Daya Beli Masyarakat Tetap Resilien di Tengah Tekanan Harga Pangan
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Sel, 14 Apr 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar

Di tengah kenaikan harga pangan yang terus berlangsung, daya beli masyarakat Indonesia masih menunjukkan tanda-tanda ketahanan. Meskipun inflasi mencapai angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir pada Juli 2022, sejumlah pelaku usaha dan masyarakat tetap berupaya mempertahankan kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga bahan pokok seperti cabai, sayuran, dan minyak goreng memberikan tantangan bagi kelompok masyarakat menengah ke bawah. Namun, banyak dari mereka menunjukkan sikap adaptif. Seperti Soraya, pemilik warteg di Jakarta Selatan, yang harus melakukan siasat-siasat untuk menjaga harga jual tanpa meningkatkan biaya konsumen. Ia mengurangi penggunaan bahan mahal dan memilih tidak menyajikan olahan sayur yang harganya melonjak. Meski pendapatannya turun, ia tetap berusaha mempertahankan bisnisnya.

Pemerintah juga telah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi, termasuk menaikkan subsidi energi dan bahan bakar minyak. Kebijakan ini bertujuan untuk melindungi daya beli masyarakat, khususnya dari kalangan yang lebih rentan. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa inflasi yang terjadi saat ini relatif moderat dibandingkan negara-negara lain. Namun, ekonom seperti Mohammad Faisal dari Center of Reform Economics (CORE) memperingatkan bahwa inflasi bisa semakin buruk pada tahun depan jika tekanan global dan faktor cuaca tetap berlanjut.
Faktor-faktor seperti perang Ukraina-Rusia, gangguan distribusi akibat cuaca, serta permintaan yang meningkat pasca-pandemi menjadi penyebab utama kenaikan harga. Di sisi lain, produsen barang dan jasa coba menahan harga pasar meski ongkos produksi meningkat. Namun, kebijakan ini mungkin tidak bertahan lama, sehingga risiko peningkatan inflasi terus mengancam.

Meski begitu, daya beli masyarakat tetap menunjukkan sifat yang resilien. Banyak orang memilih alternatif makanan yang lebih murah atau beradaptasi dengan perubahan harga. Contohnya, Lutfi Kurniawan, seorang karyawan swasta di Jakarta, yang mulai mencari tempat makan yang lebih hemat agar gajinya tidak tergerus inflasi.
Selain itu, pemerintah juga aktif melakukan pemantauan terhadap harga pangan dan upaya memastikan stok cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Presiden Joko Widodo bahkan rutin memantau kondisi ketahanan pangan, termasuk beras, jagung, kedelai, dan minyak goreng.
Dalam situasi yang penuh tantangan, daya beli masyarakat Indonesia tetap menunjukkan ketangguhan. Meskipun ada tekanan harga, masyarakat dan pelaku usaha terus berupaya mempertahankan stabilitas ekonomi sehari-hari. Dengan kebijakan yang tepat dan kesadaran diri dari para pelaku, harapan untuk memperkuat daya beli di masa depan tetap terbuka.
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar