Breaking News
light_mode
Beranda » Makroekonomi » Krisis Energi Dunia Melanda, Tapi RI Malah Ekspor Listrik? Ini Penjelasannya

Krisis Energi Dunia Melanda, Tapi RI Malah Ekspor Listrik? Ini Penjelasannya

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Jum, 6 Mar 2026
  • visibility 336
  • comment 0 komentar

Krisis energi global yang terus berlangsung akhir-akhir ini memicu kekhawatiran di berbagai negara. Dari konflik geopolitik hingga kenaikan harga minyak mentah, situasi ini telah mengganggu pasokan listrik dan bahan bakar di banyak wilayah. Namun, Indonesia justru menunjukkan kebijakan yang seolah bertolak belakang dengan kondisi tersebut. Meski menghadapi ancaman krisis energi, pemerintah Indonesia malah menjajaki rencana ekspor listrik ke negara tetangga seperti Singapura. Pertanyaannya, bagaimana bisa sebuah negara yang masih bergantung pada impor energi justru memilih untuk mengekspor listrik?

Krisis Energi Global dan Ketergantungan Indonesia

Krisis energi dunia saat ini tidak lepas dari perang Ukraina-Rusia, ketegangan di Timur Tengah, serta perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina. Ketiga faktor ini menyebabkan fluktuasi harga minyak mentah dan gas alam yang sangat tinggi. Pada 2024, impor energi nasional Indonesia mencapai US$36,27 miliar atau sekitar Rp575,39 triliun. Jika harga minyak melonjak, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama dalam bentuk kenaikan harga BBM dan biaya produksi listrik.

Sebelumnya, pada awal perang Rusia-Ukraina tahun 2022, harga minyak mentah tembus US$100/barel, yang membuat anggaran subsidi energi membengkak. Situasi ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk mempercepat transisi energi terbarukan. Namun, upaya tersebut terbentur oleh ketergantungan pada impor energi fosil, baik minyak mentah maupun gas alam.

Mengapa Indonesia Bisa Ekspor Listrik?

PLTS Atap Di Indonesia

Meskipun ketergantungan pada impor energi masih tinggi, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Salah satu contohnya adalah proyek PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang sedang dikembangkan. Pemerintah sudah mendorong adopsi PLTS atap sejak 2018, namun aturan yang diberlakukan terkadang membatasi kapasitas pembangkitan. Misalnya, aturan yang diterbitkan pada 2024 menghapus skema net-metering, yang memungkinkan pengguna menjual kelebihan listrik ke PLN.

Namun, meskipun ada kendala, Indonesia juga memiliki proyek-proyek besar seperti PLTS terapung Cirata yang dapat memenuhi kebutuhan listrik sektor industri dan transportasi. Selain itu, pengembangan bahan bakar terbarukan seperti hidrogen hijau dan bioavtur juga sedang dilakukan. Proyek Garuda Hidrogen Hijau (GH2), misalnya, akan mulai beroperasi pada 2026 dan akan digunakan untuk produksi amonia guna mendukung industri pupuk dalam negeri.

Rencana Ekspor Listrik ke Singapura

Ekspor Listrik Ke Singapura

Salah satu langkah strategis yang diambil pemerintah adalah rencana ekspor listrik tenaga surya ke Singapura. Dengan kapasitas 3,4 GW, proyek ini bernilai investasi US$30-50 miliar dan diperkirakan dapat menambah devisa sebesar US$4-6 miliar per tahun. Namun, narasi yang disampaikan pemerintah sering kali dianggap sebagai “game changer” tanpa mempertimbangkan aspek bisnis secara menyeluruh.

Menurut analisis dari beberapa ekonom, ekspor listrik bukanlah bisnis yang menguntungkan secara signifikan. IRR (Internal Rate of Return) proyek surya biasanya hanya berkisar 6–10 persen, dengan masa kontrak 25–30 tahun. Singapura, sebagai negara yang memiliki pasar karbon dan industri teknologi, justru bisa memperoleh nilai tambah lebih besar dari ekspor listrik ini, seperti hak penghitungan emisi (carbon attribute) dan klaim net-zero korporasi.

Masa Depan Energi Indonesia

Untuk memastikan bahwa transisi energi tidak hanya menjadi komoditas ekspor, Indonesia perlu membangun ekosistem industri yang kuat. Listrik surya seharusnya menjadi input strategis, bukan barang dagangan utama. Nilai terbesar justru muncul bila listrik murah digunakan untuk produksi hidrogen hijau, industri baterai, dan pengolahan mineral beremisi rendah.

Selain itu, kerjasama multilateral dengan negara-negara Asia-Pasifik, termasuk ASEAN dan Australia, sangat penting untuk memperkuat pendanaan transisi energi. Insentif seperti tax holiday dan perbaikan sistem perizinan dapat menarik investor luar negeri. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi produsen energi terbarukan, tetapi juga pusat inovasi dan teknologi hijau.

Kesimpulan

Krisis energi global memang menjadi tantangan bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Namun, dengan kebijakan yang tepat dan visi jangka panjang, Indonesia bisa memanfaatkan potensi energi terbarukan untuk meningkatkan ketahanan energi dan kemandirian ekonomi. Ekspor listrik ke Singapura mungkin menjadi langkah awal, tetapi harus diimbangi dengan strategi yang lebih holistik agar nilai tambah bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia sendiri.

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polisi Amankan Dua Terduga Pelaku Percobaan Curanmor di Johar Baru

    Polisi Amankan Dua Terduga Pelaku Percobaan Curanmor di Johar Baru

    • calendar_month Kam, 5 Mar 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 295
    • 0Komentar

    RadarEkonomi.com, Jakarta Pusat – Unit Reskrim Polsek Johar Baru berhasil mengamankan dua pria yang diduga terlibat dalam percobaan pencurian sepeda motor di wilayah Galur, Johar Baru, Jakarta Pusat. Kedua terduga pelaku diamankan setelah aksinya dipergoki warga pada Senin (2/3/2026) sore.   Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 16.00 WIB di Jalan Topas RT 004/RW 002, Kelurahan […]

  • Bagaimana Layanan Cloud Computing Mendorong Efisiensi Operasional Perusahaan

    Bagaimana Layanan Cloud Computing Mendorong Efisiensi Operasional Perusahaan

    • calendar_month Kam, 6 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 435
    • 0Komentar

    Dalam era digital yang semakin pesat, bisnis di Indonesia terus beradaptasi dengan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Salah satu solusi yang muncul sebagai jawaban atas tantangan ini adalah layanan cloud computing. Teknologi ini tidak hanya membantu perusahaan mengakses data dan aplikasi kapan saja, di mana saja, tetapi juga memberikan fleksibilitas dan skalabilitas yang sangat […]

  • Kecanduan narkotika diduga menjadi pemicu DR nekat mencuri sepeda motor milik tetangganya sendiri di Jalan Pekapuran, Tambora

    Kecanduan narkotika diduga menjadi pemicu DR nekat mencuri sepeda motor milik tetangganya sendiri di Jalan Pekapuran, Tambora

    • calendar_month Sel, 22 Sep 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Radarekonomi.com, Jakarta Barat, Selasa (22/9/2026) – Aksi DR bersama rekannya, DD, terekam kamera CCTV. Keduanya terlihat membawa kabur sepeda motor korban dengan cara didorong atau distut lantaran kendaraan tersebut tidak dapat dinyalakan. Dalam rekaman CCTV, kedua pelaku tampak mendorong motor hingga keluar dari lokasi. Setelah berhasil menjauh dari kawasan tersebut, keduanya kemudian menghilang dari pantauan […]

  • Partai Buruh menggelar pelantikan Pengurus Pleno Exco Pusat Partai Buruh

    Partai Buruh menggelar pelantikan Pengurus Pleno Exco Pusat Partai Buruh

    • calendar_month Sen, 29 Jun 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 207
    • 0Komentar

    MabesNews.com, Jakarta – Partai Buruh menggelar pelantikan Pengurus Pleno Exco Pusat Partai Buruh, Periode 2026-2031 di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta, Senin (29/6/2026). Pembacaan ikrar dibacakan salah satu kader Partai Buruh dan disaksikan langsung oleh Presiden Partai Buruh Said Iqbal. “Kami berikrar untuk menjunjung tinggi integritas, kejujuran, disiplin, solidaritas, kolektivitas kepemimpinan, dan semangat […]

  • Masalah Pokok Ketenagakerjaan yang Dihadapi Pemerintah Indonesia

    Masalah Pokok Ketenagakerjaan yang Dihadapi Pemerintah Indonesia

    • calendar_month Sel, 16 Des 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 402
    • 0Komentar

    Pasar kerja di Indonesia terus menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Dari segi kuantitas hingga kualitas, masalah pokok ketenagakerjaan yang dihadapi pemerintah Indonesia menjadi perhatian serius bagi ekonom dan pelaku bisnis. Berikut adalah beberapa isu utama yang memengaruhi kondisi tenaga kerja di tanah air. Pertumbuhan Ekonomi Belum Cukup Salah satu masalah pokok ketenagakerjaan yang dihadapi pemerintah […]

  • Eksplorasi Minyak dan Gas Bumi Dapat Investasi Rp6,55 Triliun: Tren Terkini dan Dampak Ekonomi

    Eksplorasi Minyak dan Gas Bumi Dapat Investasi Rp6,55 Triliun: Tren Terkini dan Dampak Ekonomi

    • calendar_month Rab, 12 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Indonesia terus berupaya meningkatkan daya saing dalam sektor energi, khususnya dalam eksplorasi minyak dan gas bumi (migas). Dalam beberapa tahun terakhir, investasi yang masuk ke sektor ini semakin meningkat, salah satunya adalah dana sebesar Rp6,55 triliun yang dikucurkan untuk eksplorasi migas. Angka ini menunjukkan bahwa pemerintah dan pelaku bisnis sedang fokus pada pengembangan sumber daya […]

expand_less