iklim yang semakin tidak terduga, inflasi volatile food atau inflasi pangan yang bergejolak kembali menjadi sorotan. Menurut data terbaru dari Bank Indonesia (BI), inflasi kelompok volatile food pada Oktober 2025 mencapai 6,44 persen secara tahunan (yoy). Angka ini sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 6,44 persen. Meski peningkatan ini tergolong kecil, dampaknya terasa signifikan bagi masyarakat luas, terutama konsumen rumah tangga.

Inflasi volatile food biasanya dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas seperti cabai merah, bawang merah, beras, telur ayam ras, dan daging ayam. Penyebab utama kenaikan harga tersebut adalah gangguan pasokan akibat gejolak cuaca. Curah hujan yang tinggi, banjir, atau kekeringan dapat menghambat produksi pertanian, sehingga menyebabkan keterbatasan pasokan dan naiknya harga.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa inflasi pangan yang meningkat beberapa waktu terakhir memerlukan koordinasi lebih lanjut antara BI dan pemerintah pusat serta daerah. “Kondisi ini memerlukan kerja sama yang lebih erat dalam pengendalian inflasi,” ujar Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.

Dampak Inflasi Pangan Terhadap Kehidupan Sehari-hari

Inflasi pangan yang tinggi memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Harga bahan pokok yang melonjak membuat daya beli masyarakat menurun, terutama bagi keluarga dengan pendapatan rendah. Kenaikan harga cabai merah, misalnya, bisa berdampak pada biaya hidup sehari-hari karena bahan ini sering digunakan dalam masakan sehari-hari.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi pada Oktober 2025 dengan angka 6,59% yoy. Kenaikan harga cabai merah, beras, bawang merah, dan daging ayam ras menjadi faktor utama peningkatan inflasi tersebut. Selain itu, inflasi volatile food juga dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan akibat gangguan cuaca.

Penyebab Utama Inflasi Volatile Food

Beberapa faktor utama yang menyebabkan inflasi volatile food adalah:

  1. Gangguan Produksi Pertanian: Cuaca ekstrem seperti hujan deras, banjir, atau kekeringan dapat menghambat produksi tanaman pangan, terutama cabai merah dan bawang merah.
  2. Keterbatasan Pasokan: Keterbatasan pasokan dari petani akan memicu kenaikan harga di pasar.
  3. Biaya Distribusi yang Meningkat: Cuaca buruk juga bisa mengganggu transportasi, sehingga biaya distribusi meningkat dan berdampak pada harga jual.
  4. Ekspektasi Konsumen: Ketika harga bahan pokok mulai naik, konsumen cenderung membeli lebih banyak untuk mengantisipasi kenaikan selanjutnya, sehingga memperparah permintaan dan harga.

Upaya Pengendalian Inflasi

Bank Indonesia bersama pemerintah dan lembaga terkait telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan inflasi volatile food. Salah satu strategi utama adalah Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang bertujuan untuk menjaga stabilitas harga pangan melalui koordinasi antara pusat dan daerah.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan bahwa inflasi volatile food pada Oktober 2025 mengalami penurunan sebesar 0,03% (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, secara tahunan inflasi volatile food tetap tinggi, yaitu 6,59% (yoy).

“Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali didukung oleh eratnya sinergi antara Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID melalui GNPIP di berbagai daerah,” kata Ramdan.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Pemerintah juga memainkan peran penting dalam mengendalikan inflasi volatile food. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain:

  • Subsidi dan Bantuan Langsung Tunai (BLT): Untuk membantu masyarakat yang terdampak kenaikan harga pangan.
  • Penyediaan Cadangan Beras: Memastikan stok beras cukup untuk menghindari kenaikan harga yang terlalu tajam.
  • Perbaikan Infrastruktur Pertanian: Membangun sistem irigasi dan jalan yang memadai agar produksi pertanian tidak terganggu oleh cuaca ekstrem.
  • Sosialisasi dan Edukasi: Memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara mengelola keuangan dan memilih bahan pangan yang lebih murah.

Selain itu, masyarakat juga perlu lebih bijak dalam mengatur pengeluaran. Misalnya, mengganti bahan pangan yang mahal dengan alternatif yang lebih murah, seperti menggunakan bawang putih sebagai pengganti bawang merah, atau memilih bahan protein alternatif seperti tahu dan tempe.

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Meskipun inflasi volatile food masih tinggi, Bank Indonesia optimis bahwa inflasi secara keseluruhan akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5% ± 1% pada 2025 dan 2026. Hal ini didukung oleh stabilnya inflasi inti, ekspektasi inflasi yang terjaga, serta inflasi impor yang terkendali.

Namun, tantangan tetap ada. Perubahan iklim yang semakin tidak terduga akan terus memengaruhi produksi pertanian. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dan adaptasi dari sektor pertanian, termasuk penggunaan teknologi modern dan pola tanam yang lebih efisien.

FAQ (Frequently Asked Questions)

Apa itu inflasi volatile food?

Inflasi volatile food adalah inflasi yang disebabkan oleh perubahan harga komoditas pangan yang bergejolak, seperti cabai merah, bawang merah, beras, telur ayam, dan daging ayam.

Mengapa inflasi volatile food meningkat?

Inflasi volatile food meningkat akibat gangguan produksi pertanian akibat cuaca ekstrem, seperti banjir atau kekeringan, yang menyebabkan keterbatasan pasokan dan kenaikan harga.

Bagaimana Bank Indonesia mengendalikan inflasi volatile food?

Bank Indonesia bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga terkait melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) untuk menjaga stabilitas harga pangan.

Apakah inflasi volatile food akan terus meningkat?

Dengan koordinasi yang baik dan upaya pemerintah serta masyarakat, inflasi volatile food diprediksi akan tetap terkendali meskipun ada tantangan dari perubahan iklim.

Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk menghadapi inflasi pangan?

Masyarakat dapat mengatur pengeluaran dengan lebih bijak, memilih bahan pangan alternatif yang lebih murah, dan memanfaatkan subsidi atau bantuan pemerintah jika tersedia.


Tagging:

InflasiVolatileFood #CuacaEkstrem #StabilitasHargaPangan #BankIndonesia #PengendalianInflasi #GejolakCuaca #KenaikanHargaPangan #PanganStrategis #EkonomiIndonesia

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Contoh Kegiatan Ekonomi Agraris yang Umum Diketahui

    Contoh Kegiatan Ekonomi Agraris yang Umum Diketahui

    • calendar_month Sab, 15 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 219
    • 0Komentar

    Di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompleks, sektor agraris tetap menjadi tulang punggung perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia. Salah satu contoh kegiatan ekonomi agraris adalah pertanian, yang tidak hanya berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar penduduk. Artikel ini akan membahas lebih dalam tentang apa itu kegiatan ekonomi […]

  • Ekspor YTD Naik 8,14 Persen Dibanding Periode Sama Tahun 2024: Analisis dan Tren Terkini

    Ekspor YTD Naik 8,14 Persen Dibanding Periode Sama Tahun 2024: Analisis dan Tren Terkini

    • calendar_month Rab, 12 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Indonesia kembali menunjukkan pertumbuhan positif di sektor ekspor, terutama dalam kinerja ekspor nonmigas yang mencatatkan peningkatan signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nonmigas pada periode Januari hingga Agustus 2024 mencapai US$160,36 miliar, naik 8,14 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa perekonomian nasional sedang bergerak […]

  • Perkembangan Ekonomi Kreatif di Daerah Kalian: Tren Terbaru dan Dampaknya

    Perkembangan Ekonomi Kreatif di Daerah Kalian: Tren Terbaru dan Dampaknya

    • calendar_month Sel, 9 Des 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 227
    • 0Komentar

    Di tengah dinamika perekonomian nasional, ekonomi kreatif menjadi salah satu sektor yang menarik perhatian. Di berbagai daerah, termasuk daerah kalian, perkembangan ekonomi kreatif terus mengalami peningkatan. Hal ini tidak hanya memberikan dampak positif pada perekonomian, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat setempat. Ekonomi kreatif memanfaatkan ide, kreativitas, dan inovasi untuk menciptakan nilai tambah. Dalam […]

  • BUMN Tak Lagi Mandiri? Ini Penjelasan di Balik Penggabungan di Wisma Danantara

    • calendar_month Sab, 28 Mar 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Penggabungan atau merger antar BUMN kembali menjadi topik yang menarik perhatian publik. Kali ini, isu penggabungan usaha manajer investasi milik Bank BUMN menyedot perhatian masyarakat. Di tengah kontroversi tersebut, banyak yang bertanya-tanya apakah BUMN kehilangan kemandirian mereka. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami latar belakang dan alasan di balik rencana penggabungan tersebut. Berdasarkan informasi […]

  • Cara Dapat Komisi 100 Juta dari Jualan Hampers di TikTok: Strategi Merapat yang Efektif

    • calendar_month Sen, 30 Mar 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Di tengah persaingan bisnis digital yang semakin ketat, TikTok telah menjadi salah satu platform paling efektif untuk menjual produk. Salah satu strategi yang kini sedang tren adalah affiliate marketing, terutama dalam bentuk penjualan hampers. Tidak hanya menguntungkan, tetapi juga bisa memberikan komisi hingga ratusan juta rupiah jika dilakukan dengan benar. Berikut ini adalah panduan lengkap […]

  • Contoh Teknologi Finansial yang Mengubah Industri Keuangan di Indonesia

    Contoh Teknologi Finansial yang Mengubah Industri Keuangan di Indonesia

    • calendar_month Sel, 20 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Contoh Teknologi Finansial yang Mengubah Industri Keuangan di Indonesia Di era digital yang semakin pesat, teknologi finansial (fintech) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan ekonomi masyarakat. Dengan kemudahan akses dan inovasi yang terus berkembang, fintech tidak hanya mengubah cara kita bertransaksi, tetapi juga memberikan solusi yang lebih efisien dan transparan dalam pengelolaan keuangan. Berikut […]

expand_less