KPR Diprediksi Tumbuh Lebih Cepat Setelah Kenaikan Suku Bunga Dihentikan
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Kam, 6 Nov 2025
- visibility 193
- comment 0 komentar

Pada tahun 2025, sektor perumahan di Indonesia kembali menunjukkan tanda-tanda positif setelah Bank Indonesia (BI) melakukan penurunan suku bunga acuan (BI Rate) yang diharapkan mampu mendorong pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR). Meski awalnya ada ketidakpastian terkait dampak langsung dari pengurangan BI Rate terhadap bunga KPR, berbagai indikasi menunjukkan bahwa pertumbuhan KPR diprediksi akan lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan suku bunga ini menjadi momentum penting bagi pemerintah dan lembaga keuangan untuk mempercepat akses masyarakat terhadap hunian layak.
Dalam beberapa bulan terakhir, BI telah melakukan serangkaian langkah strategis untuk menstabilkan perekonomian nasional. Salah satu langkah utama adalah penurunan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% pada Agustus 2025. Langkah ini dilakukan dengan tujuan untuk mendorong investasi dan meningkatkan likuiditas di pasar keuangan. Namun, meskipun BI Rate telah turun, bunga KPR belum langsung mengalami penurunan signifikan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk struktur biaya dana bank dan kebijakan internal institusi keuangan.
Salah satu contoh yang menunjukkan upaya penyesuaian bunga KPR adalah PT Bank Tabungan Negara (BTN). BTN telah menurunkan bunga KPR non-subsidi menjadi 2,65 persen untuk periode 3-5 tahun awal, dari sebelumnya 3 persen. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan bahwa penurunan ini dilakukan sebagai respons terhadap penurunan BI Rate. “Bunga-bunga promote sudah kita adjust. Sekarang 2,65 persen dari sebelumnya masih di atas 3 persen,” ujarnya. Penurunan bunga ini juga didukung oleh penurunan biaya dana yang dilakukan BTN sebanyak dua kali sepanjang tahun ini.
Meskipun demikian, tidak semua jenis KPR mengalami penurunan bunga secara bersamaan. KPR subsidi, misalnya, masih memiliki bunga tetap sebesar 5 persen sesuai ketentuan pemerintah. Nixon menjelaskan bahwa BTN merupakan bank yang paling besar dalam memberikan KPR subsidi, sehingga harus mematuhi aturan yang ditetapkan pemerintah. “Kalau KPR subsidi kan tidak bisa dipangkas, sudah 5 persen ketentuannya,” tambahnya.
Selain itu, penurunan BI Rate juga membawa dampak positif terhadap pertumbuhan kredit BTN. Pada semester I-2025, BTN mencatat pertumbuhan kredit sebesar 6,8 persen (yoy) menjadi Rp376,11 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh penyaluran kredit ke sektor perumahan yang naik 6,2 persen (yoy) menjadi Rp317,77 triliun. Di sisi lain, sektor non-perumahan juga mengalami pertumbuhan sebesar 10,5 persen (yoy) menjadi Rp58,34 triliun. Pertumbuhan kredit ini juga berdampak pada pendapatan bunga kredit BTN yang naik 23,5 persen (yoy) menjadi Rp18,50 triliun.
Namun, meskipun BI Rate telah turun, penurunan bunga KPR tidak otomatis langsung terwujud. Pengamat properti, Bambang Ekajaya, menjelaskan bahwa penyesuaian bunga KPR membutuhkan waktu karena adanya portofolio KPR yang sudah berjalan. “Penurunan BI Rate seharusnya membantu, tetapi aplikasi di perbankan perlu waktu penyesuaian, terutama untuk portofolio KPR-KPR yang sudah berjalan,” katanya.
Di samping itu, pemerintah juga memberikan dukungan berupa kebijakan yang bertujuan meningkatkan minat pembelian rumah. Beberapa kebijakan seperti kepastian PPN DTP hingga tahun 2027, program KUR Perumahan, serta kemudahan SLIK OJK, diharapkan dapat mendorong permintaan KPR. Bambang menambahkan bahwa kebijakan tersebut akan meningkatkan minat masyarakat terhadap hunian, terutama bagi kalangan menengah atas.
Tidak hanya itu, Bambang juga menyoroti pentingnya pendekatan terhadap generasi muda, khususnya Generasi Z. Meskipun mereka menjadi tulang punggung perekonomian, minat mereka untuk membeli rumah masih terbatas. “Pemerintah dinilai perlu melakukan kampanye membeli rumah kepada generasi muda agar pembelian rumah bisa meningkat,” ujarnya. Dengan pendekatan yang tepat, target 3 juta rumah yang ingin dicapai pemerintah dapat tercapai.
Seorang pekerja freelance, Nailla (24), mengungkapkan bahwa impian untuk memiliki rumah pertama masih ada dalam pikirannya. Namun, ia masih ragu karena adanya fluktuasi suku bunga akibat kondisi global. “Ada beberapa faktor yang memengaruhi saya untuk berpikir ulang apakah pos dana darurat yang saya tabung untuk sekarang itu tetap akan saya alihkan untuk beli rumah impian itu,” kata Nailla.
Dari segi data, laporan BI menunjukkan bahwa RDG BI pada 16-17 September 2025 memutuskan untuk menurunkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen. Selain itu, suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga turun. Suku bunga ini memiliki pengaruh langsung terhadap bunga KPR karena kenaikan suku bunga acuan BI cenderung menyebabkan kenaikan suku bunga KPR.
[IMAGE: KPR pertumbuhan ekonomi Indonesia]
Dengan berbagai faktor yang saling mendukung, pertumbuhan KPR di Indonesia diprediksi akan lebih cepat pasca penurunan BI Rate. Meskipun ada tantangan dalam proses penyesuaian bunga KPR, langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah dan lembaga keuangan memberikan harapan bahwa akses masyarakat terhadap hunian layak akan semakin mudah.
[IMAGE: KPR pertumbuhan ekonomi Indonesia]
[IMAGE: KPR pertumbuhan ekonomi Indonesia]
[IMAGE: KPR pertumbuhan ekonomi Indonesia]
FAQ
Apa itu KPR?
KPR atau Kredit Pemilikan Rumah adalah pinjaman yang diberikan oleh bank atau lembaga keuangan kepada individu atau keluarga untuk membeli rumah. KPR biasanya memiliki cicilan bulanan dan bunga yang ditentukan sesuai kesepakatan antara peminjam dan pemberi pinjaman.
Bagaimana BI Rate mempengaruhi KPR?
BI Rate atau suku bunga acuan Bank Indonesia memengaruhi tingkat bunga kredit di seluruh sektor, termasuk KPR. Jika BI Rate turun, maka bank umumnya akan menurunkan bunga kredit, termasuk bunga KPR. Namun, penyesuaian ini tidak selalu langsung terjadi karena berbagai faktor seperti struktur biaya dana dan kebijakan internal bank.
Apakah semua jenis KPR akan mengalami penurunan bunga?
Tidak semua jenis KPR mengalami penurunan bunga secara bersamaan. Misalnya, KPR subsidi memiliki bunga tetap sesuai ketentuan pemerintah, yaitu sebesar 5 persen. Sedangkan KPR non-subsidi bisa mengalami penurunan bunga jika bank menyesuaikan sesuai penurunan BI Rate.
Apa manfaat dari penurunan BI Rate bagi masyarakat?
Penurunan BI Rate memberikan manfaat bagi masyarakat dengan menurunkan biaya pinjaman, termasuk bunga KPR. Ini membuat pembelian rumah menjadi lebih terjangkau, terutama bagi masyarakat menengah dan bawah.
Apa tantangan dalam penurunan bunga KPR?
Salah satu tantangan dalam penurunan bunga KPR adalah proses penyesuaian yang membutuhkan waktu. Selain itu, struktur biaya dana bank dan kebijakan internal bank juga memengaruhi seberapa cepat bunga KPR bisa turun.
Tagging
KPR #KreditPemilikanRumah #BIrate #BankTabunganNegara #EkonomiIndonesia #Perumahan #SukuBunga #KPRSubsidi #KPRNonSubsidi #HunianLayak #PertumbuhanEkonomi #KPRDiprediksiNaik #KPRLebihCepat #PemilikanRumah #KPRBaru #BungaKPR #PembiayaanPerumahan #KPRIndonesia #PeningkatanKPR #KPRdanEkonomi #KPRDenganBungaRendah
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar