Breaking News
light_mode
Beranda » Umum » Rocky Gerung, Kritik, dan Bayang-Bayang Istana

Rocky Gerung, Kritik, dan Bayang-Bayang Istana

  • account_circle radarekonomi
  • calendar_month Sen, 5 Okt 2026
  • visibility 40
  • comment 0 komentar

Oleh: Abd. Aziz

Founder dan Senior Managing Partner Firma Hukum PROGRESIF LAW Jakarta; Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK); Ketua Umum Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU)

 

Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada 2 Oktober 2026 menghadirkan ironi yang menarik sekaligus penting bagi demokrasi. Selama bertahun-tahun, Rocky dikenal sebagai suara yang keras mengoreksi kekuasaan. Kini, orang yang kerap berdiri di luar pagar kekuasaan justru masuk ke dalamnya. Publik pun gaduh: apakah seorang pengkritik telah berubah menjadi bagian dari kekuasaan? Pertanyaan itu sah. Tetapi demokrasi yang sehat tidak boleh berhenti pada kecurigaan. Yang jauh lebih penting adalah menguji apakah setelah masuk Istana, akal kritisnya masih bekerja atau justru ikut beristirahat.

 

Kita tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kedekatan dengan kekuasaan identik dengan kehilangan independensi. Justru sebaliknya, berada di dalam lingkar pengambilan keputusan membuka ujian yang lebih berat. Kritik dari luar kekuasaan mempunyai kebebasan moral yang relatif lebih luas. Namun kritik dari dalam kekuasaan menghadapi godaan yang berbeda: akses, fasilitas, kedekatan, kepentingan, dan kenyamanan. Karena itu, ukuran independensi bukan lagi seberapa keras seseorang berbicara kepada pemerintah, melainkan seberapa berani ia mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar pemerintah.

 

Rocky sendiri sebelumnya tidak asing dengan kritik terhadap pemerintahan Prabowo. Pada Juni 2026, misalnya, ia mendorong apa yang disebutnya radical break, termasuk gagasan perampingan kabinet secara sangat signifikan. Pada September, ia kembali mengkritik konstruksi teknokratis kebijakan pemerintah dan menyinggung program Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Desa Merah Putih. Bagi Rocky, persoalannya bukan sekadar teknis program, melainkan bagaimana kebijakan diterjemahkan dari mandat konstitusi. Dengan demikian, masuknya Rocky ke Wantimpres justru menciptakan ruang untuk menguji apakah gagasan tersebut berhenti sebagai wacana atau dapat menjadi pertimbangan konkret bagi Presiden.

 

Di sinilah makna sebuah jabatan penasihat harus ditempatkan secara proporsional. Wantimpres bukan panggung untuk mempertontonkan siapa yang paling keras mengkritik Presiden. Ia adalah ruang untuk memberikan pertimbangan. Rocky sendiri setelah dilantik menyatakan bahwa fungsi Wantimpres adalah bersikap kritis terhadap kebijakan, bukan sekadar melakukan kritik dari luar. Pernyataan itu penting karena mengandung konsekuensi etis: kritik harus berubah menjadi pertimbangan yang berbasis argumen, data, konstitusi, kepentingan publik, dan kemungkinan solusi.

 

Persoalannya, kritik yang selama ini terdengar lantang harus menghadapi kenyataan yang jauh lebih rumit ketika masuk ke meja kekuasaan. Di luar pemerintahan, seseorang dapat mengatakan sebuah kebijakan salah. Di dalam pemerintahan, ia harus menjelaskan mengapa salah, apa akibatnya, apa alternatifnya, berapa biayanya, bagaimana hukumnya, siapa yang terdampak, dan bagaimana memperbaikinya. Di sinilah intelektualitas diuji bukan oleh tepuk tangan penonton, tetapi oleh kualitas argumentasi ketika berhadapan dengan keputusan nyata.

