Breaking News
light_mode
Beranda » Umum » Ekspor Besi dan Baja Tetap Jadi Kontributor Utama Nonmigas di Indonesia

Ekspor Besi dan Baja Tetap Jadi Kontributor Utama Nonmigas di Indonesia

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Rab, 12 Nov 2025
  • visibility 324
  • comment 0 komentar

Indonesia terus menunjukkan kekuatan ekonominya melalui sektor industri nonmigas, khususnya ekspor besi dan baja. Sebagai salah satu komoditas utama yang mendukung perekonomian nasional, besi dan baja tidak hanya menjadi tulang punggung ekspor tetapi juga menjadi penggerak utama pertumbuhan industri pengolahan. Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi sektor ini terus meningkat, bahkan mencatatkan peningkatan signifikan secara tahunan.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2025, ekspor industri pengolahan nonmigas mencapai 72,55% dari total ekspor Indonesia, dengan nilai sebesar US$13,22 miliar. Di antara komoditas tersebut, besi dan baja menjadi salah satu penyumbang terbesar. Nilai ekspornya mencapai US$2,79 miliar, naik sebesar 18,74% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa sektor baja masih menjadi andalan dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Industri baja Indonesia dalam produksi

Pemerintah telah menyadari pentingnya sektor ini, sehingga berbagai langkah strategis dilakukan untuk menjaga daya saing dan memperkuat ekosistem industri baja. Salah satunya adalah dengan memperketat pengawasan impor, karena impor baja yang tinggi dinilai mengganggu perkembangan industri dalam negeri. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan bahwa pemerintah akan memperkuat koordinasi antar kementerian dan membuka peluang investasi baru di sektor baja.

“Kami akan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Investasi, dan Kementerian Keuangan. Terutama Kemenkeu yang ada Bea Cukai di border, yang bisa melakukan pengawasan langsung terhadap barang masuk ke Indonesia,” ujarnya. Langkah ini mirip dengan cara pemerintah dalam menghadapi impor produk tekstil, yang diperkuat dengan pengawasan ketat di perbatasan.

Selain itu, pemerintah juga memberikan insentif bagi investor asing untuk berinvestasi di Indonesia. “Jika industri baja ingin masuk ke pasar dalam negeri, mereka harus berinvestasi di Indonesia, bangun pabrik di Indonesia, sehingga mereka juga punya akses ke pasar domestik,” tambah Faisol. Strategi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan memperluas peluang ekspor.

Ekspor besi baja dari pelabuhan Indonesia

Tidak hanya itu, pemerintah juga fokus pada hilirisasi dan substitusi impor. Dengan hilirisasi, industri baja dapat meningkatkan nilai tambah produk, sementara substitusi impor akan memperkuat kemandirian bahan baku dalam negeri. Hal ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, di mana industri logam dasar menjadi salah satu sektor prioritas.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri pengolahan nonmigas, termasuk besi dan baja, merupakan mesin utama ekspor nasional. “Kontribusi ini membuktikan bahwa industri pengolahan nonmigas adalah penyumbang devisa terbesar bagi perekonomian kita,” ujarnya. Data menunjukkan bahwa impor bahan baku untuk industri pengolahan nonmigas mencapai US$11,35 miliar pada Agustus 2025, atau sekitar 74,5% dari total impor nasional. Namun, angka ini justru menjadi indikasi positif karena sebagian besar impor digunakan untuk produksi, bukan konsumsi akhir.

Selain itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dirilis Kementerian Perindustrian pada September 2025 mencapai 53,02 poin, masih berada di zona ekspansi. IKI ekspor mencapai 53,99 poin, menunjukkan bahwa permintaan luar negeri terhadap produk industri pengolahan tetap stabil. Hal ini memberikan keyakinan bahwa sektor baja dan industri lainnya masih memiliki potensi besar untuk berkembang.

Dalam kerangka RPJMN 2025–2029 dan Visi Indonesia Emas 2045, industri baja ditetapkan sebagai sektor prioritas. Kemenperin menggariskan lima kebijakan utama untuk memperkuat ekosistem industri baja, seperti memperkuat daya saing, memperluas akses pasar, serta meningkatkan kualitas produk. Dengan pendekatan ini, diharapkan sektor baja dapat menjadi penggerak utama ekonomi nasional dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Ekspor besi baja dari Indonesia ke negara lain

Pertumbuhan sektor baja juga didukung oleh minat investor asing yang tinggi. Menurut Faisol Riza, hampir setiap hari perusahaan-perusahaan dari luar datang ke Kementerian Perindustrian maupun Kementerian Investasi untuk menanyakan proses investasi di Indonesia. Beberapa negara seperti Eropa, China, dan Vietnam bahkan sudah menunjukkan ketertarikan untuk merelokasi pabriknya ke Indonesia.

Dengan segala upaya yang dilakukan, sektor baja Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Tidak hanya sebagai kontributor utama ekspor nonmigas, sektor ini juga menjadi tulang punggung industrialisasi nasional menuju 2045. Dengan dukungan pemerintah, investasi, dan kepercayaan dunia internasional, besi dan baja akan terus menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia.

FAQ

Apa saja komoditas utama yang menopang ekspor nonmigas Indonesia?

Komoditas utama yang menopang ekspor nonmigas Indonesia antara lain besi dan baja, mesin dan perlengkapan elektrik, produk kimia dan farmasi, serta produk makanan dan minuman olahan.

Bagaimana pemerintah menangani impor baja yang tinggi?

Pemerintah memperketat pengawasan impor baja dan mendorong investasi dari luar negeri untuk membangun pabrik di Indonesia, sehingga mengurangi ketergantungan pada impor.

Apa tujuan dari kebijakan hilirisasi dan substitusi impor?

Tujuan dari kebijakan hilirisasi adalah meningkatkan nilai tambah produk, sedangkan substitusi impor bertujuan untuk memperkuat kemandirian bahan baku dalam negeri.

Apakah industri baja menjadi sektor prioritas pemerintah?

Ya, industri baja ditetapkan sebagai sektor prioritas dalam RPJMN 2025–2029 dan Visi Indonesia Emas 2045.

Bagaimana kondisi ekspor nonmigas Indonesia saat ini?

Ekspor nonmigas Indonesia mencapai 72,55% dari total ekspor, dengan pertumbuhan yang stabil dan berkontribusi besar terhadap devisa negara.

Tags:

EksporBesiDanBaja #Nonmigas #EkonomiIndonesia #IndustriBaja #EksporNasional #PemerintahIndonesia #InvestasiLuarNegeri #Hilirisasi #SubstitusiImpor #IndustriManufaktur

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pergerakan Saham Tins Hari Ini: Analisis dan Prediksi Terkini

    Pergerakan Saham Tins Hari Ini: Analisis dan Prediksi Terkini

    • calendar_month Sab, 15 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 669
    • 0Komentar

    Pada hari ini, saham PT Timah Tbk (TINS) kembali menunjukkan kinerja yang mengesankan di pasar modal Indonesia. Dengan harga saham yang mencapai Rp 1.160 per lembar, saham TINS menjadi salah satu yang paling diminati oleh para investor. Pergerakan saham TINS hari ini tidak hanya mencerminkan dinamika pasar, tetapi juga berbagai faktor fundamental yang memengaruhi kinerja […]

  • Transformasi digital pelayanan publik diapresiasi, Jasa Raharja raih dua penghargaan Anugerah BUMN 2026

    Transformasi digital pelayanan publik diapresiasi, Jasa Raharja raih dua penghargaan Anugerah BUMN 2026

    • calendar_month Jum, 13 Mar 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 241
    • 0Komentar

    RadarEkonomi.com, Jakarta — Upaya transformasi digital yang dilakukan PT Jasa Raharja mendapatkan pengakuan di tingkat nasional. Dalam ajang Anugerah BUMN ke-15 tahun 2026 yang diselenggarakan oleh BUMN Track bersama BTA Academy di Jakarta, Selasa (10/3/2026), Jasa Raharja berhasil meraih dua penghargaan sekaligus yang menegaskan keberhasilan perusahaan dalam memperkuat inovasi layanan berbasis digital guna meningkatkan kualitas […]

  • Waktu Operasional Pasar Saham: Informasi Lengkap untuk Investor Pemula

    Waktu Operasional Pasar Saham: Informasi Lengkap untuk Investor Pemula

    • calendar_month Jum, 28 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 435
    • 0Komentar

    Pasar saham menjadi salah satu pilihan investasi yang menarik bagi banyak orang, terutama bagi investor pemula. Namun, sebelum memulai, penting untuk memahami jam buka pasar saham agar bisa mengoptimalkan strategi dan peluang keuntungan. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap waktu operasional pasar saham di Indonesia serta tips untuk memaksimalkan investasi Anda. Apa Itu […]

  • Henry Dumanter Apresiasi Polda Sumut dan Kejati Sumut Tangani Perkara Dugaan Tipu Gelap Rp5,5 Miliar

    Henry Dumanter Apresiasi Polda Sumut dan Kejati Sumut Tangani Perkara Dugaan Tipu Gelap Rp5,5 Miliar

    • calendar_month Jum, 28 Agu 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 51
    • 0Komentar

    Radarekonomi.com, Medan – Henry Dumanter selaku korban dalam perkara dugaan tindak pidana penipuan dan/atau penggelapan dengan nilai kerugian sekitar Rp5,5 miliar menyampaikan apresiasi terhadap kinerja Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumatera Utara dan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejati Sumut) dalam menangani perkara yang dilaporkan sejak tahun 2023. Perkara tersebut dilaporkan ke Polda Sumatera Utara […]

  • Perbedaan Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah yang Perlu Anda Ketahui

    Perbedaan Perbankan Konvensional dan Perbankan Syariah yang Perlu Anda Ketahui

    • calendar_month Ming, 25 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 506
    • 0Komentar

    Di tengah berkembangnya dunia keuangan, masyarakat semakin sadar akan pilihan layanan perbankan yang sesuai dengan prinsip dan nilai hidup mereka. Dua jenis bank yang umum ditemui adalah perbankan konvensional dan perbankan syariah. Meskipun keduanya bertujuan untuk menyediakan layanan keuangan, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Artikel ini akan membahas secara lengkap perbedaan antara perbankan konvensional dan […]

  • KPR Diprediksi Tumbuh Lebih Cepat Setelah Kenaikan Suku Bunga Dihentikan

    KPR Diprediksi Tumbuh Lebih Cepat Setelah Kenaikan Suku Bunga Dihentikan

    • calendar_month Kam, 6 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 360
    • 0Komentar

    Pada tahun 2025, sektor perumahan di Indonesia kembali menunjukkan tanda-tanda positif setelah Bank Indonesia (BI) melakukan penurunan suku bunga acuan (BI Rate) yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR). Meski awalnya ada ketidakpastian terkait dampak langsung dari pengurangan BI Rate terhadap bunga KPR, berbagai indikasi menunjukkan bahwa pertumbuhan KPR diprediksi akan lebih cepat […]

expand_less