Bank Indonesia Reduces BI-Rate to 4.75% on October 22, 2025: Key Implications
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Jum, 14 Nov 2025
- visibility 188
- comment 0 komentar

Pada tanggal 22 Oktober 2025, Bank Indonesia (BI) kembali memangkas suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis points menjadi 4.75 persen. Keputusan ini diambil dalam rapat Dewan Gubernur yang berlangsung pada 16-17 September 2025. Pengumuman ini disampaikan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo melalui konferensi pers virtual pada Rabu, 17 September 2025.
Ini merupakan pengurangan kelima kalinya dalam tahun 2025. Sejak awal tahun, BI secara bertahap menurunkan BI Rate dari 6 persen menjadi 5,75 persen pada Januari, 5,5 persen pada Mei, 5,25 persen pada Juli, 5,00 persen pada Agustus, dan terakhir 4,75 persen pada September 2025. Penurunan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sambil menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah.
Selain BI Rate, BI juga menurunkan suku bunga fasilitas deposito sebesar 50 basis points menjadi 3,75 persen dari 4,25 persen, serta suku bunga fasilitas kredit sebesar 25 basis points menjadi 5,50 persen dari 5,75 persen. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas di pasar keuangan dan mendorong peningkatan kredit serta pembiayaan yang lebih murah bagi masyarakat dan pelaku usaha.

Gubernur Perry Warjiyo menyatakan bahwa penurunan BI Rate ini bertujuan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sambil tetap menjaga prediksi inflasi yang rendah sebesar 2,51 persen pada 2025 dan 2026. Selain itu, BI juga akan terus memantau perkembangan pertumbuhan ekonomi dan prospek inflasi, serta memastikan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan dasar-dasar fundamentalnya.
Dalam konteks yang lebih luas, BI akan terus memperkuat kebijakan moneter yang longgar dan kebijakan makroprudensial yang bersifat stimulatif. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan ruang bagi penurunan lebih lanjut suku bunga, meningkatkan likuiditas, dan mendorong kredit atau pembiayaan guna mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Selain itu, kebijakan sistem pembayaran juga terus didorong untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Peningkatan penerimaan pembayaran digital, penguatan struktur industri, serta peningkatan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran akan menjadi fokus utama BI dalam waktu dekat.

Dari sudut pandang pasar modal, perusahaan seperti Citigroup Inc. memprediksi bahwa indeks saham berjangka Jakarta (JCI) bisa naik hingga 9.250 pada tahun depan, naik dari sekitar 8.363 pada hari Selasa. Prediksi ini didasarkan pada rencana belanja pemerintah yang besar dan potensi penurunan suku bunga. Strategis seperti Helmi Arman dan Rohit Garg menilai bahwa peningkatan likuiditas dan biaya pinjaman yang lebih murah akan mendorong pemulihan sektor perbankan melalui pertumbuhan kredit yang lebih kuat dan margin yang lebih sehat.

Kebijakan BI yang terus mengedepankan kebijakan moneter yang longgar dan stabil berdampak positif pada berbagai sektor ekonomi. Dengan suku bunga yang lebih rendah, biaya pinjaman bagi bisnis dan masyarakat akan semakin terjangkau, sehingga mendorong investasi dan konsumsi. Hal ini sangat penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi, terutama di tengah tantangan global yang masih menghimpit.
Namun, BI juga harus tetap waspada terhadap risiko inflasi yang bisa muncul akibat kebijakan moneter yang terlalu longgar. Oleh karena itu, seluruh langkah yang diambil harus seimbang antara mendorong pertumbuhan dan menjaga stabilitas harga.

Di sisi lain, kebijakan BI juga memiliki dampak langsung pada kebijakan fiskal pemerintah. Dengan suku bunga yang lebih rendah, pemerintah dapat memperluas anggaran belanja dan mempercepat proyek-proyek pembangunan yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Selain itu, kebijakan BI juga memberi ruang bagi bank-bank pemerintah untuk menurunkan suku bunga kredit, yang akan sangat membantu para pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
Sebagai penutup, keputusan BI untuk menurunkan BI Rate menjadi 4,75 persen pada 22 Oktober 2025 menunjukkan komitmen pihak bank sentral dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan langkah-langkah yang telah diambil, BI tidak hanya berupaya meningkatkan daya saing ekonomi nasional, tetapi juga memastikan stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar rupiah.
FAQ
Apa arti penurunan BI Rate sebesar 25 basis points?
Penurunan BI Rate sebesar 25 basis points berarti suku bunga acuan BI turun dari 5 persen menjadi 4,75 persen. Ini menunjukkan kebijakan moneter yang lebih longgar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Bagaimana dampak penurunan BI Rate terhadap masyarakat?
Dampaknya adalah biaya pinjaman yang lebih murah, sehingga mendorong investasi dan konsumsi. Namun, BI juga harus tetap menjaga stabilitas harga dan inflasi.
Apakah penurunan BI Rate akan terus berlanjut?
Ya, BI akan terus memantau kondisi ekonomi dan inflasi. Jika situasi memungkinkan, penurunan BI Rate bisa terus dilakukan.
Bagaimana dampak penurunan BI Rate terhadap pasar modal?
Penurunan BI Rate biasanya mendorong kenaikan saham karena biaya pinjaman yang lebih murah dan likuiditas yang meningkat.
Apa tujuan utama dari penurunan BI Rate?
Tujuannya adalah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas inflasi, dan menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
Tag
BankIndonesia #BIrate #EkonomiIndonesia #Inflasi #SukuBunga #PertumbuhanEkonomi #KebijakanMoneter #PasarModal #Pembiayaan #Masyarakat #Perbankan #Keuangan #StabilitasNilaiTukar #KebijakanFiskal #EkonomiDigital #PerekonomianNasional #PertumbuhanJangkaPanjang #PemulihanEkonomi
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar