Strategi Efisiensi Berbuah Manis, Laba Bersih Perseroan Melonjak 263 Persen pada 2025
- account_circle radarekonomi
- calendar_month Sel, 30 Jun 2026
- visibility 196
- comment 0 komentar

RadarEkonomi.com, Jakarta- Strategi efisiensi dan rasionalisasi armada yang dijalankan perseroan sepanjang 2025 mulai menunjukkan hasil positif. Meski pendapatan mengalami penurunan akibat divestasi sejumlah kapal dan penyesuaian operasional, perusahaan justru berhasil membukukan lonjakan laba bersih hingga 263 persen sekaligus memperkuat struktur keuangannya.
Dalam Paparan Publik Tahunan, manajemen menjelaskan bahwa pendapatan perseroan pada tahun buku 2025 tercatat sebesar US$40,83 juta, turun sekitar 12,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut merupakan dampak pelepasan lima unit kapal sebagai bagian dari strategi optimalisasi armada, serta menurunnya tingkat utilisasi beberapa kapal berukuran besar.
Meski demikian, strategi tersebut memberikan dampak positif terhadap profitabilitas perusahaan. Laba usaha meningkat menjadi US$16,9 juta, sedangkan laba bersih melonjak dari US$3,5 juta pada 2024 menjadi US$12,7 juta pada 2025. Margin laba bersih juga naik signifikan dari 7,5 persen menjadi 31,2 persen, yang mencerminkan keberhasilan perusahaan dalam menjaga efisiensi biaya dan meningkatkan kualitas operasional.
Selain meningkatkan profitabilitas, perseroan juga berhasil memperkuat fundamental keuangan. Total liabilitas turun dari US$85 juta menjadi US$53 juta, sementara ekuitas meningkat menjadi US$57,4 juta. Perbaikan tersebut mendorong rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) turun menjadi 0,93 kali, dibandingkan 1,9 kali pada 2024 dan 4,5 kali pada 2023.
Sepanjang 2025, perseroan memperoleh kontrak baru senilai sekitar US$36,4 juta, termasuk kontrak kapal berkapasitas besar senilai US$25,2 juta. Perusahaan juga berhasil memperluas basis pelanggan dengan masuknya sejumlah klien baru yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan.
Manajemen menyampaikan bahwa prospek bisnis pada 2026 masih terbuka lebar seiring meningkatnya aktivitas eksplorasi dan pengembangan lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia maupun kawasan Asia Tenggara. Perseroan telah terlibat dalam sejumlah proyek yang mendukung kegiatan migas lepas pantai, termasuk di Papua dan Madura, serta menjajaki peluang kerja sama di Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Untuk tahun 2026, perseroan menargetkan pendapatan sebesar US$36,78 juta dengan laba usaha mencapai US$13,7 juta. Hingga pertengahan Juni 2026, perusahaan telah mengantongi kontrak berjalan senilai US$12,98 juta, dengan potensi tambahan kontrak sekitar US$14,63 juta yang masih dalam proses realisasi.
Dengan struktur keuangan yang semakin sehat, tingkat utang yang terus menurun, serta meningkatnya peluang di sektor jasa penunjang migas lepas pantai, perseroan optimistis dapat mempertahankan kinerja positif dan menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang.
- Penulis: radarekonomi



Saat ini belum ada komentar