 

Karena itu, publik sebenarnya tidak perlu sibuk mencari tahu apakah Rocky telah “berubah”. Pertanyaan yang lebih bermutu adalah: apa yang akan dilakukan Rocky dengan akses barunya? Apakah ia akan menjadi penambah suara bagi keputusan yang sudah dikehendaki? Ataukah ia akan menjadi suara korektif ketika kebijakan pemerintah menyimpang dari tujuan konstitusional? Dua kemungkinan itu sama-sama terbuka. Dan hanya rekam jejak setelah ia bekerja di Wantimpres yang dapat menjawabnya.

 

Bahkan terhadap program yang pernah ia kritik, posisi Rocky kini seharusnya semakin terukur. MBG, misalnya, tidak cukup dinilai hanya dari slogan politik ataupun popularitasnya. Yang harus diuji adalah manfaatnya bagi rakyat, kualitas pelaksanaannya, efisiensi anggaran, mekanisme pengawasan, potensi penyimpangan, serta kesesuaiannya dengan tujuan konstitusional. Begitu pula Koperasi Desa Merah Putih. Perdebatan publik seharusnya bergerak dari sekadar “pro” atau “kontra” menuju pertanyaan yang lebih substantif: apakah desain, pembiayaan, pelaksanaan, dan pengawasannya benar-benar menghasilkan kemaslahatan bagi masyarakat? Kritik yang matang justru bekerja pada wilayah seperti itu.

 

Ada pula jebakan yang tidak kalah serius: kekuasaan sering kali tidak perlu membungkam seorang kritikus. Cukup dengan membuatnya nyaman. Seorang intelektual tidak selalu kehilangan independensi karena diperintah untuk diam; terkadang ia kehilangan independensi karena terlalu menikmati akses. Karena itu, ancaman terbesar bagi seorang kritikus yang masuk Istana bukan semata-mata tekanan politik, melainkan kemungkinan bahwa ia perlahan mulai membenarkan apa yang dahulu ia pertanyakan. Kritik tidak mati ketika seseorang masuk kekuasaan; kritik mati ketika keberanian untuk berbeda pendapat ikut ditinggalkan di pintu Istana.

 

Maka publik juga harus memberikan ruang yang fair. Jangan setiap kedekatan dengan Presiden langsung dianggap sebagai pengkhianatan terhadap gagasan. Sebaliknya, jangan pula setiap kritik Rocky setelah berada di Istana otomatis dianggap sebagai bukti independensi. Keduanya sama-sama harus diuji. Demokrasi membutuhkan skeptisisme, tetapi skeptisisme juga harus tunduk pada fakta. Rocky berhak membuktikan dirinya melalui kerja; publik berhak menilai melalui hasil. Bukan meme, bukan cibiran, bukan pujian—melainkan rekam jejak. Pada akhirnya, persoalan Rocky Gerung bukan sekadar tentang seorang filsuf yang masuk Istana. Ini adalah ujian yang lebih besar tentang hubungan antara intelektualitas, kritik, dan kekuasaan.

 

Kekuasaan membutuhkan kritik agar tidak kehilangan cermin; kritik membutuhkan independensi agar tidak berubah menjadi legitimasi. Rocky kini berada di tempat yang memungkinkan keduanya bertemu. Jika ia mampu membawa keberanian berpikir ke ruang keputusan, maka kritik memperoleh kesempatan untuk menjadi koreksi kebijakan. Jika sebaliknya, publik tentu akan mencatat perubahan itu. Sebab pada akhirnya, masuk Istana bukanlah bukti bahwa seorang kritikus telah kehilangan kebebasan. Tetapi tetap merdeka setelah berada di dalam Istana—itulah pembuktian yang sesungguhnya.

[5/10, 08.03] +62 815-1507-4775: *Rocky Gerung, Kritik, dan Bayang-Bayang Istana*

 

Oleh: *Abd. Aziz*

_Founder dan Senior Managing Partner Firma Hukum PROGRESIF LAW Jakarta; Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK); Ketua Umum Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU)_

 

Pelantikan Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden pada 2 Oktober 2026 menghadirkan ironi yang menarik sekaligus penting bagi demokrasi. Selama bertahun-tahun, Rocky dikenal sebagai suara yang keras mengoreksi kekuasaan. Kini, orang yang kerap berdiri di luar pagar kekuasaan justru masuk ke dalamnya. Publik pun gaduh: apakah seorang pengkritik telah berubah menjadi bagian dari kekuasaan? Pertanyaan itu sah. Tetapi demokrasi yang sehat tidak boleh berhenti pada kecurigaan. Yang jauh lebih penting adalah menguji apakah setelah masuk Istana, akal kritisnya masih bekerja atau justru ikut beristirahat.

 

Kita tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa kedekatan dengan kekuasaan identik dengan kehilangan independensi. Justru sebaliknya, berada di dalam lingkar pengambilan keputusan membuka ujian yang lebih berat. Kritik dari luar kekuasaan mempunyai kebebasan moral yang relatif lebih luas. Namun kritik dari dalam kekuasaan menghadapi godaan yang berbeda: akses, fasilitas, kedekatan, kepentingan, dan kenyamanan. Karena itu, ukuran independensi bukan lagi seberapa keras seseorang berbicara kepada pemerintah, melainkan seberapa berani ia mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar pemerintah.

 

Rocky sendiri sebelumnya tidak asing dengan kritik terhadap pemerintahan Prabowo. Pada Juni 2026, misalnya, ia mendorong apa yang disebutnya radical break, termasuk gagasan perampingan kabinet secara sangat signifikan. Pada September, ia kembali mengkritik konstruksi teknokratis kebijakan pemerintah dan menyinggung program Makan Bergizi Gratis serta Koperasi Desa Merah Putih. Bagi Rocky, persoalannya bukan sekadar teknis program, melainkan bagaimana kebijakan diterjemahkan dari mandat konstitusi. Dengan demikian, masuknya Rocky ke Wantimpres justru menciptakan ruang untuk menguji apakah gagasan tersebut berhenti sebagai wacana atau dapat menjadi pertimbangan konkret bagi Presiden.

 

Di sinilah makna sebuah jabatan penasihat harus ditempatkan secara proporsional. Wantimpres bukan panggung untuk mempertontonkan siapa yang paling keras mengkritik Presiden. Ia adalah ruang untuk memberikan pertimbangan. Rocky sendiri setelah dilantik menyatakan bahwa fungsi Wantimpres adalah bersikap kritis terhadap kebijakan, bukan sekadar melakukan kritik dari luar. Pernyataan itu penting karena mengandung konsekuensi etis: kritik harus berubah menjadi pertimbangan yang berbasis argumen, data, konstitusi, kepentingan publik, dan kemungkinan solusi.

 

Persoalannya, kritik yang selama ini terdengar lantang harus menghadapi kenyataan yang jauh lebih rumit ketika masuk ke meja kekuasaan. Di luar pemerintahan, seseorang dapat mengatakan sebuah kebijakan salah. Di dalam pemerintahan, ia harus menjelaskan mengapa salah, apa akibatnya, apa alternatifnya, berapa biayanya, bagaimana hukumnya, siapa yang terdampak, dan bagaimana memperbaikinya. Di sinilah intelektualitas diuji bukan oleh tepuk tangan penonton, tetapi oleh kualitas argumentasi ketika berhadapan dengan keputusan nyata.

 

Karena itu, publik sebenarnya tidak perlu sibuk mencari tahu apakah Rocky telah “berubah”. Pertanyaan yang lebih bermutu adalah: apa yang akan dilakukan Rocky dengan akses barunya? Apakah ia akan menjadi penambah suara bagi keputusan yang sudah dikehendaki? Ataukah ia akan menjadi suara korektif ketika kebijakan pemerintah menyimpang dari tujuan konstitusional? Dua kemungkinan itu sama-sama terbuka. Dan hanya rekam jejak setelah ia bekerja di Wantimpres yang dapat menjawabnya.

 

Bahkan terhadap program yang pernah ia kritik, posisi Rocky kini seharusnya semakin terukur. MBG, misalnya, tidak cukup dinilai hanya dari slogan politik ataupun popularitasnya. Yang harus diuji adalah manfaatnya bagi rakyat, kualitas pelaksanaannya, efisiensi anggaran, mekanisme pengawasan, potensi penyimpangan, serta kesesuaiannya dengan tujuan konstitusional. Begitu pula Koperasi Desa Merah Putih. Perdebatan publik seharusnya bergerak dari sekadar “pro” atau “kontra” menuju pertanyaan yang lebih substantif: apakah desain, pembiayaan, pelaksanaan, dan pengawasannya benar-benar menghasilkan kemaslahatan bagi masyarakat? Kritik yang matang justru bekerja pada wilayah seperti itu.

 

Ada pula jebakan yang tidak kalah serius: kekuasaan sering kali tidak perlu membungkam seorang kritikus. Cukup dengan membuatnya nyaman. Seorang intelektual tidak selalu kehilangan independensi karena diperintah untuk diam; terkadang ia kehilangan independensi karena terlalu menikmati akses. Karena itu, ancaman terbesar bagi seorang kritikus yang masuk Istana bukan semata-mata tekanan politik, melainkan kemungkinan bahwa ia perlahan mulai membenarkan apa yang dahulu ia pertanyakan. Kritik tidak mati ketika seseorang masuk kekuasaan; kritik mati ketika keberanian untuk berbeda pendapat ikut ditinggalkan di pintu Istana.

 

Maka publik juga harus memberikan ruang yang fair. Jangan setiap kedekatan dengan Presiden langsung dianggap sebagai pengkhianatan terhadap gagasan. Sebaliknya, jangan pula setiap kritik Rocky setelah berada di Istana otomatis dianggap sebagai bukti independensi. Keduanya sama-sama harus diuji. Demokrasi membutuhkan skeptisisme, tetapi skeptisisme juga harus tunduk pada fakta. Rocky berhak membuktikan dirinya melalui kerja; publik berhak menilai melalui hasil. Bukan meme, bukan cibiran, bukan pujian—melainkan rekam jejak. Pada akhirnya, persoalan Rocky Gerung bukan sekadar tentang seorang filsuf yang masuk Istana. Ini adalah ujian yang lebih besar tentang hubungan antara intelektualitas, kritik, dan kekuasaan.

 

Kekuasaan membutuhkan kritik agar tidak kehilangan cermin; kritik membutuhkan independensi agar tidak berubah menjadi legitimasi. Rocky kini berada di tempat yang memungkinkan keduanya bertemu. Jika ia mampu membawa keberanian berpikir ke ruang keputusan, maka kritik memperoleh kesempatan untuk menjadi koreksi kebijakan. Jika sebaliknya, publik tentu akan mencatat perubahan itu. Sebab pada akhirnya, masuk Istana bukanlah bukti bahwa seorang kritikus telah kehilangan kebebasan. Tetapi tetap merdeka setelah berada di dalam Istana—itulah pembuktian yang sesungguhnya. Yus/Chris

  • Penulis: radarekonomi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ekonomi Indonesia Tumbuh Stabil: Dukungan dari Ekspansi Manufaktur dan Stabilitas Harga

    Ekonomi Indonesia Tumbuh Stabil: Dukungan dari Ekspansi Manufaktur dan Stabilitas Harga

    • calendar_month Rab, 12 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 475
    • 0Komentar

    Indonesia terus menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi yang kuat, dengan sektor manufaktur menjadi salah satu pendorong utama. Pada awal tahun 2025, angka Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur naik ke level 51,9 pada Januari, meningkat dari 51,2 di bulan sebelumnya. Angka ini mencerminkan bahwa sektor manufaktur tetap berkembang meskipun menghadapi tantangan global. Kenaikan PMI ini juga menandai […]

  • Cara Mendapatkan Uang dari Facebook dengan Upload Video: Panduan Lengkap 2024

    Cara Mendapatkan Uang dari Facebook dengan Upload Video: Panduan Lengkap 2024

    • calendar_month Rab, 7 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 358
    • 0Komentar

    Di era digital yang semakin berkembang, banyak orang mencari cara untuk menghasilkan uang secara online. Salah satu metode yang populer adalah dengan memanfaatkan media sosial seperti Facebook. Dengan upload video, Anda bisa tidak hanya berbagi konten menarik, tetapi juga menghasilkan pendapatan tambahan. Berikut panduan lengkap cara mendapatkan uang dari Facebook dengan upload video. Pertama-tama, penting […]

  • Analisis Harga Saham ADRO Hari Ini: Update Terkini dan Prediksi Pergerakan

    Analisis Harga Saham ADRO Hari Ini: Update Terkini dan Prediksi Pergerakan

    • calendar_month Sab, 22 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 590
    • 0Komentar

    Saham ADRO, yang merupakan singkatan dari PT Alamtri Resources Indonesia Tbk, terus menjadi perhatian para investor di pasar modal Indonesia. Dengan berbagai faktor yang memengaruhi harga saham, seperti kondisi ekonomi nasional, kinerja keuangan perusahaan, dan situasi pasar secara umum, analisis teknikal menjadi salah satu alat penting untuk menilai potensi pergerakan saham hari ini. Dalam analisis […]

  • Sinergitas Ojol Sumut Ciptakan Ruang Publik yang Aman dan Kondusif

    Sinergitas Ojol Sumut Ciptakan Ruang Publik yang Aman dan Kondusif

    • calendar_month Sel, 4 Agu 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Radarekonomi.com, Medan – Komunitas pengemudi ojek online (ojol) di Sumatera Utara menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan kepolisian dan seluruh pemangku kepentingan dalam menciptakan ruang publik yang aman, tertib, dan kondusif bagi masyarakat. Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan silaturahmi dan dialog yang dihadiri perwakilan berbagai komunitas ojol di Sumatera Utara. Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh […]

  • Likuiditas Perbankan Dinyatakan Optimal untuk Mendukung Kredit: Analisis Terkini

    Likuiditas Perbankan Dinyatakan Optimal untuk Mendukung Kredit: Analisis Terkini

    • calendar_month Kam, 6 Nov 2025
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 380
    • 0Komentar

    Di tengah dinamika perekonomian yang terus berkembang, likuiditas perbankan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan sistem keuangan suatu negara. Di Indonesia, berbagai lembaga keuangan dan bank terus memantau kondisi likuiditas mereka agar dapat memberikan dukungan optimal bagi sektor kredit. Tidak hanya itu, likuiditas yang baik juga menjadi pondasi kuat dalam menjaga stabilitas ekonomi […]

  • Motto Pariwisata Provinsi DKI Jakarta dan Maknanya bagi Wisatawan

    Motto Pariwisata Provinsi DKI Jakarta dan Maknanya bagi Wisatawan

    • calendar_month Sen, 5 Jan 2026
    • account_circle radarekonomi
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Jakarta, ibukota negara Indonesia, tidak hanya menjadi pusat pemerintahan tetapi juga menjadi salah satu destinasi pariwisata utama di Nusantara. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat akan pengalaman yang lebih beragam, sektor pariwisata DKI Jakarta semakin mendapat perhatian. Dalam konteks ini, motto pariwisata Provinsi DKI Jakarta memiliki peran penting sebagai identitas dan visi untuk menarik […]

expand_less