Breaking News
light_mode
Beranda » Makroekonomi » Krisis Energi Dunia Melanda, Tapi RI Malah Ekspor Listrik? Ini Penjelasannya

Krisis Energi Dunia Melanda, Tapi RI Malah Ekspor Listrik? Ini Penjelasannya

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Jum, 6 Mar 2026
  • visibility 258
  • comment 0 komentar

Krisis energi global yang terus berlangsung akhir-akhir ini memicu kekhawatiran di berbagai negara. Dari konflik geopolitik hingga kenaikan harga minyak mentah, situasi ini telah mengganggu pasokan listrik dan bahan bakar di banyak wilayah. Namun, Indonesia justru menunjukkan kebijakan yang seolah bertolak belakang dengan kondisi tersebut. Meski menghadapi ancaman krisis energi, pemerintah Indonesia malah menjajaki rencana ekspor listrik ke negara tetangga seperti Singapura. Pertanyaannya, bagaimana bisa sebuah negara yang masih bergantung pada impor energi justru memilih untuk mengekspor listrik?

Krisis Energi Global dan Ketergantungan Indonesia

Krisis energi dunia saat ini tidak lepas dari perang Ukraina-Rusia, ketegangan di Timur Tengah, serta perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina. Ketiga faktor ini menyebabkan fluktuasi harga minyak mentah dan gas alam yang sangat tinggi. Pada 2024, impor energi nasional Indonesia mencapai US$36,27 miliar atau sekitar Rp575,39 triliun. Jika harga minyak melonjak, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama dalam bentuk kenaikan harga BBM dan biaya produksi listrik.

Sebelumnya, pada awal perang Rusia-Ukraina tahun 2022, harga minyak mentah tembus US$100/barel, yang membuat anggaran subsidi energi membengkak. Situasi ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk mempercepat transisi energi terbarukan. Namun, upaya tersebut terbentur oleh ketergantungan pada impor energi fosil, baik minyak mentah maupun gas alam.

Mengapa Indonesia Bisa Ekspor Listrik?

PLTS Atap Di Indonesia

Meskipun ketergantungan pada impor energi masih tinggi, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Salah satu contohnya adalah proyek PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang sedang dikembangkan. Pemerintah sudah mendorong adopsi PLTS atap sejak 2018, namun aturan yang diberlakukan terkadang membatasi kapasitas pembangkitan. Misalnya, aturan yang diterbitkan pada 2024 menghapus skema net-metering, yang memungkinkan pengguna menjual kelebihan listrik ke PLN.

Namun, meskipun ada kendala, Indonesia juga memiliki proyek-proyek besar seperti PLTS terapung Cirata yang dapat memenuhi kebutuhan listrik sektor industri dan transportasi. Selain itu, pengembangan bahan bakar terbarukan seperti hidrogen hijau dan bioavtur juga sedang dilakukan. Proyek Garuda Hidrogen Hijau (GH2), misalnya, akan mulai beroperasi pada 2026 dan akan digunakan untuk produksi amonia guna mendukung industri pupuk dalam negeri.

Rencana Ekspor Listrik ke Singapura

Ekspor Listrik Ke Singapura

Salah satu langkah strategis yang diambil pemerintah adalah rencana ekspor listrik tenaga surya ke Singapura. Dengan kapasitas 3,4 GW, proyek ini bernilai investasi US$30-50 miliar dan diperkirakan dapat menambah devisa sebesar US$4-6 miliar per tahun. Namun, narasi yang disampaikan pemerintah sering kali dianggap sebagai “game changer” tanpa mempertimbangkan aspek bisnis secara menyeluruh.

Menurut analisis dari beberapa ekonom, ekspor listrik bukanlah bisnis yang menguntungkan secara signifikan. IRR (Internal Rate of Return) proyek surya biasanya hanya berkisar 6–10 persen, dengan masa kontrak 25–30 tahun. Singapura, sebagai negara yang memiliki pasar karbon dan industri teknologi, justru bisa memperoleh nilai tambah lebih besar dari ekspor listrik ini, seperti hak penghitungan emisi (carbon attribute) dan klaim net-zero korporasi.

Masa Depan Energi Indonesia

Untuk memastikan bahwa transisi energi tidak hanya menjadi komoditas ekspor, Indonesia perlu membangun ekosistem industri yang kuat. Listrik surya seharusnya menjadi input strategis, bukan barang dagangan utama. Nilai terbesar justru muncul bila listrik murah digunakan untuk produksi hidrogen hijau, industri baterai, dan pengolahan mineral beremisi rendah.

Selain itu, kerjasama multilateral dengan negara-negara Asia-Pasifik, termasuk ASEAN dan Australia, sangat penting untuk memperkuat pendanaan transisi energi. Insentif seperti tax holiday dan perbaikan sistem perizinan dapat menarik investor luar negeri. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi produsen energi terbarukan, tetapi juga pusat inovasi dan teknologi hijau.

Kesimpulan

Krisis energi global memang menjadi tantangan bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Namun, dengan kebijakan yang tepat dan visi jangka panjang, Indonesia bisa memanfaatkan potensi energi terbarukan untuk meningkatkan ketahanan energi dan kemandirian ekonomi. Ekspor listrik ke Singapura mungkin menjadi langkah awal, tetapi harus diimbangi dengan strategi yang lebih holistik agar nilai tambah bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia sendiri.

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dampak Kebijakan Politik dan Ekonomi Masa Orde Baru terhadap Indonesia

    Dampak Kebijakan Politik dan Ekonomi Masa Orde Baru terhadap Indonesia

    • calendar_month Rab, 14 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 477
    • 0Komentar

    Dampak Kebijakan Politik dan Ekonomi Masa Orde Baru terhadap Indonesia Masa Orde Baru (1966-1998) menjadi salah satu era penting dalam sejarah Indonesia. Di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, pemerintahan ini menciptakan perubahan signifikan di berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, dan sosial. Meskipun membawa pertumbuhan ekonomi yang pesat dan stabilitas politik relatif, kebijakan yang diterapkan juga menimbulkan […]

  • Mengapa Kita Jadi Lebih Boros di Bulan Maret? Ini Penjelasan Pakar Psikologi

    Mengapa Kita Jadi Lebih Boros di Bulan Maret? Ini Penjelasan Pakar Psikologi

    • calendar_month Ming, 1 Mar 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 251
    • 0Komentar

    Bulan Maret sering kali menjadi bulan yang penuh dengan kejutan, baik dalam hal cuaca maupun keuangan. Banyak orang merasa dompet mereka terasa lebih ringan daripada biasanya, bahkan sebelum gajian tiba. Pertanyaannya, mengapa kebiasaan boros ini sering muncul di bulan tertentu, khususnya Maret? Menurut pakar psikologi, ada alasan mendalam di balik perilaku tersebut. Mari kita coba […]

  • Bank Sentral Mengantisipasi Dampak Kenaikan UMP terhadap NPL Sektor Padat Karya

    Bank Sentral Mengantisipasi Dampak Kenaikan UMP terhadap NPL Sektor Padat Karya

    • calendar_month Jum, 14 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 343
    • 0Komentar

    Di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah, Bank Sentral Indonesia (BI) kini sedang memantau dampak kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) terhadap Non-Performing Loan (NPL) di sektor padat karya. Hal ini menjadi perhatian utama karena kenaikan upah minimum yang signifikan dapat memberikan tekanan pada biaya operasional perusahaan, terutama di sektor yang bergantung pada tenaga kerja. Kenaikan […]

  • Pengertian Pariwisata Menurut Para Ahli: Definisi dan Konsep Terlengkap

    Pengertian Pariwisata Menurut Para Ahli: Definisi dan Konsep Terlengkap

    • calendar_month Sab, 20 Des 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 615
    • 0Komentar

    Pariwisata adalah salah satu sektor yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Banyak orang menghabiskan waktu luangnya untuk berlibur ke berbagai tempat, baik dalam maupun luar negeri. Namun, apakah Anda tahu apa sebenarnya pengertian pariwisata menurut para ahli? Artikel ini akan membahas secara lengkap definisi dan konsep pariwisata menurut beberapa ahli serta menjelaskan peran pariwisata dalam […]

  • Kelebihan dan Kekurangan E-Commerce yang Perlu Anda Ketahui

    Kelebihan dan Kekurangan E-Commerce yang Perlu Anda Ketahui

    • calendar_month Sen, 26 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 324
    • 0Komentar

    Dalam era digital yang semakin berkembang, e-commerce telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Dengan kemudahan akses dan berbagai fitur inovatif, banyak orang memilih belanja online sebagai alternatif utama. Namun, seperti halnya metode lainnya, e-commerce juga memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu diketahui. Artikel ini akan membahas secara lengkap mengenai kelebihan dan kekurangan e-commerce. […]

  • 5 Investasi Terbaik Saat Ini yang Menguntungkan dan Cocok untuk Pemula

    5 Investasi Terbaik Saat Ini yang Menguntungkan dan Cocok untuk Pemula

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 370
    • 0Komentar

    Investasi terbaik saat ini menjadi topik yang sangat relevan di tengah kondisi perekonomian yang seringkali tidak stabil. Dengan berbagai tantangan seperti inflasi, ketidakpastian global, dan perubahan pasar, memilih instrumen investasi yang tepat bisa menjadi kunci sukses dalam mengelola keuangan. Untuk pemula, penting untuk memahami opsi investasi yang relatif aman, memiliki potensi pertumbuhan, dan mudah dikelola. […]

expand_less