KSSK Memperkuat Sinergi dan Koordinasi Kebijakan Antar Otoritas: Tantangan dan Peluang
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Ming, 9 Nov 2025
- visibility 153
- comment 0 komentar

Dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan nasional, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan antar otoritas. Dengan berbagai tantangan ekonomi global yang semakin kompleks, peran KSSK menjadi semakin krusial dalam menghadapi dinamika pasar keuangan dan memastikan perekonomian tetap stabil.
Pada awal tahun 2025, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melakukan perombakan struktur dan tugas Sekretariat KSSK. Perubahan ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.64/2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat KSSK. Salah satu perubahan utama adalah posisi Sekretariat KSSK yang kini berada di bawah Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan, yang saat ini dijabat oleh Masyita Cristalin. Perombakan ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja serta menyesuaikan dengan dinamika kebijakan keuangan yang semakin kompleks.
Sebelumnya, susunan organisasi Sekretariat KSSK terdiri dari Direktur Asesmen dan Kebijakan Stabilitas Sistem Keuangan; Direktur Manajemen Risiko dan Hukum; Divisi Manajemen Kantor; Kelompok Jabatan Fungsional. Dalam beleid baru, susunan organisasi Sekretariat KSSK terdiri dari 4 direktorat dan 1 divisi. Pertama, Direktorat Asesmen Perbankan dan Makroekonomi, yang bertugas melaksanakan penyiapan dan koordinasi pelaksanaan analisis, riset, dan/atau asesmen sektor perbankan dan makroekonomi. Kedua, Direktorat Asesmen Industri Jasa Keuangan Nonbank, ketiga, Direktorat Asesmen Pasar Keuangan, Sistem Pembayaran, dan Lembaga Keuangan Lainnya, serta keempat, Direktorat Manajemen Risiko dan Hukum. Selain itu, ada juga Divisi Asesmen Perbankan dan Makroekonomi I dan II, serta Divisi Asesmen Industri Jasa Keuangan Nonbank I dan II.
Perubahan struktur ini mencerminkan komitmen KSSK untuk lebih fokus pada stabilitas sistem keuangan. Tugas Sekretariat KSSK pun bertambah dari 14 menjadi 19, termasuk koordinasi penyiapan keputusan KSSK mengenai pelaksanaan kewenangan Bank Indonesia untuk membeli surat berharga negara berjangka panjang di pasar perdana. Perubahan ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi antar lembaga dan memastikan kebijakan keuangan yang selaras dan efektif.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, KSSK telah menyelenggarakan rapat berkala KSSK II tahun 2025 pada Kamis, 17 April 2025. Rapat tersebut menyepakati untuk terus meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat koordinasi dan kebijakan lembaga-lembaga anggota KSSK, dalam upaya memitigasi potensi dampak rambatan faktor-faktor risiko global sekaligus memperkuat perekonomian dan sektor keuangan dalam negeri. KSSK terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Dalam triwulan I-2025, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga meskipun adanya tekanan dari dinamika global. Ketidakpastian perekonomian global meningkat didorong oleh kebijakan tarif impor Pemerintah Amerika Serikat (AS). Kebijakan tersebut menimbulkan adanya perang tarif dan diprakirakan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi AS, Tiongkok, dan ekonomi global serta memicu peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, kebijakan tersebut juga mendorong perilaku risk aversion pemilik modal serta menyebabkan penurunan yield US Treasury dan pelemahan indeks mata uang dolar AS (DXY) di tengah peningkatan ekspektasi penurunan Fed Funds Rate (FFR). Aliran modal dunia bergeser dari AS ke negara dan aset yang dianggap aman (safe haven asset), terutama ke aset keuangan di Eropa dan Jepang serta komoditas emas. Sementara itu, aliran keluar modal dari negara berkembang masih berlanjut sehingga memberikan tekanan terhadap pelemahan mata uangnya.
Dalam konteks ini, KSSK memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Dengan peran sebagai pengawas dan koordinator kebijakan, KSSK bekerja sama dengan BI, OJK, dan LPS untuk memastikan bahwa kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran saling mendukung dan tidak saling bertentangan. Hal ini sangat penting dalam menghadapi dinamika pasar keuangan global yang terus berubah.
Selain itu, KSSK juga aktif dalam menghadapi ancaman krisis sistem keuangan. Dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (PPKSK), KSSK memiliki landasan hukum yang kuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan negara. Dalam UU tersebut, KSSK disebut sebagai salah satu lembaga pemerintah yang punya tugas penting dalam menjaga keuangan negara.
Dalam beberapa bulan terakhir, KSSK telah melakukan berbagai langkah strategis untuk memperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan antar otoritas. Salah satunya adalah melalui peningkatan kewaspadaan dan penguatan kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait. Selain itu, KSSK juga terlibat aktif dalam penyusunan kebijakan dan langkah-langkah antisipasi dengan melibatkan berbagai stakeholders termasuk berkoordinasi dengan negara lain untuk mengatasi volatilitas pasar keuangan domestik sebagai dampak dari tereskalasinya perang dagang.
KSSK juga telah dan terus berkomitmen untuk mendukung sektor riil dan program Asta Cita Pemerintah guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan berbagai inisiatif dan kebijakan yang telah diambil, KSSK menunjukkan komitmennya untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan memastikan perekonomian tetap stabil meski dihadapkan dengan berbagai tantangan global.



FAQ
Apa itu KSSK?
KSSK atau Komite Stabilitas Sistem Keuangan adalah lembaga pemerintah yang bertugas untuk menjaga stabilitas sistem keuangan negara. KSSK terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan.
Bagaimana KSSK bekerja?
KSSK bekerja sama dengan lembaga-lembaga terkait seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. KSSK juga melakukan koordinasi dan sinergi kebijakan antar otoritas guna memastikan kebijakan keuangan yang selaras dan efektif.
Apa tujuan dari perombakan struktur Sekretariat KSSK?
Perombakan struktur Sekretariat KSSK dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja serta menyesuaikan dengan dinamika kebijakan keuangan yang semakin kompleks. Tujuannya adalah untuk memperkuat koordinasi antar lembaga dan memastikan kebijakan keuangan yang selaras dan efektif.
Apa tantangan yang dihadapi KSSK?
Tantangan yang dihadapi KSSK meliputi dinamika pasar keuangan global, ketidakpastian perekonomian, dan ancaman krisis sistem keuangan. KSSK harus terus meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat koordinasi kebijakan antar otoritas untuk menghadapi berbagai risiko yang dapat berdampak terhadap perekonomian dan stabilitas sistem keuangan nasional.
Apa peran KSSK dalam pencegahan krisis sistem keuangan?
KSSK memiliki peran penting dalam pencegahan krisis sistem keuangan melalui kebijakan yang diambil bersama lembaga-lembaga terkait. Dengan landasan hukum yang kuat, KSSK bekerja sama untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan memastikan perekonomian tetap stabil meski dihadapkan dengan berbagai tantangan global.
Tagging:
KSSK #StabilitasSistemKeuangan #KoordinasiKebijakan #SinergiOtoritas #EkonomiIndonesia #KebijakanMoneter #KebijakanMakroprudensial #StabilitasPerekonomian #Inflasi #NilaiTukarRupiah #APBN #BankIndonesia #OJK #LPS #PerekonomianNasional #PertumbuhanEkonomi #KrisisSistemKeuangan #KebijakanFiskal #StabilitasHargaPangan #PembiayaanAPBN #PengendalianInflasi #PasarSBN #PasarSaham #Perbankan #Asuransi #LembagaPembiayaan #Fintech #P2PLending #PenjaminanSimpanan #RegulasiKeuangan #KSSKMemperkuatSinergi #KSSKMenjagaStabilitas
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar