Breaking News
light_mode
Beranda » Ekspor dan Impor » Krisis Energi Dunia Melanda, Tapi RI Malah Ekspor Listrik? Ini Penjelasannya

Krisis Energi Dunia Melanda, Tapi RI Malah Ekspor Listrik? Ini Penjelasannya

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Jum, 6 Mar 2026
  • visibility 93
  • comment 0 komentar

Krisis energi global yang terus berlangsung akhir-akhir ini memicu kekhawatiran di berbagai negara. Dari konflik geopolitik hingga kenaikan harga minyak mentah, situasi ini telah mengganggu pasokan listrik dan bahan bakar di banyak wilayah. Namun, Indonesia justru menunjukkan kebijakan yang seolah bertolak belakang dengan kondisi tersebut. Meski menghadapi ancaman krisis energi, pemerintah Indonesia malah menjajaki rencana ekspor listrik ke negara tetangga seperti Singapura. Pertanyaannya, bagaimana bisa sebuah negara yang masih bergantung pada impor energi justru memilih untuk mengekspor listrik?

Krisis Energi Global dan Ketergantungan Indonesia

Krisis energi dunia saat ini tidak lepas dari perang Ukraina-Rusia, ketegangan di Timur Tengah, serta perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina. Ketiga faktor ini menyebabkan fluktuasi harga minyak mentah dan gas alam yang sangat tinggi. Pada 2024, impor energi nasional Indonesia mencapai US$36,27 miliar atau sekitar Rp575,39 triliun. Jika harga minyak melonjak, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama dalam bentuk kenaikan harga BBM dan biaya produksi listrik.

Sebelumnya, pada awal perang Rusia-Ukraina tahun 2022, harga minyak mentah tembus US$100/barel, yang membuat anggaran subsidi energi membengkak. Situasi ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk mempercepat transisi energi terbarukan. Namun, upaya tersebut terbentur oleh ketergantungan pada impor energi fosil, baik minyak mentah maupun gas alam.

Mengapa Indonesia Bisa Ekspor Listrik?

PLTS Atap Di Indonesia

Meskipun ketergantungan pada impor energi masih tinggi, Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Salah satu contohnya adalah proyek PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) yang sedang dikembangkan. Pemerintah sudah mendorong adopsi PLTS atap sejak 2018, namun aturan yang diberlakukan terkadang membatasi kapasitas pembangkitan. Misalnya, aturan yang diterbitkan pada 2024 menghapus skema net-metering, yang memungkinkan pengguna menjual kelebihan listrik ke PLN.

Namun, meskipun ada kendala, Indonesia juga memiliki proyek-proyek besar seperti PLTS terapung Cirata yang dapat memenuhi kebutuhan listrik sektor industri dan transportasi. Selain itu, pengembangan bahan bakar terbarukan seperti hidrogen hijau dan bioavtur juga sedang dilakukan. Proyek Garuda Hidrogen Hijau (GH2), misalnya, akan mulai beroperasi pada 2026 dan akan digunakan untuk produksi amonia guna mendukung industri pupuk dalam negeri.

Rencana Ekspor Listrik ke Singapura

Ekspor Listrik Ke Singapura

Salah satu langkah strategis yang diambil pemerintah adalah rencana ekspor listrik tenaga surya ke Singapura. Dengan kapasitas 3,4 GW, proyek ini bernilai investasi US$30-50 miliar dan diperkirakan dapat menambah devisa sebesar US$4-6 miliar per tahun. Namun, narasi yang disampaikan pemerintah sering kali dianggap sebagai “game changer” tanpa mempertimbangkan aspek bisnis secara menyeluruh.

Menurut analisis dari beberapa ekonom, ekspor listrik bukanlah bisnis yang menguntungkan secara signifikan. IRR (Internal Rate of Return) proyek surya biasanya hanya berkisar 6–10 persen, dengan masa kontrak 25–30 tahun. Singapura, sebagai negara yang memiliki pasar karbon dan industri teknologi, justru bisa memperoleh nilai tambah lebih besar dari ekspor listrik ini, seperti hak penghitungan emisi (carbon attribute) dan klaim net-zero korporasi.

Masa Depan Energi Indonesia

Untuk memastikan bahwa transisi energi tidak hanya menjadi komoditas ekspor, Indonesia perlu membangun ekosistem industri yang kuat. Listrik surya seharusnya menjadi input strategis, bukan barang dagangan utama. Nilai terbesar justru muncul bila listrik murah digunakan untuk produksi hidrogen hijau, industri baterai, dan pengolahan mineral beremisi rendah.

Selain itu, kerjasama multilateral dengan negara-negara Asia-Pasifik, termasuk ASEAN dan Australia, sangat penting untuk memperkuat pendanaan transisi energi. Insentif seperti tax holiday dan perbaikan sistem perizinan dapat menarik investor luar negeri. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi produsen energi terbarukan, tetapi juga pusat inovasi dan teknologi hijau.

Kesimpulan

Krisis energi global memang menjadi tantangan bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Namun, dengan kebijakan yang tepat dan visi jangka panjang, Indonesia bisa memanfaatkan potensi energi terbarukan untuk meningkatkan ketahanan energi dan kemandirian ekonomi. Ekspor listrik ke Singapura mungkin menjadi langkah awal, tetapi harus diimbangi dengan strategi yang lebih holistik agar nilai tambah bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia sendiri.

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perbedaan Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah yang Perlu Anda Ketahui

    Perbedaan Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah yang Perlu Anda Ketahui

    • calendar_month Ming, 25 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 224
    • 0Komentar

    Di tengah berkembangnya dunia keuangan, masyarakat semakin sadar akan pilihan layanan perbankan yang sesuai dengan prinsip dan nilai hidup mereka. Dua jenis bank yang umum ditemui adalah perbankan konvensional dan perbankan syariah. Meskipun keduanya bertujuan untuk menyediakan layanan keuangan, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Artikel ini akan membahas secara lengkap perbedaan antara perbankan konvensional dan […]

  • Apa Perbedaan Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro? Penjelasan Lengkap untuk Pemula

    Apa Perbedaan Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro? Penjelasan Lengkap untuk Pemula

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 202
    • 0Komentar

    Pendahuluan Ilmu ekonomi adalah salah satu bidang yang sangat penting dalam memahami bagaimana sumber daya dialokasikan dan digunakan oleh masyarakat. Dalam studi ekonomi, terdapat dua cabang utama yang sering dibahas, yaitu ekonomi mikro dan ekonomi makro. Meskipun keduanya saling terkait, perbedaan fokus dan ruang lingkupnya cukup signifikan. Artikel ini akan membahas secara lengkap apa perbedaan […]

  • Waktu Terbatas untuk Klaim Jaminan Kematian BPJS Ketenagakerjaan, Ini Informasi Lengkapnya

    Waktu Terbatas untuk Klaim Jaminan Kematian BPJS Ketenagakerjaan, Ini Informasi Lengkapnya

    • calendar_month Sen, 22 Des 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 205
    • 0Komentar

    Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, perlindungan finansial bagi keluarga peserta BPJS Ketenagakerjaan menjadi hal yang sangat penting. Salah satu manfaat yang diberikan oleh BPJS Ketenagakerjaan adalah Jaminan Kematian (JKM), yang bertujuan memberikan bantuan finansial kepada ahli waris jika peserta meninggal dunia bukan akibat kecelakaan kerja. Namun, batas waktu klaim jaminan kematian BPJS Ketenagakerjaan menjadi […]

  • Contoh Teknologi Finansial yang Mengubah Industri Keuangan di Indonesia

    Contoh Teknologi Finansial yang Mengubah Industri Keuangan di Indonesia

    • calendar_month Sel, 20 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Contoh Teknologi Finansial yang Mengubah Industri Keuangan di Indonesia Di era digital yang semakin pesat, teknologi finansial (fintech) telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan ekonomi masyarakat. Dengan kemudahan akses dan inovasi yang terus berkembang, fintech tidak hanya mengubah cara kita bertransaksi, tetapi juga memberikan solusi yang lebih efisien dan transparan dalam pengelolaan keuangan. Berikut […]

  • Neraca Jasa Diprediksi Membaik Berkat Pemulihan Sektor Pariwisata

    Neraca Jasa Diprediksi Membaik Berkat Pemulihan Sektor Pariwisata

    • calendar_month Kam, 6 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Pemulihan sektor pariwisata di Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang berkontribusi pada peningkatan kinerja neraca jasa. Dalam beberapa tahun terakhir, defisit neraca jasa menjadi salah satu tantangan ekonomi yang serius, terutama karena impor jasa yang lebih besar daripada ekspor jasa. Namun, dengan pemulihan pariwisata pasca-pandemi, kondisi ini mulai membaik dan memberikan harapan positif bagi […]

  • Kawasan Industri yang Cocok Dibangun di Daerah: Faktor dan Pertimbangan Penting

    Kawasan Industri yang Cocok Dibangun di Daerah: Faktor dan Pertimbangan Penting

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Di tengah dinamika perekonomian Indonesia, pembangunan kawasan industri di daerah menjadi salah satu strategi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan memperluas kesempatan kerja. Namun, pemilihan lokasi yang tepat untuk kawasan industri tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Ada sejumlah faktor dan pertimbangan penting yang perlu diperhatikan agar kawasan industri dapat beroperasi secara efisien dan berkelanjutan. […]

expand_less